Showing posts with label SHALAT BERJAMA'AH ADALAH WAJIB. Show all posts
Showing posts with label SHALAT BERJAMA'AH ADALAH WAJIB. Show all posts

Wednesday, June 8, 2011

Mengenal Nama dan Sifat Allah

Pembaca yang budiman, ilmu tentang mengenal Alloh dan Rosul-Nya merupakan ilmu yang paling mulia. Imam Ibnul Qoyyim rohimahulloh mengatakan, “Kemuliaan sebuah ilmu mengikuti kemuliaan objek yang dipelajarinya.” Dan tentunya, tidak diragukan lagi bahwa pengetahuan yang paling mulia, paling agung dan paling utama adalah pengetahuan tentang Alloh di mana tiada ilah (sesembahan) yang berhak disembah kecuali Dia semata, Robb semesta alam.

Ilmu Tentang Alloh Adalah Pokok dari Segala Ilmu

Ilmu tentang Alloh adalah pokok dan sumber segala ilmu. Maka barangsiapa mengenal Alloh, dia akan mengenal yang selain-Nya dan barangsiapa yang jahil tentang Robb-nya, niscaya dia akan lebih jahil terhadap yang selainnya. Alloh Ta’ala berfirman yang artinya, “Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Alloh, lalu Alloh menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri.” (Al-Hasyr: 19). Ketika seseorang lupa terhadap dirinya, dia pun tidak mengenal hakikat dirinya dan hal-hal yang merupakan kemaslahatan (kebaikan) bagi dirinya. Bahkan ia lupa dan lalai terhadap apa saja yang merupakan sebab bagi kebaikan dan kemenangannya di dunia dan di akhirat. Maka, jadilah dia seperti orang yang ditinggalkan dan ditelantarkan, yang berstatus seperti binatang ternak yang dilepas dan dibiarkan pergi sekehendaknya, bahkan mungkin saja binatang ternak lebih mengetahui kepentingan dirinya daripadanya.

Imam Ibnul Qoyyim rohimahulloh berkata, “Manusia yang paling sempurna ibadahnya adalah seorang yang beribadah kepada Alloh dengan semua nama dan sifat-sifat Alloh yang diketahui oleh manusia”. Beliau juga berkata, “Yang jelas, bahwa ilmu tentang Alloh adalah pangkal segala ilmu dan sebagai pokok pengetahuan seorang hamba akan kebahagiaan, kesempurnaan dan kemaslahatannya di dunia dan di akhirat.” (Miftaah Daaris Sa’aadah).

Hampir Setiap Ayat Dalam Al-Qur’an Menyebutkan Nama dan Sifat Alloh

Alloh telah memperkenalkan diri-Nya kepada hamba-hamba-Nya dengan memberitahukan nama-nama-Nya yang paling indah dan sifat-sifat-Nya yang paling mulia. Semua itu disebutkan dalam Kitab-Nya dan Sunnah Rosul-Nya. Bahkan kita jumpai, hampir pada setiap ayat Alqur’an yang kita baca selalu berakhir dengan peringatan atau penyebutan salah satu dari nama-nama Alloh atau salah satu dari sifat-sifat-Nya. Sebagai contoh, firman Alloh yang artinya, “…Sesungguhnya Alloh Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (At-Taubah: 5) dan juga firman-Nya yang artinya, “…Dan Alloh Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (An-Nisaa’: 17)

Hal ini semua disebabkan karena nama-nama yang terbaik dan sifat-sifat yang mulia ini memiliki daya pengaruh dan membekas dalam hati seorang yang mengetahui-Nya, hingga ia selalu merasa terawasi oleh Alloh dalam segala aspek kehidupannya. Dengan demikian, sempurnalah rasa malunya dari bermaksiat kepada Alloh.

Yang Paling Takut Kepada Alloh Adalah yang Paling Mengenal Alloh

Semakin tinggi pengetahuan seorang hamba kepada Robb-nya, maka ia akan semakin takut kepada-Nya. Alloh berfirman, “Sesungguhnya yang takut kepada Alloh di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah para ulama.” (Faathir: 28)

Orang yang paling mengenal dan paling mengetahui Alloh adalah Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam. Oleh karena itu, beliau senantiasa dalam keadaan takut dari perbuatan durhaka terhadap Robb-nya, dan tentu kita telah mengetahui siapa beliau. Karena Alloh telah memerintahkannya untuk mengatakan, “Katakanlah: ‘Sesungguhnya aku takut akan adzab hari yang besar (hari Kiamat), jika aku mendurhakai Robbku’.” (Al-An’aam: 15)

Sebab, ahli tauhid yang benar-benar mengenal Alloh memandang bahwa kemaksiatan itu, meskipun kecil, ibarat sebuah gunung yang sangat besar. Karena mereka mengetahui keagungan Dzat (Rabb) yang Maha Esa serta Maha Kuasa dan mengenal hak-hak-Nya, oleh sebab itu, mereka menjadi orang-orang yang paling takut kepada-Nya di antara manusia.

