Showing posts with label Kumpulan Artikel Mengenai Poso Berdarah Tragedi Kemanusiaan. Show all posts
Showing posts with label Kumpulan Artikel Mengenai Poso Berdarah Tragedi Kemanusiaan. Show all posts
Sunday, June 12, 2011
ASAL MULA POHON NATAL
10:00 PM
Asal Mula Pohon Natal, Kafir, Kumpulan Artikel Mengenai Poso Berdarah Tragedi Kemanusiaan, Nasrani, Pembantai Muslim Poso, Tragedi Kemanusiaan
No comments
Sekarang dari manakah kita mendapatkan kebiasaan memasang
pohon Natal itu? Di antara para penganut agama Pagan kuno,
pohon itu disebut "Mistletoe" yang dipakai pada saat
perayaan musim panas, karena mereka harus memberikan
persembahan suci kepada matahari, yang telah memberikan
mukjizat penyembuhan. Kebiasaan berciuman di bawah pohon itu
merupakan awal acara di malam hari, yang dilanjutkan dengan
pesta makan dan minum sepuas-puasnya, sebagai perayaan yang
diselenggarakan untuk memperingati kematian "Matahari Tua"
dan kelahiran "Matahari Baru" di musim panas.
Rangkaian bunga suci yang disebut "Holly Berries" juga
dipersembahkan kepada dewa Matahari. Sedangkan batang pohon
Yule dianggap sebagai wujud dari dewa matahari. Begitu pula
menyalakan lilin yang terdapat dalam upayara Kristen
hanyalah kelanjutan dari kebiasaan kafir, sebagai tanda
penghormatan terhadap dewa matahari yang bergeser menempati
angkasa sebelah selatan.
Encyclopedia Americana menjelaskan sebagai berikut:
"The Holly, the Mistletoe, the Yule log …are relics of pre-Christian times." "Rangkaian bunga Holly, pohon Mistletoe dan batang pohon Yule…yang dipakai sebagai penghias malam Natal adalah warisan dari zaman sebelum Kristen."
Sedangkan buku Answer to Question yang ditulis oleh
Frederick J. Haskins menyebutkan bahwa:
"The use of Christmas wreath is believed by authorities to be traceable to the pagan customs of decorating buildings and places of worship at the feast which took place at the same time as Christmas. The Christmas tree is from Egypt, and its origin date from a period long anterior to the Christian Era." "Hiasan yang dipakai pada upacara Natal adalah warisan dari adat agama penyembah berhala (paganisme), yang menghiasi rumah dan tempat peribadatan mereka yang waktunya bertepatan dengan malam Natal sekarang. Sedangkan pohon Natal berasal dari kebiasaan Mesir Kuno, yang masanya lama sekali sebelum lahirnya agama Kristen."
Pemimpin Kelompok "Merah" Dibekuk di Poso
9:45 PM
Al Qur'an - Indonesia, Jejak Kelalawar Hitam, Kristen, Kristen Biadab, Kristologi, Kumpulan Artikel Mengenai Poso Berdarah Tragedi Kemanusiaan, Nasrani, Pembantai Muslim Poso, Pemimpin Kelompok "Merah" Dibekuk di Poso
4 comments
Pemimpin Kelompok "Merah" Dibekuk di Poso
Reporter: Iwan Triono
detikcom - Jakarta, Pemimpin kelompok "Merah" otak dari
pembantaian ratusan penduduk pada kerusuhan di Poso,
Sulawesi Tengah, Fabianus Tibo (55) dibekuk dalam operasi
intelejen pasukan Cinta Damai di desa Jamur Jaya kecamatan
Lembo (Beteleme) Kabupaten Morowali, Selasa (25/7/2000).
Seperti dikutip LKBN Antara, pimpinan Tim Satgas Operasi
Cinta Damai Kapten Inf Agus Firman Yusmono didampingi
Komandan Tim Penerangan Lettu Inf Agus Salim di Makorem 132
Tadulako, Rabu (26/7/2000), membenarkan tertangkapnya
gembong kelompok Merah yang sangat ditakuti kelompok Putih.
