Thursday, January 12, 2012

Iman Hijrah dan Jihad : Nabi Muhammad S.A.W. Berangkat Menuju Madinah

Sebagaimana di atas telah kami riwayatkan, sebelum Nabi Muhammad s.a.w, dan sahabat Abu Bakar r.a, berangkat meninggalkan Mekah, Abu Bakar telah berpesan kepada seorang penunujuk jalan untuk berpergian jauh yang bernama 'Abdullah bin 'Uraiqith, supaya tiga hari sesudah itu ia pergi menyusul ke gua Tsaur bersama-sama dengan 'Amir bin Fuhairah, dengan menhela dua ekor unta kepunyaan Abu Bakar yang akan dijadikan kendaraan pergi menuju ke Madinah.

Pada waktu itu 'Abdullah bin Uraiqith adalah seorang yang masih memeluk agama berhala, agama kaum Musyrikin Quraisy. Akan tetapi dengan kehendak ALLAH Yang Maha Suci ia waktu itu mau di beri janji dan di upah oleh Abu Bakar untk menunjukkan jalam ke Madinah. Padahal ketika itu ia mendengar juga kekacauan kaum Musyrikin Quraisy di Mekah dalam berusaha mencari diri Nabi dan Abu Bakar serta maklumat mereka hendak memberi hadiah seratus ekor unta kepada barang siapa yang dapat menangkap diri Nabi Muhammad s.a.w.

Demikianlah pada hari yang telah di tentukan pada waktu tengah malam datanglah di gua Tsaur 'Abdullah bin Uraiqith dan 'Amin bin Fuhairah dengan menghela ke dua ekor unta itu. Dan pada keesokkan harinya, ialah hari keempat sejak Nabi meninggalkan Mekah, keluarlah keempat orang itu dari gua Tsaur dan dengan segera mereka berangkat dengan berkendaraan unta. Nabi Muhammad s.a.w, berkendaraan unta kepunyaan Abu Bakar yang namanya ''Al-Qushwa'' bersama-sama dengan 'Abdullah bin Uraiqith dan sahabat Abu Bakar berkendaraan untanya yang lain bersama-sama dengan 'Amir bin Fuhairah. Mereka mengambil jalan melalui sepanjang tepi laut Merah, jalan yang tidak biasa di pergunakan oleh kebanyakan orang yang pergi ke Madinah.

Karena sahabat Abu Bakar r.a, itu adalah seorang bangsawan dan hartawan yang terkenal, dan keturunan hartawan juga, dan ia pun seorang yang telah seringkali bepergian jauh untuk berdagang, maka dari itu di dalam perjalanan itu ia selalu di kenal oleh orang-orang dari desa-desa yang di lalui. Kerap kali ia di tegur dan di sapa oleh orang-orang yang telah mengenal beliau. (Menurut riwayat Ibnu Hisyam sebagaimana tersebut dalam kitab Sirahnya sahabat Abu Bakar r.a., dalam berhijrah ke Madinah bersama-sama dengan Nabi Muhammad s.a.w, adalah membawa hartanya sebanyak lima ribu atau enam ribu dirham)

Dan karena Nabi Muhammad s.a.w, itu adalah seorang yang hampir tidak pernah berpergian jauh dan lagi bukan seorang hartanwan yang terkenal, maka dalam perjalanan itu beliau sama sekali tidak di kenal oleh orang lain. Oleh sebab itu apabila sahabat Abu Bakar berjunpa dengan seorang yang mengenalnya, ia selalu di tanya tentang diri Nabi, siapakah dia. Dan sahabat Abu Bakar hanya menjawab :''Ini sahabatku yang menunujkkan jalan untuk berpergian jauh. Karena aku belum pernah pergi ke Madinah dengan mengambil jalan ini maka terpaksa dia kuajak untuk menunjukkan jalan kepadaku.'' jadi Abu Bakar todaklah menerangkan hal yang sebenarnya, bahwa ia adlah seorang Nabi Pesuruh ALLAH.

Mendengar jawaban tersebut itu Nabi Muhmmad hanya tinggal diam karena mengerti akan apa yang di maksud oleh sahabat Abu Bakar.

Wednesday, January 11, 2012

Iman Hijrah dan Jihad : Keadaan Nabi Muhammad s.a.w. dengan sahabat Abu Bakar r.a. di gua Tsaur

Demikianlah setelah Nabi Muhammad s.a.w. bertemu dengan sahabat Abu Bakar di tengah jalan, mereka lalu berjalan bersama-sama menuju gunung Tsaur. Di dalam perjalanan itu sahabat sahabat Abu Bakar sebentar berjalan di muka Nabi, sebentar di muka beliau, sebentar lagi di kanan, dan sebentar lagi di kiri beliau, demikianlah sampai berulang-ulang. Oleh sebab itu Nabi s.a.w, bertanya kepadanya :

''Maa hadza yaa Abaa Bakri? Maa a'rafu hadza min fi'lika.''
''Apakah ini Abu Bakar? Aku tidak mengerti akan perbuatanmu ini!''

Sahabat Abu Bakar menjawab :

''Yaa Rasuulullah, adzkururra shada fa akunuu amaamaka. Wa adzkuruth thalaba fa akuunu khalfaka. Wa marrata 'an yamiinika. Wa marrata 'an yasaarik.''

''Ya Rasulullah! Saya ingat akan pengintai, maka saya ada di muka engkau, dan saya ingat akan pencahari, maka saya ada di belakang engkau, dan sekali saja di kanan engkau dan sekali di kiri engkau.''

Waktu itu Nabi Muhammad s.a.w, berjalan kaki dengan kaki telanjang. Dan karena beliau tidak biasa berjalan dengan kaki telanjang, maka dari jauhnya perjalanan malam itu kaki beliau mendapat luka-luka.

Patut diterangkan lebih dulu bahwa gua Tsaur yang di dalamnya terdapat banyak binatang-binatang liar dan buas, dan sering kali di tempati oleh ular-ular yang berbisa. Hal itu telah umum di ketahui oleh orang banyak pada masa itu, sehingga tidak seorangpun berani masuk ke dalamnya. Tetapi Nabi Muhammad s.a.w, beserta sahabat Abu Bakar r.a, dengan hati berani serta tulus dan karena ALLAH semata-mata memasuki gua itu.

Mereka sampai di gunung Tsaur pada waktu larut malam, dimana-mana gelap gulita dan sunyi senyap. Lebih dahulu sahabat Abu Bakar masuk ke dalam gua itu, sedang Nabi masih tinggal di luar. Yang demikian itu di sebabkan oleh cintanya sahabat Abu Bakar kepada beliau. Di dalam gua itu sahabat Abu Bakar membersihkan-bersihkan dalam gua itu, dengan maksud kalau-kalau di dalamnya ada binatang-binatang liar atau ular-ular yang berbisa agar ia sendirilah yang terkena oleh mereka, dan jangan sampai Nabi Muhammad s.a.w, yang terkena. Kesemuanya itu timbul dari perasaannya yang suci, bahwa diri Nabi adalah lebih berharga daripada dirinya sendiri.

Inilah suatu contoh bagi kita bahwa diri seorang penuntun/panutan atau pemimpin itu ada lebih berharga daripada diri seorang yang di tuntun dan di pimpinnya.

Diriwayatkan bahwa ketika sahabat Abu Bakar membersih-bersihkan dalam gua dengan mengambil batu-batu yang ada dalam gua itu satu persatu, maka cara beliau mengambil dan membuangi batu-batu itu adalah dengan lebih dulu mengoyak pakaiannya secarik demi secarik. Karena beliau kuatir kalau-kalau yang di pegangnya akan di lemparkannya itu binatang yang berbisa. Demikianlah sehingga seluruh pakaiannya koyak-koyak. Dan kemudian, setelah pakaiannya habis koyak-koyak sedangkan di dalam gua masih ada batu sedikit besar, maka ia melemparkan batu itu dengan kakinya, dan tiba-tiba kakinya tergigit oleh seekor ular kecil dengan kerasnya, karena ternyata di bawah batu itu ada ular tersebut. Tetapi pada saat itu ia tetap diam. Selanjutnya setelah ia selesai membersih-bersihkan dalam gua itu ia keluar dan mempersilahkan diri Nabi supaya masuk ke dalamnya. Sesudah beliau masuk, di sebabkan oleh capainya beliau segera tertidur di atas pangkuan sahabat Abu Bakar r.a.