Kebodohan Akan Keagungan Alloh Adalah Induk Kemaksiatan

Dari Abul ‘Aliyah, beliau pernah bercerita bahwa para Shahabat Rosululloh mengatakan, “Setiap dosa yang dikerjakan seorang hamba, penyebabnya adalah kejahilan.” (Diriwayatkan oleh Imam Ibnu Jarir, dengan sanad yang shahih)

Imam Ibnu Taimiyyah rohimahulloh berkata, “Setiap pelaku kemaksiatan adalah seorang jahil dan setiap orang yang takut kepada-Nya adalah seorang alim yang taat kepada Alloh. Dia menjadi seorang yang jahil hanya karena kurangnya rasa takut yang dimilikinya, kalau saja rasa takutnya kepada Alloh sempurna, pastilah dia tidak akan bermaksiat kepada-Nya.”

Syirik merupakan kemaksiatan yang terbesar di antara maksiat yang ada. Tidaklah manusia berbuat syirik kecuali memang karena ia bodoh dalam pengenalannya terhadap Tuhannya. Oleh karena itu, ketika Nabi Nuh ‘alaihis salaam mengajak kaumnya (kepada tauhid) lalu mereka menolaknya, maka beliau pun mengetahui bahwa penolakan tersebut disebabkan karena ketidaktahuan mereka akan kebesaran Alloh. Alloh Ta’ala berfirman yang artinya, “Mengapa kamu tidak percaya akan kebesaran Alloh?” (Nuuh: 13). Ibnu Abbas berkata dalam menafsirkan ayat ini, “Kalian tidak mengetahui keagungan atau kebesaran-Nya.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir melalui beberapa jalan yang saling menguatkan)

Apa yang dikatakan di atas sangat beralasan, karena seandainya manusia mengenal Alloh dengan sebenarnya, niscaya mereka tidak terjerat dalam kesyirikan mempersekutukan Alloh dengan sesuatu. Sebab, segala kebaikan berada di tangan-Nya, maka bagaimana mungkin mereka bersandar kepada selain-Nya?

Nama Alloh Semuanya Husna

Nama-nama Alloh semuanya husnaa, maksudnya, mencapai puncak kesempurnaannya. Karena nama-nama itu menunjukkkan kepada pemilik nama yang mulia, yaitu Alloh Subhaanahu wa Ta’ala dan juga mengandung sifat-sifat kesempurnaan yang tidak ada cacat sedikit pun ditinjau dari seluruh sisinya. Alloh Ta’ala berfirman yang artinya, “Hanya milik Alloh-lah nama-nama yang husna.” (Al-A’roof: 18)

Kewajiban kita terhadap nama-nama Alloh ada tiga, yaitu beriman dengan nama tersebut, beriman kepada makna (sifat) yang ditunjukkan oleh nama tersebut dan beriman dengan segala pengaruh yang berhubungan dengan nama tersebut. Maka, kita beriman bahwa Alloh adalah Ar-Rohiim (Yang Maha Penyayang), memiliki sifat rahmah (kasih sayang) yang meliputi segala sesuatu dan menyayangi semua hamba-Nya.

Nama dan Sifat Alloh Tidak Dibatasi Dengan Bilangan Tertentu

Hal ini berdasarkan sabda Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam, “Aku memohon kepada Engkau dengan semua nama yang menjadi nama-Mu, baik yang telah Engkau jadikan sebagai nama diri-Mu atau yang Engkau ajarkan kepada seseorang dari makhluk-Mu atau Engkau turunkan dalam kitab-Mu atau Engkau sembunyikan menjadi ilmu ghaib di sisi-Mu.” (HR. Ahmad, Ibnu Hibban, Al-Hakim, shahih). Tidak ada seorang pun yang dapat membatasi dan mengetahui apa yang masih menjadi rahasia Alloh dan menjadi perkara yang ghaib.

Adapun sabda beliau, “Sesungguhnya Alloh memiliki 99 nama, yaitu seratus kurang satu. Barangsiapa yang menghafal dan faham maknanya, niscaya masuk syurga.” (HR. Bukhari-Muslim) tidak menunjukkan pembatasan nama-nama Alloh dengan bilangan sembilan puluh sembilan. Makna yang benar adalah, sesungguhnya nama-nama Alloh yang 99 itu, mempunyai keutamaan bahwa siapa saja yang menhafal dan memahaminya akan masuk syurga.