Kapten Firman Yuswono menjelaskan, ikhwal tertangkapnya
Fabianus Tibo -bukan Cornelis Tibo seperti yang diberitakan
selama ini- berawal dari laporan intelejen yang melakukan
penyamaran di kawasan itu sebanyak 17 orang.
Ia mengatakan, gerak-gerik Tibo mulai tercium oleh tim
intelejen pada tanggal 23 Juli lalu dan setelah memastikan
tempat persembunyian buronan tersebut, tim Satgas Cinta
Damai melakukan penyergapan saat Tibo sedang tertidur lelap
di salah satu rumah warga di desa Jamur Jaya tanpa
perlawanan.
Ketika Tibo di bawah ke Poso, Kapten Firman Yuswono
mengatakan, pihaknya sempat dihadang massa kelompok Merah
berkekuatan dua truk, namun tidak terjadi kontak senjata.
Selanjutnya aparat keamanan segera membawa Tibo ke Palu
dengan pengawalan ketat, dan mengamankannya di Makorem 132
Tadulako.
Dari hasil pemeriksaan sementara di Makorem 132, Tadulako
Tibo mengakui telah membantai sendiri 40 orang warga Poso
yang tersebar ditiga desa yaitu desa Sepe Silanca Kecamatan
Lage, serta Kelurahan Moengko dan Kelurahan Sayo Kecamatan
Poso Kota.
"Benar, saya melakukan pembantaian terhadap 40 orang warga Poso di tiga desa itu pada saat berlangsung kerusuhan," kata Tibo.
Tibo juga mengakui, selain dirinya selaku komandan
pasukan juga masih ada sekitar sepuluh pimpinan massa
kelompok Merah yang selalu bertindak sebagai pimpinan di
lapangan di antaranya Rimus dan Agustisasal Poso serta
Dominggus Soares dari Flores.
Ia juga menyinggung keterlibatan oknum aparat keamanan
yang memberikan dukungan di lapangan saat terjadinya
kerusuhan tersebut.
Setelah menjalani pemeriksaaan di Makorem 132 Tadulako
diserahkan ke Polda Sulteng. Kerusuhan Poso yang sudah
berlangsung tiga babak itu menyebabkan 4000 rumah penduduk
termasuk fasilitas umum hancur dirusak/dibakar massa dan
ratusan jiwa melayang dikedua kubu yang bertikai yakni
kelompok Merah dan kelompok Putih.
Jejak Kelalawar Hitam, Pembantai Muslim Poso
9:42 PM
Debat antara pendeta dan Pemuda Islam, Jejak Kelalawar Hitam, Kristen, Kristen Biadab, Kristologi, Kumpulan Artikel Mengenai Poso Berdarah Tragedi Kemanusiaan, Nasrani, Pembantai Muslim Poso, Tragedi Kemanusiaan
31 comments
Ratusan Muslim Poso dibantai, pelakunya adalah kelompok
orang terlatih bernama Kelalawar Hitam. Investigasi Sahid di
lapangan menunjukkan selain dipicu persoalan politik lokal
ada keterlibatan tokoh-tokoh di Jakarta.
Puluhan warga Pesantren Walisongo itu dibariskan
menghadap Sungai Poso. Mereka dihimpun dalam beberapa
kelompok yang saling terikat. Ada yang tiga orang, lima,
enam atau delapan orang. Para pemuda digabungkan dengan
pemuda dalam satu kelompok. Tangan mereka semua terikat ke
belakang dengan kabel, ijuk, atau tali rafiah yang satu
dengan lainnya saling ditautkan.
Sebuah aba-aba memerintahkan agar mereka membungkuk.
Secepat kilat pedang yang dipegang para algojo haus darah
itu memenggal tengkuk mereka. Bersamaan dengan itu,
terdengar teriakan takbir. Ada yang kepalanya langsung
terlepas, ada pula yang setengah terlepas. Ada yang anggota
badannya terpotong, ada pula badannya terbelah. Darah
segarpun muncrat. Seketika itu pula tubuh-tubuh yang tidak
berdosa itu berjatuhan ke sungai.