Setelah beliau tertidur dengan pulasnya, sedang bekas gigitan ular makin terasa sakitnya oleh Abu Bakar, maka ia sampai mencucurkan air matanya sehingga beberapa tetes air mata itu menitik ke atas muka Nabi. Dengan terkejut beliau bangum dan berkata :

''Mengapa engkau menangis, hai Abu Bakar?''
Ia menjawab : ''Dari gigitan ular, ya Rasulullah.''
Beliau bertanya : ''Oh, mengapa engkau tidak mengatakannya padaku?''
Abu Bakar menjawab : ''Saya takut membangunkan engkau.''

Setelah terbit fajar Nabi memeriksa bengkaknya Abu Bakar lalu ia mengusapnya dengan tangan beliau. Seketika itu juga lenyaplah bengkak itu serta sakitnya. Kemudian Nabi melihat pakaian sahabatnya dan bertanya : ''Mengapa pakaianmu?'l ''Maka sahabat Abu Bakar menceritakan hal-hal yang sebenarnya.

Mendengar ceritera sahabat beliau itu lalu beliau berdo'a kepada ALLAH :

''Allahummaj,al abaa bakri fiidari jatii yaumal qiyaamah''

''Ya ALLAH! Jadikanlah Abu Bakar kelak di hari kiamat pada derajat(pangkat)ku!''

Adapun pada saat itu, setelah kaum Musyrikin Quraisy tidak berhasil mencapai maksudnya, pada hari itu juga kepala-kepala dan ketua-ketua mereka mengadakan rapat luar biasa untul merundingkan bagaimana caranya menangkap Nabi Muhammad s.a.w. Bersamaan dengan itu pemuda-pemuda yang telah bersenjata lengkap hendak membunuh beliau tadi, dengan berkuda mencari-cari di kampung-kampung di segenap penjuru kota Mekah, kalau-kalau mereka dapat menangkap beliau.

Adapun keputusan rapat luar biasa itu pada hari itu adalah dengan secepat mungkin mereka memanggil para ahli pelihat tapak kaki manusia. Mereka lalu mengutus orang-orang yang dapat mengikuti dan menjejaki bekas tapak kaki manusia yang berjalan diatas pasir. Selain dari pada itu mereka memutuskan juga bahwa barang siapa dapat memancung kepala Nabi Muhammad s.a.w, sampai dapat membawanya di muka mereka ia akan mendapat hadiah seratus ekor unta.

Kemudian ahli mengikuti bekas tapak kaki itu mengikuti bekas tapak kaki Nabi dengan di iringkan oleh pemuda-pemuda yang bersenjata lengkap itu tadi dan pula oleh kepala-kepala dan ketua-ketua Quraisy.

Oleh karena mereka telah mengetahui bahwa sahabat Abu Bakar adalah sahqbat Nabi paling rapat, maka mereka menyuruh Abu Jahal ke rumah sahabat Abu Bakar. Sesampainya di sana ia bertanya kepada ahli (keluarga) rumah, kemana Abu Bakar pergi. Yang menemui Abu Jahal adalah Asma'. Dan jawab Asma' dengan berani : ''Saya tidak tahu, kemana ayah pergi.''

Abu Jahal : ''Betul-betul ayahmu pergi?''
Asma' : ''Ya, sungguh ayah pergi.''

''Kemana ia perginya?'' tanya Abu Jahal sambil matanya mengintai-intai ke dalam rumah, kalau-kalau ia melihat orang yang di kejarnya.

Asma tetap berkata : ''Saya tidak tahu, dan yang ada di rumah ialah ibu dan adik saya.''
''Ah, terlalu!'' sungut Abu Jahal sambil menampar muka Asma dengan kerasnya, lalu ia pergi.

Ahli mengikuti tapak kaki itu, setelah menemukan bekas tapak-tapak kaki Nabi dan shabat Abu Bakar, lalu mengikutinya dengan di iringkan oleh mereka itu tadi, hingga sampai ke depan gua Tsaur, dan tiba-tiba bekas-bekas kaki tapak itu berhenti atau putus disana. Kemudian mereka kebingungan, kemana lanjutnya, ke kanankah, atau ke kirikah? Apakah terus masuk ke dalam gua, ataukah naik ke atas gua? Mereka berselisih satu sama lain tentang hal itu.

Kebingungan mereka itu du sebabkan karena sesudah Nabi dan sahabat Abu Bakar masuk ke dalam gua itu maka seketika itu juga Tuhan menyuruh labah-labah yang beribu-ribu banyaknya supaya bersarang dimuka gua Tsaur, dan juga Tuhan menyuruh burung-burung merpati yang liar supaya sama bersarang dan bertelur di tempat tersebut. Oleh sebab itu sudah barang tentu pintu gua Tsaur dan sekitarnya penuh dengan sarang labah-labah di atasnya dan sarang telur merpati di bawahnya.

Seandainya Muhammad dan Abu Bakar masuk ke dalam gua itu sudah barang tentu banyak telur burung merpati itu pecah, sarang-sarangnya kucar-kacir dan sarang-sarang labah-labah itu rusak dan hancur, padahal kelihatan tidak ada satupun telur yang pecah, dan sarang-sarang itu masih penuh di muka gua itu. Ah, tidak boleh jadi Muhammad dan Abu Bakar telah masuk ke dalam gua itu. Lebih-lebih burung-burung merpati itu mesti bubar jika ada orang masuk ke dalam gua itu, sedang kenyataannya mereka masih ada.

Demikianlah perkataan-perkataan dan sangkaan-sangkaan para ahli mengikuti bekas tapak kaki itu. Kemudian para ahli mengikuti tapak kaki itu dan pemuda-pemuda itu tadi timbul perselisihan pendapat, sementara itu di antara ketua dan kepala Quraisy ada yang memanjat naik ke puncak gunung. Dalam pada itu salah seorang dari pemuda-pemuda itu mencoba mengintip ke dalam gua, tetapi baru saja ia mengintip, burung-burung merpati yang sedang ada di luar pintu, bubar lalu terbang. Dengan segera pemuda itu kembali seraya berkata kepada kawan-kawannya : ''Seumpama dalam gua ini ada orangnnya, tentulah burung-burung merpati itu sudah lama bubar, bukan? Sebab saya tahu, saya baru mengintai saja sduah banyak yang terbang.'' Seorang lainnya berkata : ''Kita sekarang perlu mencoba masuk bersama-sama, coba marilah!''

Ummayah bin Khalaf menyahut : ''Mengapa kamu hendak masuk ke dalamnya? Kalau tokh Muhammad telah masuk kedalamnya, tentulah sarang labah-labah itu semuanya telah hancur luluh, bukan? Ya, kalau di dalam gua itu tidak ada binatang-binatang liar dan buas atau ular yang berbisa, dan kalau ada, tentu mencelakakan pada kamu, bukan?

Pendek kata akhirnya mereka kembali dan pulang dengan tangan hampa dan hati yang kesal dan menyesal. Adapun Nabi dan Abu Bakar di dalam gua tesebut, selama itu mendengar dengan jelas percakapan mereka itu dan melihat juga akan rupa orang-orang yang ada di luar, sebagian di atas gua dan sebagian di muka pintu gua. Sedikitpun Nabi tidaklah merasa cemas, khawatir atau takut kepada mereka, karena beliau penuh kepercayaan bahwa ALLAH lah yang akan memberikan pertolongan kepada beliau. Adapun sahabat Abu Bakar ketika mengangkatkan kepalanya ke atas, beliau melihat orang-orang yang sedang di atas gua, maka ia lalu berkata kepada Nabi : ''Jika mereka melihat kakinya ke bawah, atau menundukkan kepalanya ke bawah, tentu dengan sagera melihat kita ada disini bukan?''

Nabi Muhammad berkata : ''Janganlah engkau menyangka bahwa aku ini sendirian bersama engkau, tetapi sesungguhnya Tuhan selalu beserta kita, selamanya Ia melindungi kita. Adapun jika mereka itu nanti jadi masuk ke dalam gua ini dengan jalan melalui pintu gua itu maka nanti kita melepaskan diri melalui ini.'' Beliau berkata sambil menunjukkan jarinya ke sebelah belakang. Padahal sebelah belakang gua itu tidak berpintu atau tertutup rapat-rapat, tetapi setelah Abu Bakar menoleh ke belakang ia melihat bahwa di sebelah belakang gua itu ada berpintu lebar, yang dapat dipergunakan untuk melarikan diri dari pengejaran musuh.