Demikianlah, semoga kita benar-benar mengenal Alloh dengan sebenar-benar pengenalan dan mengagungkan Alloh dengan sebenar-benar pengagungan sehingga bisa menyelamatkan kita dari berbuat syirik kepada-Nya.

Tuesday, May 24, 2011

SHALAT BERJAMA'AH ADALAH WAJIB

Segala puji hanya bagi Allah, shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah atas Rasullullah S.A.W beserta keluarga, para sahabat dan orang-orang loyal kepadanya. Dalam sebuah hadist yang paling kita kenal, yang mana beliau bersabda:

Shallu Kama Ra’aiytumuni u Shalli
Artinya: “Shalatlah kamu sekalian sebagaimana kalian melihat aku shalat” (H.R Bukhari Muslim dari Malik Ibnu Huwairits)

Ini merupakan sebuah instruksi dari beliau supaya kita meneladani shalat beliau S.A.W, dimana shalat beliaulah yang paling lengkap dan paling sempurna.

Dalam melaksanakan shalat yang telah diwajibkan kepada setiap pribadi muslim, nabi S.A.W telah mencontohkan kepada kita, bagaimana cara shalat yang bermakna dan bernilai disisi Allah S.W.T. banyak hadist yang menunjukan akan pentingnya melaksanakan shalat berjama’ah. Sebagaimana sabda beliau:

Shalatul Jama’ati tufadhdhilu shalatal faddi bisab’in wa’isyrina darajat.
Artinya: “Shalat berjama’ah lebih utama dari pada shalat sendirian dengan 27 derajat”

Ini menunjukan akan tingginya nilai jika ibadah shalat dilakukan secara berjama’ah. Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Usman R.A. beliau bersabda:
Barang siapa yang menghadiri shalat ‘isya, maka seakan-akan dia telah berdiri beribadah setengah malam. Dan barang sipa yang menghadiri shalat subuh, maka seakan-akan dia berdiri beribadah semalaman.

Bahkan dalam hadist lainnya beliau memperlihantkan kemarahannya kepada orang-orang yang tidak mau mengahiri (memenuhi) panggilan adzan untuk melaksanakan shalat berjama’ah. Beliau bersabda:

Man sami’annida a falam ya’tihi fala shalata lahu illa min ‘ulrin
Artinya: Barang siapa yang mendengar panggilan adzan, tetapi ia tidak mendatanginya maka tidak ada shalat baginya (H.R Ibnu Majah 793, Ibnu Hibban 2064)

Dan juga beliau bersabda:

Demi zat dan jiwaku yang berada ditanganNya, sungguh sebenarnya aku ingin memerintahkan (kaum muslimin) agar mengumpulkan kayu Bakar lalu diikat. Kemudian aku perintahkan agar shalat berjama’ah didirikan. Sehinnga adzanpun di kumandangkan. Setelah itu, aku akan perintahkan seseorang supaya meng imami kaum muslimin, selanjutnya aku akan mendatangi kaum laki-laki yang tidak ikut shalat berjama’ah. Lalu aku bakar semua rumah mereka (H.R Bukhari 7224, Muslim 651, Ibnu Majah 791)

Ada seseorang yang buta biasa shalat berjama’ah bersama nabi dimasjidnya. Beberapa waktu ia tidak hadir menghadiri shalat berjama’ah bersama nabi. Suatu kali dia menghadap kepada nabi S.A.W menyampaikan keluhannya karena tidak dapat hadir pada shalat berjama’ah bersama nabi. Dia meminta rubshah kepada nabi agar di izinkan shalat dirumah saja. Karena rumahnya yang jauh dan penuntunnya bermasalah. Beliau bersabda:

Hal tasma u nidha a bishshalat? Qala: Na’am, Qala : Fa ajib
Artinya: “Apa engkau mendengar seruan untuk shalat?” Ia menjawab: “ya, betul”. Beliau bersabda: “maka penuhilah seruan itu.” (H.R Muslim 635, Ibnu Hibban 2063)

Ibnu mahmud R.A, sebagaiman diriwayatkan Muslim, juga berkata:

Walaqad Ra’aytuna wama yatakhallafu ‘anha illa munafiqun ma’luum
Artinya: “Sungguh kami telah melihat bahwa tidak ada seorangpun yang meninggalkan shalat, kecuali ia adalah seorang munafiq yang sudah mafhum kemunafikannya”

Wahai kaum muslimin, shalat berjama’ah hukumnya adalah wajib bagi semua laki-laki yang baligh dan berakal. Terkecuali ada uzur syar’i yang membolehkan, misalnya: karena dalam ke’adaan sakit, hujan deras, situasi yang tidak kondusif, tempat tinggal yang sangat jauh, karena takut kehilangan harta dan gangguan dari orang yang melakukan kejahatan. Di bolehkan untuk melaksanakan shalat berjama’ah dirumah, dimana ia berada.