Bersamaan dengan terceburnya orang-orang yang dibantai
itu, air sungai Poso yang sebelumnya bening berubah warna
menjadi merah darah. Sesaat tubuh orang-orang yang dibantai
itu menggelepar meregang nyawa sambil mengikuti aliran
sungai. Tidak semuanya meninggal seketika, masih ada yang
bertahan hidup dan berusaha menyelamatkan diri. Namun regu
tembak siap menghabisi nyawa korban sebelum mendapatkan
ranting, dahan, batang pisang, atau apapun untuk
menyelamatkan diri.
Itulah salah satu babak dalam tragedi pembantaian ummat
Islam di Poso, Sulawesi Tengah beberapa waktu lalu. Warga
Pesantren Walisongo merupakan salah satu sasaran yang
dibantai. Di komplek pesantren yang terletak di Desa
Sintuwulemba, Kecamatan Lage, Poso ini tidak kurang 300-an
orang yang tinggal. Mulai dari ustadz , santri, pembina, dan
istri pengajar serta anak-anaknya.
Tidak satupun orang yang tersisa di komplek pesantren
itu. Sebagian besar dibantai, sebagian lainnya lari ke hutan
menyelamatkan diri. Bangunan yang ada dibakar dan diratakan
dengan tanah. Pesantren Poso hanya tinggal puing-puing
belaka.
Ilham (27) satu-satunya ustadz Pesantren Walisongo yang
turut dibantai namun selamat setelah
mengapung beberapa kilometer mengikuti aliran sungai
Poso, menuturkan kepada Sahid, sebelum dibantai mereka
mengalami penyiksaan terlebih dahulu. Mereka dikumpulkan di
dalam masjid Al Hirah. Di sanalah warga pesantren Walisongo
yang sudah menyerah itu dibantai. Ada yang ditebas lehernya,
dipotong anggota badannya, sebelum akhirnya diangkut truk ke
pinggir Sungai Poso.
Sungai Poso menjadi saksi bisu pembantaian ummat Islam,
khususnya warga Pesantren Walisongo. Mayat-mayat mereka
hanyut di Sungai Poso dan terbawa entah sampai ke mana.
Belum ada angka yang pasti jumlah korban dalam pembantaian
itu.
Seorang warga Kelurahan Kayamanya, Kecamatan Poso Kota,
Syahrul Maliki, yang daerahnya dilewati aliran sungai Poso
dan terletak sembilan kilometer dari ladang pembantaian,
menuturkan kepada Sahid, Dari pagi hingga siang saja, saya
menghitung ada 70-an mayat yang hanyut terbawa arus,
berikutnya saya tidak menghitung lagi, katanya. Sementara
Pos Keadilan Peduli Ummat (PKPU) melaporkan jumlah mayat
yang ditemukan di Sungai Poso tidak kurang dari 165 orang.
Tidak hanya lak-laki dewasa, banyak pula yang perempuan,
orang tua, dan anak-anak. Biasanya mayat wanita disatukan
dengan anak-anak. Ada yang cukup diikat, ada pula yang
dimasukkan karung, kata Syahrul. Sebagian besar mayat sudah
rusak akibat siksaan.
Menurut Ilham, sebelum diserang, warga pesantren diteror
oleh Pasukan Merah ini. Komplek Pesantren Walisongo sering
dipanah. Hingga saat ini bekas panah tersebut masih terlihat
jelas.
Pembantainya sudah sangat jelas. Mereka adalah
orang-orang Kristen yang dikenal sebagai Pasukan Kelalawar
Hitam. Dalam aksinya mereka mengenakan pakaian serba hitam.
Salib di dada dan ikat kepala merah. Karena itu pula mereka
sering disebut pula sebagai Pasukan Merah. Pembataian itu
puncak dari hubungan ummat Islam dan Kristen yang kurang
harmonis di kawasan itu.
Tercatat sekitar 200 - 400-an orang yang tewas terbantai.