Sesudah itu lenyaplah kekuatiran, kecemasan dan ketakutan sahabat Abu Bakar, dan ia menjadi berkepercayaan bahwa Tuhan pasti memberikan perlindungan secukupnya dan pertolongan selengkapnya, dan ia bertetap hati menghadapkan segenap jiwa raganya kepada Tuhan semata-mata.

Demikianlah mereka para pengepung dan penyerangan itu bubar dan pergi dari tempat tersebut, dan semuanya pulang kembali ke Mekah.

Adapun Nabi s.a.w, dan sahabat Abu Bakar, selama mereka ada di dalam gua Tsaur, adalah di beri bantuan dari luar gua oleh 'Abdullah dan Asma', keduanya putera dan puteri Abu Bakar, serta 'Amir bin Fuhairah, bujang Abu Bakar. Yakni : tiap-tiap petang 'Abdullah pergi ke gua itu dengan membawa bermacam-macam berita dari Mekah, terutama berita-berita yang bersangkutan dengan diri Nabi, dan segala apa yang diperbuat oleh kaum Musyrikin Quraisy, yang demikian ini memang di suruh oleh beliau. Dan pada malam harinya ia bermalam di dekat gunung tersebut, lalu sebelum terbit fajar ia berjalan pulang kembali je Mekah. Kemudian pada siang hari ia bergaul dengan orang-orang Musyrikin di Mekah, dengan mencatat benar-benar semua yang dirundingkan oleh mereka. Maka setelah datang petang hari ia pergi lagi ke gua Tsaur dan di sana menuturkan segala apa yang dengar di Mekah kepada Nabi. Adapun Asma' pada tiap-tiap petang hari mengikut akan saudaranya laki-laki, Abdullah, pergi ke gua Tsaur dengan membawa makanan dari rumah, dan keesokkan harinya pagi-pagi ia pun kembali ke Mekah bersama saudaranya. Adapun 'Amir bin Fuhairah, pada tiap-tiap pagi menggembalakan kambingnya sampai ke gua Tsaur, maka di sana diperasnya air susu kambing yang di gembalanya untuk di minum oleh Nabi dan sahabat Abu Bakar. Dan setiap hampir datang waktu malam ia mengiringkan kambing yang di gembalanya menuju kembali ke Mekah. Selama itu perbuatan-perbuatan ketiga orang itu tidak diketahui sama sekali oleh kaum Musyrikin Quraisy seorangpun. Dan Nabi Muhammad s.a.w, dan sahabat Abu Bakar bersembunyi dalam gua itu sampai tiga hari tiga malam lamanya dengan tidak pernah kekurangan makan dan minum.

Sunday, January 8, 2012

Iman Hijrah dan Jihad : Nabi Muhammad S.A.W. Berangkat Meninggalkan Rumah.

Pada hari adanya rapat dan keputusan tersebut itu ALLAH menurunkan wahyu kepada Nabi Muhammad s.a.w. yang bunyinya. :




''wa-idz yamkuru bika alladziina kafaruu liyutsbituuka aw yaqtuluuka aw yukhrijuuka wayamkuruuna wayamkuru allaahu waallaahu khayru almaakiriina''
''Dan ketika orang-orang yang tidak percaya sama berdaya-upaya atas engkau(Muhammad), karena mereka hendak melukai engkau atau membunuh engkau atau mengusir engkaua, dan sungguh mereka berdaya upaya, adapun ALLAH itu sebaik-baik yang berdaya-upaya.''
(Al-Qur'an surat Al Anfal ayat 30)

Sesudah Jibril menyampaikan wahyu tersebut berkata kepada Nabi Muhammad s.a.w :

''Yaa Rasuulullah. Laa tabit hadzihil lailata 'ala firaa syikalladzi kunta tabiitu 'alaihi. Wa innallaha ya'muruka bilhijrati ilil madiinah.''

''Allah menyuruh engkau suapaya berangkat hijrah ke Madinah, hai Rasulullah! Janganlah engkau tidur malam ini diatas tempat tidur engkau yang engkau telah biasa tidur di atasnya, dan sesungguhnya ALLAH menyuruh engkau supaya berangkat hijrah ke Madinah.''

Dinyatakan pula oleh malaikat Jibril bahwa untuk kawan perjalanan hijrah beliau tersebut ialah sahabat Abu Bakar ash-Shidiq r.a.

Sesudah mendapat perintah dari ALLAH untuk berhijrah itu seketika itu dengan terburu-buru Nabi Muhammad s.a.w., pergi kerumah sahabat Abu Bakar, sedang waktu itu sedang siang hari dan panas terik. Beliau pergi dengan bertutup muka dan kepalaa. Maka sesampai beliau di rumah Abu Bakar, beliau memanggil-manggil nama Abu Bakar dengan sekeras-kerasnya. Kebetulan sekali waktu itu sahabat Abu Bakar r.a.' sedang ada di rumah. Maka dengan adanya panggilan Nabi dengan suara keras itu terkejutlah sahabat Abu Bakar, karena ia tidak lupaa akan suara beliau Ia amat terperanjat melihat kedatangan Nabi s.a.w., yang terburu-buru itu, karena tidak biasanya tidaklah pernah beliau datang kerumahnya dan ke rumah siapa pun dengan terburu-buru dan di waktu siang hari pada saat panas matahari tengah seterik-teriknya. Dengan segera sahabat Abu bakar merasa bahwa mestilah kedatangan beliau itu mengandung atau membawa suatu hal yang penting. Maka dari itu dengan tergesa-gesa pula ia menyambut kedatangan beliau. Setelah Nabi masuk kedalam rumah Abu Bakar r.a., segera ia duduk daan berkata kepada sahabat Abu Bakar :

''Innallaha Ta'ala qad aadzinalii filkhuruuji wal hijrah.''

Sahabat Abu Bakar menyambut :

''Ashshuhbah, yaa Rasuulullah?''

''Berkawan dengan saya, ya Rasulullah?''

Jawab Nabi s.a.w. :

''Na'am, bi idznillah.''

''Ya, dengan idzin Allah''

Lalu sahabat Abu Bakar r.a., menangis, dari sebab suka citanya, sebab memang telah berbulan-bulan ia selalu mengharap-harap supaya lekas diidzinkan oleh ALLAH untuk berhijrah dari Mekah. Kemudian ia berkata, ''Ya, Rasulullah! Ambillah salah satu dari kedua ekor unta saya guna kendaraan tuan.''

Nabi memilih unta yang terbaik kepunyaan sahabat Abu Bakar, yang baru di belinya dengan harga 800 dirham. Dan unta itu dalam kitab tarikh disebutkan dengan nama ''Al-Qushwa.''

Selanjutanya Nabi Muhammad s.a.w, kembali kerumah dengan berjalan secepat-cepatnya. Dan sahabat Abu Bakar r.a, lalu berkemas-kemas, sertaa memerintahkan kepada keluarganya untuk menyediakan apa-apa yang menjadi kebutuhan orang berpergian jauh. Dua orang puterinya, Asma dan 'Aisyah, sama menyediakan dan mempersiapkan dengan secukupnya bekal untuk orang berpergian jauh, seperti makanan, pakaian dan sebagainya.

Pada hari itu juga Nabi Muhammad s.a.w, memanggil sahabat 'Ali r.a. Setelah ia datang menghadap Nabi s.a.w, oleh beliau diberi beberapa pesanan yang penting-penting, terutama hal-hal yang mengenai urusan rumah-tangga. Antara lain Nabi berpesan kepada 'Ali supaya pada malam hari nanti ia bermalam dana tidur ditempat tidur beliau, seraya berselimut yang telah biasa dipakai oleh beliau setiap beliau tidur malam hari. Jugaa 'Ali dipesan supaya barang-barang milik orang lain dititipkan kepada beliau dikembalikan kepada yang empunya. Semua pesanan itu diterima oleh sahabat 'Ali untuk dituruti dan di kerjakannya.