Untuk lebih jelasnya kefardhuan shalat berjama’ah, marilah kita lihat pendapat para fuqhaha. Para fuqhaha berselisih paham tentang hukum berjama’ah dimasjid untuk shalat fardhu:

Pertama: Kata imam Asy Syafi’I dalam mukhtashar al-muzany:
Wa ammal jama’atu fala urakhishu fitarkiha illa min udzrin
Artinya: “Adapun shalat berjama’ah, maka saya tidak ma’afkan seseorang meninggalkannya, kecuali karena uzur”

Kedua: Kata kebanyakan pengikut Imam Abu Hanifah, Imam Malik dan Imam Asy Syafi’I:
“Bahwasanya berjama’ah pada shalat fardhu di masjid, hukumnya fardhu khifayah.“

Ketiga: kata Imam Abu Hanifah dan Imam Malik:
“Shalat berjama’ah di masjid itu hukumnya sunat mu’akad”

Keempat: Kata Daud bin Ali:
“Berjama’ah pada shalat fardhu di masjid, hukumnya fardhu dan syarat sah shalat”

Kelima: Kata Ali Ibn Abu Thalib R.A:
“Barang siapa dari tetangga-tetangga masjid mendengar seruan adzan lalu dia tidak memenuhinya, sedang iapun sehat dan tidak uzur, maka tak ada shalat baginya (H.R Ahmad dari Ibn Mas’ud)

Adapun pendapat para sahabat, terutama Umar R.A berkata:
Bahwasanya umar pada suatu waktu tidak mendapati seseorang lelaki didalam jama’ah shalat yang sedang didirikan, maka datanglah umar kerumah orang yang tidak menghadiri jama’ah itu, lalu beliau memanggilnya, setelah orang itu keluar dan menemui Umar, segera Umar bertanya: “Apakah yang menghalangi engkau tidak menghadiri shalat berjama’ah?” orang itu menjawab “saya sakit wahai Amirulmu’minin, sekiranya bukan suara tuan yang saya dengar, saya tidak keluar” mendengar itu Umar berkata: “Engkau tinggalkan seruan yang lebih wajib, engkau sahuti dari pada seruan Umar ini yaitu penyeru Allah S.W.T”

Sabda nabi S.A.W
Barang siapa yang shalat berjama’ah karna Allah S.W.T selama 40 hari dalam keadaan selalu menjumpai takbiratul ikhram pertama bersama imam, niscaya dicatatkan baginya dua kebebasan, yaitu bebas dari neraka dan bebas dari kemunafiqan (H.R Thurmudzi)

Setiap langkah ke Masjid untuk menghadiri (melaksanakan) shalat berjama’ah, akan diberi pahala dan dihisab. Setiap langkah diberi pahala satu kebaikan dan menghapus satu kesalahan sebagaimana ditunjukkan hadits dari Abu Hurairah (H.R Mutafaq’alaih 465 dan 649)

Rasullullah S.A.W bersabda

Artinya: jika seseorang berwudhu’ dengan baik, lalu keluar kemasjid hanya untuk menunaikan shalat berjama’ah, maka setiap kali ia melangkah dianagkat satu derajatnya dan dihapus satu kesalahannya (H.R Mutafaq’alaih 465, 469)

Sejak seseorang muslim masuk kemasjid untuk melaksanakan shalat berjama’ah, maka malaikat memohonkanm ampun baginya. Didalam hadits sahih diterangkan:

Seseorang dinilai sedang mengerjakan shalat selama ia berada di masjid untuk menunggu shalat berjama’ah dan malaikat berkata “Ya Allah ampunilah dia, kasihanilah dia sampai dia pergi atau berhadas) (H.R Bukhari 3057, Muslim 649)

Shalat berjama’ah membuat orang saling mengenal, mengasihi dan berkomunikasi. Sebab, orang sekitarnya mengetahui orang yang sakit, terdesak kebutuhan, dan meninggal dunia. Berkat komunikasi mereka di masjid sehingga merekapun dapat melakukan kewajiban yang ditetapkan syariat, yaitu menengok, membantu dan berta’ziah kepada orang-orang tersebut