Dalam laporannya, pihak gereja melalui 'Crisis Center
GKST untuk Kerusuhan Poso' mengakui dikalangan mereka ada
kelompok terlatih yang berpakaian ala ninja ini. Mereka
menyebutnya sebagai 'Pejuang Pemulihan Keamanan Poso'.
Ada ciri-ciri yang sama ketika kelompok merah menyerang.
Mereka selalu mengenakan pakaian ala ninja yang serba hitam,
semua tertutup kecuali mata. Mereka juga mengenakan atribut
salib di dada dan ikat kepala merah. Mayat-mayat juga
ditemukan selalu dalam kondisi rusak akibat siksaan atau
sengaja dicincang hingga tidak dikenal identitasnya. Dalam
berbagai penyerangan pasukan merah selalu di atas angin.
Karena itu sebagian besar korbannya adalah orang-orang
muslim.
Selain di Pesantren Walisongo penyerangan dan pembantaian
juga dilakukan di sejumlah tempat. Tercatat 16 desa yang
penduduknya mayoritas Muslim kampungnya hancur dan terbakar.
Dari arah selatan Poso, kerusakan hingga mencapai Tentena.
Dari arah Timur hingga Malei. Dari arah barat hingga
Tamborana.
Temuan Komite Penanggulangan Krisis (Kompak) Ujungpandang
yang melakukan investigasi di Poso menunjukkan adanya
keterlibatan gereja dalam beberapa kerusuhan. Buktinya
Sebelum mereka melakukan penyerangan, mereka menerima
pemberkatan dari gereja, kata Agus Dwikarna, ketua Kompak
Ujungpandang.
Misalnya pemberkatan yang dilakukan Pendeta Leniy di
gereja Silanca (8/6/00) dan Pendeta Rinaldy Damanik di
halaman Puskesmas depan Gereja Sinode Tentena. Selain kepada
pasukan Kelelawar Hitam, pemberkatan juga diberikan kepada
para perusuh. Pemberkatan ini memberikan semangat dan
kebencian yang tinggi masyarakat Kristen kepada ummat Islam.
Yang menarik menurut Agus, meskipun mereka mengakui telah
membumi hanguskan seluruh perkampungan ummat Islam dan
membantai masyarakatnya, Pendeta R Damanik dan Advent Lateka
mengadukan ummat Islam sebagai provokator.
Kini kabupaten yang dikenal sebagai penghasil kakau
terbesar ini nyaris seperti kota mati karena ditinggal
penduduknya mengungsi, bangunan yang ditinggalkan hanya
tersisa puing-puing yang beserakan.
Penyerangan terhadap ummat Islam yang berlangsung sejak
tanggal 23 Mei lalu, merupakan pertikaian ketiga antara
Islam Kristen di Poso. Pertikaian pertama berlangsung pada
Desember 1998. Enam belas bulan kemudian, 15 April 2000
pertikaian meledak lagi, yang dipicu perkelaian pemuda
Kelurahan Kamayanya (muslim) dengan Lambogia (Kristen).
Dalam penyerangan kali ini kelompok merah yang bergabung
dalam pasukan Kelelawar Hitam dipimpin oleh Cornelis Tibo
asal Flores menyerang kampung Muslim Kayamanya. Mereka
memukul-mukul tiang listrik hingga memancing kemarahan ummat
Islam. Selanjutnya mereka mengaiaya ummat Islam di situ dan
membunuh Serma Komarudin.
Ummat Islam yang marah mengejar Pasukan Kelelawar Hitam
yang lari ke Gereja Katolik Maengkolama. Karena bersembunyi
di gereja itu ummat Islam yang marah membakar gereja yang
dijadikan tempat persembunyian itu.
Salah satu yang dianggap menjadi penyebab pertikaian
adalah konflik politik lokal. Perebutan jabatan Bupati Poso
pada Desember 1998 merupakan salah satunya. Herman Parino,
tokoh Kristen, gagal merebut jabatan. Namun Herman Parino
dan para pendukungnya menuduh Arif Patangga, bupati yang
hendak digantikannya, muslim, merekayasa gagalnya Parino.