Juga sahabat Abu Bakar r.a, berpesan kepada puteranya laki-laki yang bernama Abdullah supaya sepeninggal ayahnya ia tiap-tiap hari mendengar-dengarkan suara-suara orang Quraisy tentang kepergian Nabi Muhammad s.a.w, dan supaya ia tiap-tiap petang hari pergi bersama-sama dengan saudaranya perempuan, Asma ke gua Tsaur. Juga sahabat Abu Bakar berpesan kepada bujangnya yang bernama 'Amir bin Fuhairah supaya selama beliau berdiam di gua Tsaur ia menggembalakan kambing-kambingnya di dekat gua tersebut agar air susunya dapat di pergunakan menjadi minuman oleh Nabi dan beliau sendiri. Kecuali itu sahabat Abu Bakar berpesan kepada seorang penunjuk jalan yang bernama 'Abdullah bin 'Uraiqith, supaya pada hari yang kelak beliau tentukan ia datang ke gua Tsaur untuk kemudian dia disuruh menunjukkan jalan ke Madinah bersama-sama dengan 'Amir bin Fuhairah.

Setelah pada hari itu Nabi Muhammad sudah bersiap-siap, begitu pun sahabat Abu Bakar r.a, maka sesudah matahari terbenam dan kegelapan waktu malam datang sedikit demi sedikit dan sahabat 'Ali telah berada di rumah Nabi, maka datanglah serombongan pemuda-pemuda Quraisy yang telah dipilih oleh rapat siang hari tadi dengan bersenjata lengkap. Mereka datang dengan diiringkan oleh para kepala dan ketua qabilah-qabilah Quraisy sebanyak seratus orang, kemudian mereka menyebarkan diri mengepung rumah Nabi di kiri' kanan, muka dan belakang.

Pada saat itu dengan suara pelan-pelan Nabi Muhammad menyuruh sahabat 'Ali supaya tidur di tempat tidur beliau dan berselimut dengan selimut beliau.


Ketika itu Abu Jahal berteriak-teriak dengan maksud mengejek dan menghina diri Nabi, dan katanya :

''Muhammad menyangka, jika kita mengikut kepadanya, kita akan menjadi penguasa-penguasa atas bangsa-bangsa Arab, dan merajai bangsa-bangsa lain di negeri-negeri kain, dan jika kita sudah mati, kita akan dibangunkan kembali hidup lalu akan dimasukkan ke dalam syurga, disana kita akan diberi makanan yang enak-enak, diberi perempuan yang cantik-cantik, diberi pakaian yang baik-baik, diberi perhiasan yang bagus-bagus dan sebagainya. Dan jika kita tidak mengikut kepadanya, kita akan di bunuh, kita akan di potong-potong seperti kambing, dan akan di perlakukan sebagai budak belian olehnya, dan sesudah mati, kita akan dibakar dengan api yang panasnya luar biasa dalam neraka.''

Nabi mendengarkan perkataan-perkataan Abu Jahal tersebut, kemudian beliau menjawab :

''Na'am, anaa aquulu dzalik, wa anta ahaduhum.''
''Ya, saya berkata demikian. Dan kaulah salah satu dari antara mereka(ahli neraka)

Dengan berjalan sangat perlahan Nabi Muhammad s.a.w, keluar dari rumah dengan diam-diam, tidak ada lagi seorangpun di antara mereka yang dapat mengetahuinya. Sebelumnya Nabi telah berpesan kepada 'Ali kalau sahabat Abu Bakar datang supaya dengan segera di suruh menyusul beliau.

Adapun Nabi Muhammad s.a.w, ketika keluar dari rumah mengambil segenggam pasir ditaburkan keatas kepala-kepala pemuda yang bertugas menyerang beliau, sehingga mereka sekalian tidak mengetahui keluarnya beliau. Dalam pada itu beliau membaca :

























Yaa siin,
Demi Al-Qur'an yang penuh hikmah,
Sesungguhnya kamu salah seorang dari rasul-rasul,
(yang berada) di atas jalan yang lurus,
(sebagai wahyu) yang diturunkan oleh Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang,
Agar kamu memberi peringatan kepada kaum yang bapak-bapak mereka belum pernah diberi peringatan, karena itu mereka lalai. Kebanyakan orang kafir pasti mendapat azab karena tidak mengindahkan peringatan Allah.
Sesungguhnya telah pasti berlaku perkataan (ketentuan Allah) terhadap kebanyakan mereka, kerena mereka tidak beriman.
Sesungguhnya Kami telah memasang belenggu dileher mereka, lalu tangan mereka (diangkat) ke dagu, maka karena itu mereka tertengadah.
Dan Kami adakan di hadapan mereka dinding dan di belakang mereka dinding (pula), dan Kami tutup (mata) mereka sehingga mereka tidak dapat melihat.
Al-Qur'an surat Yasin ayat 1-9

Tiada berapa lama kemudian datanglah sahabat Abu Bakar dengan jalan sembunyi ke rumah Nabi dengan tidak diketahui oleh mereka seorangpun. Dan setelah ia diberitahu oleh sahabat 'Ali bahwa Nabi Muhammad s.a.w, telah berangkat, maka dengan cepat ia menyusul perjalanan beliau. Di tengah perjalanan dapatlah ia bertemu dengan Nabi. Kemudian ia berjalan bersama-sama menuju ke gunung Tsaur. Waktu itu sahabat 'Ali lalu tidur di tempat tidur Nabi dengan pulasnya serta berselimut dengan selimut beliau. Maka dari itu jika para pengepung rumah itu mengintai-intai ke dalam rumah Nabi, kelihatanlah oleh mereka bahwa beliau sedang tidur dengan pulasnya.

Menurut suatu riwayat, bahwa dari mereka itu ada seorang yang mengintai-intai ke dalam rumah dengan jalan memanjat ke atas rumah.

Maka jika ia sedang memanjat, terdengarlah olehnya tangis seorang anak perempuan, lantaran itu terburu-buru ia turun lagi. Dan begitulah sampai berkali-kali. Sebab menurut adat istiadat kesopanan bangsa Arab Quraisy pada masa itu, hinalah seorang ksatria membunuh seorang lain dengan masuk ke dalam rumah dari yang akan di bunuhnya, dan demikian pun hinalah rasanya sipembunuh itu jika ia sampai merusak keamanan seorang perempuan. Adapun anak perempuan yang menangis tadi, sudah tentu seorang dari pada keluarga Nabi Muhammad yang sedang tidur. Dan demikianlah seterusnya, mereka selalu mengintai-intai ke dalam rumah dari luar rumah belaka, dan mereka menyangka bahwa Nabi Muhammad masih ada dalam rumah itu dan sedang tidur dengan pulasnya.

Sampai jauh malam para pengepung rumah itu menanti-nanti keluarnya Nabi Muhammad s.a.w, sehingga mereka sama mengantuk dan setengahnya ada yang sampai tertidur di atas pasir. Kemudian setelah kira-kira perjalanan Nabi dengan sahabat Abu Bakar sampai ke gunung Tsaur dengan sekonyong-konyong datanglah kepada para pengepung itu seorang laki-laki tua yang belum pernah mereka kenal, dan lalau orang tua itu berkata dengan suara nyaring :

''Hai orang banyak! Kamu semua disini menunggu apa?'' mereka dengan terperanjat semua bangun, dan dari antara mereka itu ada yang menjawab : ''Kami sedang menunggu Muhammad!''

''Mengapa kamu semua enak tidur dengan pulasnya?'' kalau kamu menanti-nanti Muhammad disini, ia tidak akan kamu dapati,'' kata orang tua tersebut.

Mereka menyahut : ''Mengapa begitu? Muhammad tokh masih tidur di dalam, bukan?''

Kata orang tua itu : ''Hmm, kasihan! Kasihanlah kamu semua ini, oh, sangat kasihan! Muhammad sudah pergi dari tadi, mengapa kamu tunggu-tunggu saja, hai orang-orang yang gagah perkasa!''

Mereka menjawab : ''Ah, tidak boleh jadi! Kami tahu, bahwa Muhammad masih tidur di dalam, mengapa engkau bilang ia sudah pergi?''

Orang tua itu berkata : ''Kalau kamau semua tidak percaya, cobalah lihat pada kepala kamu, siapakah yang menaburkan pasir diatas kepalamu masing-masing itu?''

Kelima pemuda yang gagah perkasa lagi bersenjata lengkap yang bertugas membunuh Nabi Muhammad, itu lalu meraba kepala masing-masing dan saling memandang teman-temannya, dan ternyatalah bahwa diatas kepala mereka ada pasirnya.