Karena jengkel, Parino menggalang massa untuk menyerang
rumah Patangga. Namun rencana itu sudah tercium sebelumnya,
para pendukung Patangga tidak diam dan bersiap menyambut.
Bentrokan tidak terelakkan lagi. Dua hari kemudian giliran
pendukung Patangga menyerang rumah Parino di desa Tentena.
Dalam kerusahan itu polisi langsung menangkap tokoh dari
kedua belah pilah, Herman Parino dan Agfar Patangga, adik
kandung Arif Patangga yang dianggap memprovokasi massa.
Nampaknya penangkapan Herman Parino yang merupakan tokoh
Kristen yang dihormati membuat pendukungnya kecewa. Apalagi
Herman lantas dijatuhi hukuman, meskipun Agfar juga dijatuhi
hukuman oleh pengadilan negeri Poso. Kasus inilah yang
menjadi api dalam sekam. Maka ketika terjadi perkelaian
pemuda Islam dan Kristen yang mabuk pada pertengahan April
2000 lalu, kerusuhan pun tidak dapat terhindarkan.
Dipicu kerusuhan pada bulan April, tanggal 23 Mei 2000
pasukan merah melakukan penyerangan ke beberapa perkampungan
muslim. Pertikaian tidak hanya sebatas para pendukung Herman
Parino dan Arif Patangga. Perkampungan Muslim yang tidak ada
kaitannya dengan kerusuhan sebelumnya ikut dihancurkan,
warganya dibantai, perempuannya diperkosa.
Selain konflik lokal, sumber intelejen menyatakan bahwa
kerusuhan di Poso juga terkait dengan tokoh-tokoh di
Jakarta. Salah satu kekuatan yang bermain itu adalah
kelompok Soeharto. Indikasinya jika proses hukum Soeharto
meningkat, tingkat kerusuhan meningkat. Temuan di lapangan
menunjukkan keterlibatan sekitar 70-an purnawirawan TNI
dalam melatih pasukan merah. Karena itulah pasukan merah
sangat mahir dalam menggunakan berbagai senjata api maupun
tangan kosong.
Pihak intelejen menyebutkan, kelompok yang berkepentingan
terhadap kerusuhan di Poso ini juga didukung sumber dana
yang kuat. Kasus beredarnya milyaran uang palsu dan
hilangnya dua kontainer kertas uang yang hingga kini belum
ditemukan juga sangat terkait dengan berlangsungnya
kerusuhan di Poso ini.
Informasi sumber intelejen tersebut juga dibenarkan oleh
Wakapolda Sulawesi Tengah, Kolonel Zaenal Abidin Ishak, yang
menyatakan keterlibatan 15 anggota Polres Poso dan enam
anggota TNI AD dalam kerusuhan itu. Mereka kini sedang
ditahan untuk pemeriksaan lebih lanjut.
Agus Dwikarna tidak percaya bahwa kerusuhan di Poso hanya
persoalan gagalnya Herman Parino menjadi bupati. Kalau hanya
karena perebutan kursi bupati kenapa ummat Islam yang
dibantai, tanya Agus. Ia yakin ada upaya melenyapkan ummat
Islam dari bumi Poso.
Apapun penyebabnya, kerusuhan Poso menyebabkan trauma
yang mendalam di kalangan orang-orang Muslim di Poso. Sejak
kerusuhan itu ribuan ummat Islam menjadi pengungsi di
negerinya sendiri.
Haryono, laporan Munanshar dan Pambudi (Poso)
Kisah Pengasuh Ponpes Wali Songo Poso Yang Selamat Diikat dan Disiksa, Lolos Lewat Sungai
9:37 PM
Debat antara pendeta dan Pemuda Islam, Kristen, Kristen Biadab, Kristologi, Kumpulan Artikel Mengenai Poso Berdarah Tragedi Kemanusiaan, Teguh Iman, TRAGEDI Poso
No comments
Kasus pertikaian di Poso tidak hanya membawa korban dan kerugian materil, tapi juga menjadi beban masyarakat lain yang tidak berdosa. Berikut cerita yang disajikan dalam gaya bertutur dari dua pengasuh Pondok Pesantren Wali Songo, Ilham (23) yang selamat dari penyanderaan, setelah Pondok Pesantren (Ponpes) Wali Songo dibumihanguskan.
PADA saat itu hari Kamis (1/6) kami masih berada di hutan
bersama adik-adik (santri, red) yang lain. Setelah
ditangkap, mereka memisahkan kami. Perempuan jalan terus,
sedangkan kami disuruh tetap tinggal di hutan.
Setelah adik-adik santri dan ibu-ibu pergi, kami semua
disuruh buka baju. Tangan kami diikat satu per satu. Jumlah
kami saat itu ada 28 orang, menurut hitungan mereka
(penyandera, red). Terdiri dari enam orang dari pesantren
dan penduduk biasa.
Setelah diikat dengan tali nilon, kabel atau sabut
kelapa, kami digandeng tiap lima orang. Saya sendiri diikat
tiga ikatan. Kami digiring jalan melewati hutan, tembus di
suatu desa Lembomao. Di sana kami berhenti sebentar. Mereka
kayaknya memanggil pemimpinnya. Saat itu juga pemimpinnya
keluar dan memerintahkan anggotanya untuk membawa.
Kami digiring lagi berjalan melewati jembatan gantung
tembus di desa Ranononcu, terus dibawa ke Baruga. Di sana
kami disiksa dalam keadaan berdiri, berbanjar membuat dua
barisan. Setelah itu tangan kami ditambah ikatannya. Saya
sendiri diikat dengan tali sabut kelapa kemudian ditambah
dengan tali nilon warna biru, kemudian diikat dengan kabel.
Setelah itu kami disiksa dengan begitu sadis. Badan kami
diiris-iris, ditendang, dipukul, pokoknya sudah segala macam
penyiksaan, ada yang dipukul dengan gagang pedang, ada yang
dengan popor senjata. Saya sudah tidak tahu lagi dengan alat
apa semua yang mereka gunakan memukul kami.
Setelah disiksa mereka mengeluarkan pertanyaan kepada
kami. pertanyaan pertama. Siapa yang tahu mengaji?
Pertanyaan kedua siapa guru mengaji? Dan yang ketiga, siapa
yang pernah naik mimbar, dan pertanyaan keempat, siapa yang
imam. Pada saat itu, kami tidak ada yang mengaku.
Setelah disiksa, badan-badan kami diiris dan setelah
ditaruh tanah, disiram air panas. Sekitar kurang lebih dua
jam kami disiksa di tempat itu, kami dinaikkan ke mobil.
Mereka tujukan ke arah atas. Menurut pengamatan kami saat
itu ke arah Desa Togolu. Sampai di situ mereka giring ke
pinggir kuala Poso.
Sampai di pinggiran kuala kami disuruh turun. Saya
sendiri loncat dari mobil tersebut. Saya melihat teman saya
sudah dibacok satu orang. Dan saat itu, saya langsung
mengambil keputusan, berlari menuju kuala tersebut yang
jaraknya kurang lebih 10 meter.
Sebelum kami turun dari mobil, mereka sudah berdiri untuk
menjaga kami di pinggir kuala tersebut. Yang anehnya bagi
saya. Mungkin sudah gerakan Allah, pada saat saya lari di
antara mereka tidak ada yang bergerak.
Sekitar satu meter lagi dari pinggiran kuala, saya sudah
terjun. Dan tiba-tiba ikatan yang mengikat tangan saya
terlepas. Setelah saya terjun ke kuala baru mereka mengambil
gerakan. Ada yang menembak, tapi alhamdulillah -saya
berenang, muncul lagi untuk mengambil nafas sedikit, mereka
menembak lagi. Menyelam lagi saya, sampai waktunya sekitar
satu menit, baru saya sampai ke seberang kuala, dalam
kondisi badan saya yang sudah teriris-iris.
Setelah saya sampai, saya langsung naik ke daratan. Lari
ke hutan. Saya perkirakan dan melihat mereka tidak kelihatan
lagi, saya balik ke kuala . Saya masuk melebur kembali
mencari tempat yang aman - mendapatkan pinggir kuala, ada
rumput yang menutup. Saya masuk di semak-semak rumput
tersebut. Badan saya setengah dalam air, setengah di atas.