''Ah, kurang ajar!'' sungut mereka itu. ''Siapakah yang menaburkan pasir di atas kepala kita? Ah, memang terlalu!''

Dalam pada itu mereka umumnya tidak mau percaya kepada perkataan-perkataan orang tua itu, sehingga salah seorang dari mereka mengetuk pintu rumah Nabi dengan sekeras-kerasnya sambil berteriak-teriak memanggil-manggil nama Nabi : ''Muhammad! Muhammad! Muhammad!'' demikianlah sampai berulang-ulang.

Oleh karena di luar rumah ada suara ramai-ramai dan ada yang mengetuk pintu dengan kerasnya, terbangunlah sahabat 'Ali r.a, dari tidurnya, lalu ia membukakan pintu itu dengan suara lemah lembut ia berkata :

''Ada apa?''

Mereka menyahut : ''Mana Muhammad?''

Sahabat 'Ali : ''Entah, saya tidak tahu.''

Mereka : ''Siapakah yang tidur tadi?''

Sahabat 'Ali : ''Sayalah yang tidur.''

Lalu mereka mengerubut sahabat 'Ali, dan diantara mereka ada yang masuk ke dalam rumah. Mereka berkata : '' 'Ali mana Muhammad? Sebetulnya ia pergi kemana?''

Ali menjawab : ''Saya tidak tahu, karena saya tidur mulai sore tadi.''

Mereka : ''Ah, amat mustahil kalau engkau sampai tidak tahu, senungguhnya bilamana Muhammad pergi dari rumah?''

'Ali menjawab : ''Saya berkata dengan terus terang, saya tidak tahu. Sebab saya tidur sejak sore tadi.''

Meraka : ''Hai 'Ali sebetulnya saja Muhammad sekarang dimana. Katakanlah dengan sebenarnya kepada kita!''

'Ali menjawab : ''Sebenarnya saya tidak tahu keman ia pergi.''

Mereka : ''Kalau engkau tidak mau berkata dengan sebenarnya, nanti engkau saya bunuh dengan ini, 'Ali!'' Mereka berkata itu sambil menunjukkan pedangnya yang terhunus kemuka 'Ali.

'Ali menjawab : ''Sekalipun saya hendak kamu bunuh, leher saya hendak kamu potong dengan itu, saya tetap berkata : tidak tahu, karena memang saya tidak tahu.''

Pendek kata sampai berulang-ulang mereka memaksa 'Ali supaya menerangkan ke mana kepergian Nabi Muhammad, tetapi ia tetap dengan teguh hati menjawab : ''Tidak tahu.''

Kemudian sahabat 'Ali di tarik keluar oleh mereka sambil di kerubut, lalu ditanya lagi oleh kelima orang pemuda itu dengan cara kejam, tetapi ia tetap menjawab ''Tidak Tahu''

Kemudian ia ditarik-tarik ke masjid, dan di dalam masjid ia di hujani dengan tendangan, tempelengan, pukulan, tinjuan dan sebagaianya oleh mereka, tetapi beliau tetap menjawab: ''Tidak Tahu.'' Demikianlah seterusnya, hingga lebih dari satu jam ia di aniaya oleh mereka. Tetapi akhirnya mereka melepaskan dia.

Friday, January 6, 2012

Iman Hijrah dan Jihad : Keputusan Rapat Tertutup itu.

Kemudian Abu Jahal menyerahkan pimpinan rapat ke tangan Abu Lahab, yang menerimanya dengan gembira. Sesudah itu Abu Jahal bangkit berdiri dengan tegaknya dan berbicara dengan lancarnya, mukanya kemerah-merahan serta air pelurnya bercucuran. Antara lain Abu Jahal berkata : ''Tuan-tuan dan saudara-saudara! Menurut pendapat saya, Muhammad itu harus selekasnya di bunuh, dipotong lehernya dan dipancung kepalanya, dengan tidak usah banyak omong lagi. Janganlah sampai terbuang tempo yang hanya sedikit, ia telah sangat memusingkan pikiran kita, menimbulkan kekacauan di antara kita, selalu menerbitkan kekacauan dalam bangsa sendiri, menyalahi agama kita dan agama yang dipeluk ole nenek-moyang kita, mencaci-maki Tuhaan-Tuhan kita yang telah beratus tahun dipuja dan disembah oleh para leluhur kita, membodoh-bodohkan para ulama kita dan mencerca adat istiadat kita, dan lain-lainnya. Dengan demikian telah nyata-nyata bahwa ia adalah seorang yang amat besar kesalahannya kepada kita!


Saya yakin Muhammad tidak akan sudi mengikut kepada kita, janganlah mengikut, sedangkan kita ajak berdamai saja telah tidak sudi. Cobalah tuan-tuan perhatikan! Barangkali tuan-tuan belum lupa akan masa yang sudah-sudah tentang bagaimana cara usaha kita yang telah kita jalankan agar ia mau meghentikan kelakuannya. Kita telah mengajak berdamai, tetapi ia sama sekali tidak mau menerima ajakan kita, bahkan membalasnya dengan ejekan yang amat menghinakan kita dan yang kita puja. Lalu ia kita balas dengan cara yang kasar pula, kita caci maki, kita hinakan, kita rendahkan, kita sakiti hatinya, sehingga pernah ia kita lempari batu, kita lempari kotoran keatas kepalanya, dan kerap kali rumahnya kita lempari barang-barang najis, kita lempari pasir kepalanya, setiap kita bertemu dengan dia dan pernah juga kepalanya kita lempari batu yang besar-besar. Tetapi ia tetap tidak bertibat kepada kita, bahkan lambat laun ia makin berani menetang kita.


Kecuali itu pernah juga ia dan pengikut-pengikutnya kita boikot dalam masa lebih kurang tiga tahun, sehingga mereka tidak bisa mendapat makanan sebagai biasanya, tidak dapat berpakaian seperti biasanya, namun ia tetap tidak mau tunduk kepada kita. Pendek kata telah cukuplah cara-cara dan usaha-usaha kita untuk merintangi Muhammad dan kelakuannya. Sebab itu ikhtiar kita sekarang ini tidak lain ialah ia harus kita pancung kepalanya atau kita tusuk perutnya. Dan kebetulan sekali, sekarang ini kawa-kawannya dan pengikut-pengikutnya serta komplotannya telah banyak yang melarikan diri, maka dari itu sekaranglah masanya jiwanya harus kita tewaskan!


Menurut hemat saya, sudah tidak ada gunanya jikalau ia diusir atau di buang dari Mekah, bahkan andaikata terjadi demikian, itu akan lebih berbahaya bagi kita kelak di kemudian hari. Dan tidak berguna juga ia kita penjarakan, kita aniaya, kita siksa setengah mati dan lain sebagainya, karena hal-hal ini pernah telah kita jalankan pada waktu yang sudah-sudah, dan hasilnya sia-sia belaka, bahkan kalau sekarang kita berbuat begitu lagi padanya, sangat berbahaya bagi kita, bukan? Oleh karena soal ini tidaklah perlu kita perbincangkan panjang lebar lagi, tetapi kita cukup kita putuskan saja, bahwa ia harus kita bunuh. Adapun cara membunuhnya, saya persilahkan kepada tuan-tuan dan saudara-saudara sekalian!


Sedang menurut pikiran saya, cara kita membunuh Muhammad itu begini saja. Kita harus mengambil pemuda-pemuda yang gagah berani lagi perkasa, mereka kita ambilkan dari suku-suku dan qabilah-qabilah yang di wakili dalam rapat ini sekarang. Tiap-tiap suku dan qabilah wajib memilih dan mengirimkan seorang pemudanya yang gagah perkasa dan mereka masing-masing harus kita bawai senjata tajam, terutama pedang. Kemudian kita suruh mereka itu datang bersama-sama ke rumah Muhammad, dan sesudah itu mereka bertemu dengan dia, dengan tidak usah berbicara sepatahpun, mereka masing-masing mengayunkan pedangnya sekali saja. Jadi kalau ada 50 orang pemuda, maka Muhammad sudah barang tentu kena pedang lima puluh kali. Dengan itu saja saya yakin bahwa seketika itu juga Muhammad pasti binasa.''