Dan saat itu mereka mengadakan pencarian pada saya.
Mereka lewat, saya lihat mereka. Tetapi mereka tidak melihat
saya. Pada saat itu waktunya, saya perkirakan jam 04.00
sore. Sekitar dua jam saya merendam di kuala, untuk menunggu
waktu malam.
Setelah malam, saya naik ke darat untuk mengambil alat
renang. Saya cabut pohon pisang. Setelah saya cabut, saya
langsung buang ke kuala, saya gunakan untuk membantu
berenang.
Baru sekitar 10 meter saya berenang, mereka sudah hadang
di depan dengan senternya yang begitu terang. Saya melihat
senter mereka itu seperti senter mobil. Jadi tidak mungkin
pakai baterei, mungkin sudah memakai accu (aki, red) atau
alat canggih lain.
Pada saat itu saya lepaskan pohon pisang yang saya pakai.
Saya menyeberang kembali, mendekati kembali pinggiran kuala
tersebut. Setelah itu tiba-tiba saya lihat ada tiga orang
yang lewat kuala. Mungkin teman-teman saya, yang masih ada
di hutan, yang belum tertangkap pada saat itu. Dan
alhamdulillah, tiga orang lewat itu lolos.
Kemudian lewat lagi tiga orang naik perahu, dan ini
kelihatan oleh pengejar. Mereka langsung mengejar dengan
perahu pula. Dua yang lolos pada saat itu. Satu orang
tertangkap. Dia berteriak-teriak "Saya tidak salah".
Kedengarannya mereka menyiksa. Dan pada saat itu tiba-tiba
terdengar suara letusan. Dan teriakan itu langsung lenyap.
Setelah itu, saya berpikir, berarti saya ini akan
tertangkap juga kalau saya teruskan untuk berenang. Saya ke
darat dan duduk berdoa. Ya Allah turunkan lah hujan, ya
Allah. Supaya mereka menghindar dari pinggiran kuala
tersebut.
Dalam kurun waktu kurang lebih setengah jam, yang awalnya
bintang-bintang lengkap di langit. Tiba-tiba gelap dan
langsung turun hujan. Setelah hujan turun, saya berlari ke
atas sekitar 20 meter. Kemudian saya masuk lagi ke dalam
kuala, dan saya lanjutkan berenang.
Dalam jarak 10 meter lagi saya berenang ke bawah, ada
lagi mereka yang menghadang di depan. Saya naik lagi ke
daratan. Duduk saya di daratan berkisar kurang lebih satu
jam. Badan saya kayaknya sudah tak mampu lagi digerakkan,
dengan merasakan luka, kedinginan. Rasanya badan saya sudah
tidak bisa lagi bergerak.
Pada saat itu, saya berpikir. Kalau siang di sini, saya
sembunyi dimana lagi. Setelah pemikiran itu muncul
kepasrahan, saya berdoa: bismillahi tawaqqaltu alallahi la
haula wala quwata illah billah. Saya berdiri, lalu mencari
alat bantu renang lagi. Alhamdulillah, saya ketemukan satu
biji kelapa kering. Saya bawa kembali ke kuala.
Setelah saya masuk, melebur kembali ke kuala, rasanya
badan ini sudah kuat kembali. Tangan dan kaki saya, yang
semula sudah tidak mampu digerakkan, setelah saya melebur ke
kuala, badan saya terasa pulih kembali. Kayaknya tidak ada
luka yang melekat.
Setelah itu saya berenang sampai melewati pinggir kuala
tersebut. Setiap pinggiran kuala tetap juga mereka jaga.
Tetapi sudah tidak terlalu ketat. Karena hujan turun terus.
Saya temukan jembatan yang saya lewati pertama pada saat
kami menuju di desa Ranononcu itu. Mereka berjaga di
jembatan itu, alhamdulillah saya masih sempat lolos.
Kemudian terus lagi, menemukan lagi jembatan satu. Yang
pertama jembatan gantung Ranononcu dan yang kedua jembatan
gantung Lembomawo.
Setelah itu, saya terus lanjutkan berenang. Dan apabila
mereka mencari, menyenter dari sebelah, saya menghindar,
menyeberang ke sebelah. Jadi, saya memotong-motong kuala
Poso itu, yang jaraknya, yang disebut orang sering ambil
korban manusia, ada buaya kayaknya sudah tidak lagi saya
pikirkan.
Setelah itu, saya tiba di jembatan II Poso, yang
direncanakan untuk dijadikan "kriminal dua". Setelah
mendekati jembatan tersebut, saya melihat pancaran cahaya.
Lampu mereka begitu terang. Mereka memakai lampu sorot.
Mereka pancarkan ke kuala tersebut. Kualanya terang sekali.
Jadi apapun yang lewat, kayu sepenggal pun yang lewat,
kelihatan dalam kuala tersebut. Tetap saya terus dan
berhenti di jembatan tersebut.
Saya berhenti di bawah jembatan dan berdiri serta duduk
bergantian sambil berpikir, bagaimana caranya bisa lolos.
Sedangkan kuala ini terang sekali. Berpikir saya di situ
sekitar satu jam. Bagaimana caranya, tidak ada hasil.
Kayaknya, secara jernih saya tidak mampu lagi untuk
berpikir, bagaimana caranya untuk lolos.
Setelah itu, saya terpikir dalam satu firman "Jangan
takut Allah bersama kita". Saya membaca doa bismillahi
tawaqqaltu alallahi la haula wala quwata illah billah.
Segala daya dan kekuatan saya serahkan kepada Allah
sepenuhnya. Muncul keyakinan saya pada saat itu, saya
langsung meloncat berenang ke kuala.
Setelah saya mendekati lampu tersebut, tiba-tiba lampunya
langsung mati. Saya berpikir jangan-jangan saya dijebak,
dengan sengaja mematikan senter, agar saya terus berenang.
Dan setelah melewati tempat terang tersebut baru lampunya
menyala. Tidak tahu mengapa lampu mereka mati. Berarti
mereka sebenarnya bukan menjebak saya. Tetapi memang benar
lampunya mati pada saat itu. Mungkin sudah digariskan oleh
Allah. Sudah memberikan pertolongan pada saat itu kepada
saya.
Sebagai manusia biasa, yang sudah luka parah, muka saya
sudah hancur dipukul, mungkin tidak bisa melanjutkan
perjalanan. Tapi kekuatan yang ada, saya melanjutkan
berenang melewati jembatan dan tiba-tiba saya mendegar suara
azan. Berarti menandakan waktu subuh atau pagi telah tiba.
Saya makin cepat berenang sebelum terang, karena kalau sudah
siang mereka akan temukan saya.
Sekitar pukul 6 pagi saya mendengar suara pengumuman yang
menyebutkan nama kompi. Saya berpikir bahwa itu adalah
asrama tentara dan langsung mendekati. Di dekat lokasi
asrama saya melihat seorang pemuda dan saya tanyakan
asalnya. Saya juga tanya mengapa ada disini dan pemuda itu
mengatakan dirinya pengungsi. Saya tanya lagi agamamu apa,
dan dia menjawab agama Islam. Disaat dia menjawab Islam,
saya langsung mengatakan tolong, dan dia pun langsung
menolong saya membawa ke asrama kompi dan dirawat.Pada saat
disiksa, saya melihat seorang aparat tentara yang juga saya
sudah pernah lihat sebelumnya. Waktu di kompi saya juga
melihat tentara itu, kami sempat berpapasan mata kemudian
tentara itu langsung pergi. Saya periksa di semua ruangan
tentara itu tidak ada. Saya yakin dia adalah tentara yang
saya lihat ketika saya disiksa. (ud/jpnn)
Source : Riau Pos Rabu, 14 Juni 2000
Date: Wed, 28 Jun 2000 12:43:30 +0200
From: fajar rahmat hidayat
From: fajar rahmat hidayat
Subscribe to:
Posts (Atom)