Demikianlah pendapat Abu Jahal dalam rapat itu. Lalu usul Abu Jahal itu diserahkan oleh pimpinan kepada hadlirin untuk dipertimbangkan. Dan ternyata tidak seorangpun dari hadlirin yang berani menolaknya, mengurangi dan menambah keterangan usul itu. Seluruh hadlirin diam, kecuali hanya orang tua dari Najdi penasehat itu yang mengangkat tangannya dan mengacungkan jari telunjuknya kepada pimpinan, menunjukkan bahwa ia hendak berbicara.


Setelah pimpinan rapat mingidzinkan dia berbicara, ia berkata : ''Saya sangat menyetujui pendapat dan usul yang di kemukakan oleh 'Amr bin Hisyam (Abu Jahal), tidak ada pendapat dan usul yang lebih baik dari pada itu. Karena memang sudah tiba saatnya Muhammad harus kita bunuh dengan selekas mungkin. Hanya saja saya akan mengemukakan sedikit pertimbangan mengenai usul itu. Yakni cara kita memancung kepala Muhammad dari tubuhnya itu tidak usah dengan mengambil pemuda-pemuda sebanyak 50 orang tetapi cukup kita ambil 5 orang pemuda yang gagah perkasa lagi berani dan mereka ini cukup kita ambil dari pemuda-pemuda yang sekarang ini ada disini (yang hadlir dalam rapat itu) dan dari suku-suku Quraisy saja, dan mereka itu harus di persenjatai pedang yang amat tajamnya dan senjata lain sampai lengkap. Saya bekeyakinan bahwa melawan kelima orang pemuda tersebut Muhammad sekali-kali tidak akan menang. Adapun cara kelima orang itu membunuh Muhammad, demikianlah menurut pendapat saya :'' Kelima-limanya harus harus datang bersama-sama ke rumah Muhammad, yang empat harus berdiri di depang pintu rumahnya, dan seorang lainnya (diambilkan yang paling gagah berani dan perkasa) mengetuk pintu yang biasanya di buat jalan keluar dari rumah. Seketika dia keluar dari rumah, seketika itu pula mukanya harus ditampar dengan pedang, kemudian harus dikerubut oleh kelima orang pemuda itu dan masing-masing harus memberikan tusukan-tusukan yang hebat kepadanya. Demikianlah cara yang semudah-mudahnya dari saya. Selain dari pada itu, apabila kelima orang pemuda kita itu telah membawa Muhammad ke hadapan kita, harus kita beri hadiah paling sedikit 1000 dinar.


Adapun jika kita ingin turut mengepung rumah Muhammad dan menyaksikan pembunuhan itu, itu tidak ada salahnya.'' demikianlah pertimbangan orang tua penasehat tersebut terhadap usul Abu Jahal.


Kemudian rapat itu menyetujui pendapat dan usul Abu Jahal yang telah sedikit diubah oleh penasehat iblis itu, dan akhirnya rapat itu menjadikannya sebagai keputusan rapat.


Sesudah rapat dengan suara bulat memutuskan hendak membunuh diri Nabi Muhammad s.a.w. maka sebagai penutup pimpinan rapat (Abu Lahab) berkata : ''Demi berhala-berhala Latta dan 'Uzza! Sunggih rapat kita yang mulia ini telah memutuskan suatu perkara yang tidak ringan kita kerjakan, dan sangat penteng bagi kita, ialah membunuh Muhammad dan membinasakan dia, yang telah nyata-nyata memusuhi kamu, hai berhala Latta da' Uzza! Maka dari itu mudah-mudahan keputusan itu segera dapatlah dilaksanakan! Demi arwah orang-orang tua kita dan leluhur-leluhur kita moga-moga keputusan rapat ini di beri berkah, agar supaya dapatlah kita melaksanakannya dengan semestinya, dan akhirnya dapatlah Muhammad dan para pengikutnya segera lenyap dari bumi Mekah dan sekelilingnya!''


Lalu pimpinan rapat dikembalikan ketangan Abu Jahal dan Akhirnya Abu Jahal menutup rapat yang hebat ini dengan gembira.

Perhatian kepada para sahabat mwb,
Mohon kesediaanya untuk klik SUKA pada halaman Facebook kami yaitu Iman Hijrah dan Jihad, agar jalan dakwah lewat blogger mwb ini lekas tersiar ke seluruh penjuru dunia internet dan dunia nyata, dan lebih mudah pula para sahabat mendapatkan update post terbaru, biasanya kami mempost dulu di halaman Facebook apa yang akan kami postkan di Blogger/Blogspot.com maupun di MyWapBlog.com.

Dan jangan lupa untuk selalu share ke Facebook atau pun Twitter ataupun di copas di blog anda yang lain, mudah-mudahan Allah memberikan pahala jariah kepada sahabat semua.

Bagi sahabat yang punya Blogspot.com dan MyWapBlog.com ingin kami kunjungi silahkan berkomentar di blog kami dengan alamat :
Iman Hijrah dan Jihad
http://ImanHijrahdanJihad.blogspot.com
http://MekahMadinah.mywapblog.com
Terimakasih

Iman Hijrah dan Jihad : Keputusan Rapat Tertutup itu.

Kemudian Abu Jahal menyerahkan pimpinan rapat ke tangan Abu Lahab, yang menerimanya dengan gembira. Sesudah itu Abu Jahal bangkit berdiri dengan tegaknya dan berbicara dengan lancarnya, mukanya kemerah-merahan serta air pelurnya bercucuran. Antara lain Abu Jahal berkata : ''Tuan-tuan dan saudara-saudara! Menurut pendapat saya, Muhammad itu harus selekasnya di bunuh, dipotong lehernya dan dipancung kepalanya, dengan tidak usah banyak omong lagi. Janganlah sampai terbuang tempo yang hanya sedikit, ia telah sangat memusingkan pikiran kita, menimbulkan kekacauan di antara kita, selalu menerbitkan kekacauan dalam bangsa sendiri, menyalahi agama kita dan agama yang dipeluk ole nenek-moyang kita, mencaci-maki Tuhaan-Tuhan kita yang telah beratus tahun dipuja dan disembah oleh para leluhur kita, membodoh-bodohkan para ulama kita dan mencerca adat istiadat kita, dan lain-lainnya. Dengan demikian telah nyata-nyata bahwa ia adalah seorang yang amat besar kesalahannya kepada kita!


Saya yakin Muhammad tidak akan sudi mengikut kepada kita, janganlah mengikut, sedangkan kita ajak berdamai saja telah tidak sudi. Cobalah tuan-tuan perhatikan! Barangkali tuan-tuan belum lupa akan masa yang sudah-sudah tentang bagaimana cara usaha kita yang telah kita jalankan agar ia mau meghentikan kelakuannya. Kita telah mengajak berdamai, tetapi ia sama sekali tidak mau menerima ajakan kita, bahkan membalasnya dengan ejekan yang amat menghinakan kita dan yang kita puja. Lalu ia kita balas dengan cara yang kasar pula, kita caci maki, kita hinakan, kita rendahkan, kita sakiti hatinya, sehingga pernah ia kita lempari batu, kita lempari kotoran keatas kepalanya, dan kerap kali rumahnya kita lempari barang-barang najis, kita lempari pasir kepalanya, setiap kita bertemu dengan dia dan pernah juga kepalanya kita lempari batu yang besar-besar. Tetapi ia tetap tidak bertibat kepada kita, bahkan lambat laun ia makin berani menetang kita.


Kecuali itu pernah juga ia dan pengikut-pengikutnya kita boikot dalam masa lebih kurang tiga tahun, sehingga mereka tidak bisa mendapat makanan sebagai biasanya, tidak dapat berpakaian seperti biasanya, namun ia tetap tidak mau tunduk kepada kita. Pendek kata telah cukuplah cara-cara dan usaha-usaha kita untuk merintangi Muhammad dan kelakuannya. Sebab itu ikhtiar kita sekarang ini tidak lain ialah ia harus kita pancung kepalanya atau kita tusuk perutnya. Dan kebetulan sekali, sekarang ini kawa-kawannya dan pengikut-pengikutnya serta komplotannya telah banyak yang melarikan diri, maka dari itu sekaranglah masanya jiwanya harus kita tewaskan!


Menurut hemat saya, sudah tidak ada gunanya jikalau ia diusir atau di buang dari Mekah, bahkan andaikata terjadi demikian, itu akan lebih berbahaya bagi kita kelak di kemudian hari. Dan tidak berguna juga ia kita penjarakan, kita aniaya, kita siksa setengah mati dan lain sebagainya, karena hal-hal ini pernah telah kita jalankan pada waktu yang sudah-sudah, dan hasilnya sia-sia belaka, bahkan kalau sekarang kita berbuat begitu lagi padanya, sangat berbahaya bagi kita, bukan? Oleh karena soal ini tidaklah perlu kita perbincangkan panjang lebar lagi, tetapi kita cukup kita putuskan saja, bahwa ia harus kita bunuh. Adapun cara membunuhnya, saya persilahkan kepada tuan-tuan dan saudara-saudara sekalian!


Sedang menurut pikiran saya, cara kita membunuh Muhammad itu begini saja. Kita harus mengambil pemuda-pemuda yang gagah berani lagi perkasa, mereka kita ambilkan dari suku-suku dan qabilah-qabilah yang di wakili dalam rapat ini sekarang. Tiap-tiap suku dan qabilah wajib memilih dan mengirimkan seorang pemudanya yang gagah perkasa dan mereka masing-masing harus kita bawai senjata tajam, terutama pedang. Kemudian kita suruh mereka itu datang bersama-sama ke rumah Muhammad, dan sesudah itu mereka bertemu dengan dia, dengan tidak usah berbicara sepatahpun, mereka masing-masing mengayunkan pedangnya sekali saja. Jadi kalau ada 50 orang pemuda, maka Muhammad sudah barang tentu kena pedang lima puluh kali. Dengan itu saja saya yakin bahwa seketika itu juga Muhammad pasti binasa.''


Demikianlah pendapat Abu Jahal dalam rapat itu. Lalu usul Abu Jahal itu diserahkan oleh pimpinan kepada hadlirin untuk dipertimbangkan. Dan ternyata tidak seorangpun dari hadlirin yang berani menolaknya, mengurangi dan menambah keterangan usul itu. Seluruh hadlirin diam, kecuali hanya orang tua dari Najdi penasehat itu yang mengangkat tangannya dan mengacungkan jari telunjuknya kepada pimpinan, menunjukkan bahwa ia hendak berbicara.


Setelah pimpinan rapat mingidzinkan dia berbicara, ia berkata : ''Saya sangat menyetujui pendapat dan usul yang di kemukakan oleh 'Amr bin Hisyam (Abu Jahal), tidak ada pendapat dan usul yang lebih baik dari pada itu. Karena memang sudah tiba saatnya Muhammad harus kita bunuh dengan selekas mungkin. Hanya saja saya akan mengemukakan sedikit pertimbangan mengenai usul itu. Yakni cara kita memancung kepala Muhammad dari tubuhnya itu tidak usah dengan mengambil pemuda-pemuda sebanyak 50 orang tetapi cukup kita ambil 5 orang pemuda yang gagah perkasa lagi berani dan mereka ini cukup kita ambil dari pemuda-pemuda yang sekarang ini ada disini (yang hadlir dalam rapat itu) dan dari suku-suku Quraisy saja, dan mereka itu harus di persenjatai pedang yang amat tajamnya dan senjata lain sampai lengkap. Saya bekeyakinan bahwa melawan kelima orang pemuda tersebut Muhammad sekali-kali tidak akan menang. Adapun cara kelima orang itu membunuh Muhammad, demikianlah menurut pendapat saya :'' Kelima-limanya harus harus datang bersama-sama ke rumah Muhammad, yang empat harus berdiri di depang pintu rumahnya, dan seorang lainnya (diambilkan yang paling gagah berani dan perkasa) mengetuk pintu yang biasanya di buat jalan keluar dari rumah. Seketika dia keluar dari rumah, seketika itu pula mukanya harus ditampar dengan pedang, kemudian harus dikerubut oleh kelima orang pemuda itu dan masing-masing harus memberikan tusukan-tusukan yang hebat kepadanya. Demikianlah cara yang semudah-mudahnya dari saya. Selain dari pada itu, apabila kelima orang pemuda kita itu telah membawa Muhammad ke hadapan kita, harus kita beri hadiah paling sedikit 1000 dinar.


Adapun jika kita ingin turut mengepung rumah Muhammad dan menyaksikan pembunuhan itu, itu tidak ada salahnya.'' demikianlah pertimbangan orang tua penasehat tersebut terhadap usul Abu Jahal.


Kemudian rapat itu menyetujui pendapat dan usul Abu Jahal yang telah sedikit diubah oleh penasehat iblis itu, dan akhirnya rapat itu menjadikannya sebagai keputusan rapat.


Sesudah rapat dengan suara bulat memutuskan hendak membunuh diri Nabi Muhammad s.a.w. maka sebagai penutup pimpinan rapat (Abu Lahab) berkata : ''Demi berhala-berhala Latta dan 'Uzza! Sunggih rapat kita yang mulia ini telah memutuskan suatu perkara yang tidak ringan kita kerjakan, dan sangat penteng bagi kita, ialah membunuh Muhammad dan membinasakan dia, yang telah nyata-nyata memusuhi kamu, hai berhala Latta da' Uzza! Maka dari itu mudah-mudahan keputusan itu segera dapatlah dilaksanakan! Demi arwah orang-orang tua kita dan leluhur-leluhur kita moga-moga keputusan rapat ini di beri berkah, agar supaya dapatlah kita melaksanakannya dengan semestinya, dan akhirnya dapatlah Muhammad dan para pengikutnya segera lenyap dari bumi Mekah dan sekelilingnya!''


Lalu pimpinan rapat dikembalikan ketangan Abu Jahal dan Akhirnya Abu Jahal menutup rapat yang hebat ini dengan gembira.

Perhatian kepada para sahabat mwb,
Mohon kesediaanya untuk klik SUKA pada halaman Facebook kami yaitu Iman Hijrah dan Jihad, agar jalan dakwah lewat blogger mwb ini lekas tersiar ke seluruh penjuru dunia internet dan dunia nyata, dan lebih mudah pula para sahabat mendapatkan update post terbaru, biasanya kami mempost dulu di halaman Facebook apa yang akan kami postkan di Blogger/Blogspot.com maupun di MyWapBlog.com.

Dan jangan lupa untuk selalu share ke Facebook atau pun Twitter ataupun di copas di blog anda yang lain, mudah-mudahan Allah memberikan pahala jariah kepada sahabat semua.

Bagi sahabat yang punya Blogspot.com dan MyWapBlog.com ingin kami kunjungi silahkan berkomentar di blog kami dengan alamat :
Iman Hijrah dan Jihad
http://ImanHijrahdanJihad.blogspot.com
http://MekahMadinah.mywapblog.com
Terimakasih

Iman Hijrah dan Jihad : Keputusan Rapat Tertutup itu.

Kemudian Abu Jahal menyerahkan pimpinan rapat ke tangan Abu Lahab, yang menerimanya dengan gembira. Sesudah itu Abu Jahal bangkit berdiri dengan tegaknya dan berbicara dengan lancarnya, mukanya kemerah-merahan serta air pelurnya bercucuran. Antara lain Abu Jahal berkata : ''Tuan-tuan dan saudara-saudara! Menurut pendapat saya, Muhammad itu harus selekasnya di bunuh, dipotong lehernya dan dipancung kepalanya, dengan tidak usah banyak omong lagi. Janganlah sampai terbuang tempo yang hanya sedikit, ia telah sangat memusingkan pikiran kita, menimbulkan kekacauan di antara kita, selalu menerbitkan kekacauan dalam bangsa sendiri, menyalahi agama kita dan agama yang dipeluk ole nenek-moyang kita, mencaci-maki Tuhaan-Tuhan kita yang telah beratus tahun dipuja dan disembah oleh para leluhur kita, membodoh-bodohkan para ulama kita dan mencerca adat istiadat kita, dan lain-lainnya. Dengan demikian telah nyata-nyata bahwa ia adalah seorang yang amat besar kesalahannya kepada kita!


Saya yakin Muhammad tidak akan sudi mengikut kepada kita, janganlah mengikut, sedangkan kita ajak berdamai saja telah tidak sudi. Cobalah tuan-tuan perhatikan! Barangkali tuan-tuan belum lupa akan masa yang sudah-sudah tentang bagaimana cara usaha kita yang telah kita jalankan agar ia mau meghentikan kelakuannya. Kita telah mengajak berdamai, tetapi ia sama sekali tidak mau menerima ajakan kita, bahkan membalasnya dengan ejekan yang amat menghinakan kita dan yang kita puja. Lalu ia kita balas dengan cara yang kasar pula, kita caci maki, kita hinakan, kita rendahkan, kita sakiti hatinya, sehingga pernah ia kita lempari batu, kita lempari kotoran keatas kepalanya, dan kerap kali rumahnya kita lempari barang-barang najis, kita lempari pasir kepalanya, setiap kita bertemu dengan dia dan pernah juga kepalanya kita lempari batu yang besar-besar. Tetapi ia tetap tidak bertibat kepada kita, bahkan lambat laun ia makin berani menetang kita.


Kecuali itu pernah juga ia dan pengikut-pengikutnya kita boikot dalam masa lebih kurang tiga tahun, sehingga mereka tidak bisa mendapat makanan sebagai biasanya, tidak dapat berpakaian seperti biasanya, namun ia tetap tidak mau tunduk kepada kita. Pendek kata telah cukuplah cara-cara dan usaha-usaha kita untuk merintangi Muhammad dan kelakuannya. Sebab itu ikhtiar kita sekarang ini tidak lain ialah ia harus kita pancung kepalanya atau kita tusuk perutnya. Dan kebetulan sekali, sekarang ini kawa-kawannya dan pengikut-pengikutnya serta komplotannya telah banyak yang melarikan diri, maka dari itu sekaranglah masanya jiwanya harus kita tewaskan!


Menurut hemat saya, sudah tidak ada gunanya jikalau ia diusir atau di buang dari Mekah, bahkan andaikata terjadi demikian, itu akan lebih berbahaya bagi kita kelak di kemudian hari. Dan tidak berguna juga ia kita penjarakan, kita aniaya, kita siksa setengah mati dan lain sebagainya, karena hal-hal ini pernah telah kita jalankan pada waktu yang sudah-sudah, dan hasilnya sia-sia belaka, bahkan kalau sekarang kita berbuat begitu lagi padanya, sangat berbahaya bagi kita, bukan? Oleh karena soal ini tidaklah perlu kita perbincangkan panjang lebar lagi, tetapi kita cukup kita putuskan saja, bahwa ia harus kita bunuh. Adapun cara membunuhnya, saya persilahkan kepada tuan-tuan dan saudara-saudara sekalian!


Sedang menurut pikiran saya, cara kita membunuh Muhammad itu begini saja. Kita harus mengambil pemuda-pemuda yang gagah berani lagi perkasa, mereka kita ambilkan dari suku-suku dan qabilah-qabilah yang di wakili dalam rapat ini sekarang. Tiap-tiap suku dan qabilah wajib memilih dan mengirimkan seorang pemudanya yang gagah perkasa dan mereka masing-masing harus kita bawai senjata tajam, terutama pedang. Kemudian kita suruh mereka itu datang bersama-sama ke rumah Muhammad, dan sesudah itu mereka bertemu dengan dia, dengan tidak usah berbicara sepatahpun, mereka masing-masing mengayunkan pedangnya sekali saja. Jadi kalau ada 50 orang pemuda, maka Muhammad sudah barang tentu kena pedang lima puluh kali. Dengan itu saja saya yakin bahwa seketika itu juga Muhammad pasti binasa.''


Demikianlah pendapat Abu Jahal dalam rapat itu. Lalu usul Abu Jahal itu diserahkan oleh pimpinan kepada hadlirin untuk dipertimbangkan. Dan ternyata tidak seorangpun dari hadlirin yang berani menolaknya, mengurangi dan menambah keterangan usul itu. Seluruh hadlirin diam, kecuali hanya orang tua dari Najdi penasehat itu yang mengangkat tangannya dan mengacungkan jari telunjuknya kepada pimpinan, menunjukkan bahwa ia hendak berbicara.


Setelah pimpinan rapat mingidzinkan dia berbicara, ia berkata : ''Saya sangat menyetujui pendapat dan usul yang di kemukakan oleh 'Amr bin Hisyam (Abu Jahal), tidak ada pendapat dan usul yang lebih baik dari pada itu. Karena memang sudah tiba saatnya Muhammad harus kita bunuh dengan selekas mungkin. Hanya saja saya akan mengemukakan sedikit pertimbangan mengenai usul itu. Yakni cara kita memancung kepala Muhammad dari tubuhnya itu tidak usah dengan mengambil pemuda-pemuda sebanyak 50 orang tetapi cukup kita ambil 5 orang pemuda yang gagah perkasa lagi berani dan mereka ini cukup kita ambil dari pemuda-pemuda yang sekarang ini ada disini (yang hadlir dalam rapat itu) dan dari suku-suku Quraisy saja, dan mereka itu harus di persenjatai pedang yang amat tajamnya dan senjata lain sampai lengkap. Saya bekeyakinan bahwa melawan kelima orang pemuda tersebut Muhammad sekali-kali tidak akan menang. Adapun cara kelima orang itu membunuh Muhammad, demikianlah menurut pendapat saya :'' Kelima-limanya harus harus datang bersama-sama ke rumah Muhammad, yang empat harus berdiri di depang pintu rumahnya, dan seorang lainnya (diambilkan yang paling gagah berani dan perkasa) mengetuk pintu yang biasanya di buat jalan keluar dari rumah. Seketika dia keluar dari rumah, seketika itu pula mukanya harus ditampar dengan pedang, kemudian harus dikerubut oleh kelima orang pemuda itu dan masing-masing harus memberikan tusukan-tusukan yang hebat kepadanya. Demikianlah cara yang semudah-mudahnya dari saya. Selain dari pada itu, apabila kelima orang pemuda kita itu telah membawa Muhammad ke hadapan kita, harus kita beri hadiah paling sedikit 1000 dinar.


Adapun jika kita ingin turut mengepung rumah Muhammad dan menyaksikan pembunuhan itu, itu tidak ada salahnya.'' demikianlah pertimbangan orang tua penasehat tersebut terhadap usul Abu Jahal.


Kemudian rapat itu menyetujui pendapat dan usul Abu Jahal yang telah sedikit diubah oleh penasehat iblis itu, dan akhirnya rapat itu menjadikannya sebagai keputusan rapat.


Sesudah rapat dengan suara bulat memutuskan hendak membunuh diri Nabi Muhammad s.a.w. maka sebagai penutup pimpinan rapat (Abu Lahab) berkata : ''Demi berhala-berhala Latta dan 'Uzza! Sunggih rapat kita yang mulia ini telah memutuskan suatu perkara yang tidak ringan kita kerjakan, dan sangat penteng bagi kita, ialah membunuh Muhammad dan membinasakan dia, yang telah nyata-nyata memusuhi kamu, hai berhala Latta da' Uzza! Maka dari itu mudah-mudahan keputusan itu segera dapatlah dilaksanakan! Demi arwah orang-orang tua kita dan leluhur-leluhur kita moga-moga keputusan rapat ini di beri berkah, agar supaya dapatlah kita melaksanakannya dengan semestinya, dan akhirnya dapatlah Muhammad dan para pengikutnya segera lenyap dari bumi Mekah dan sekelilingnya!''


Lalu pimpinan rapat dikembalikan ketangan Abu Jahal dan Akhirnya Abu Jahal menutup rapat yang hebat ini dengan gembira.

Perhatian kepada para sahabat mwb,
Mohon kesediaanya untuk klik SUKA pada halaman Facebook kami yaitu Iman Hijrah dan Jihad, agar jalan dakwah lewat blogger mwb ini lekas tersiar ke seluruh penjuru dunia internet dan dunia nyata, dan lebih mudah pula para sahabat mendapatkan update post terbaru, biasanya kami mempost dulu di halaman Facebook apa yang akan kami postkan di Blogger/Blogspot.com maupun di MyWapBlog.com.

Dan jangan lupa untuk selalu share ke Facebook atau pun Twitter ataupun di copas di blog anda yang lain, mudah-mudahan Allah memberikan pahala jariah kepada sahabat semua.

Bagi sahabat yang punya blogspot dan ingin kami kunjungi silahkan berkomentar di blog kami dengan alamat :
Iman Hijrah dan Jihad
http://ImanHijrahdanJihad.blogspot.com

Terimakasih

Thursday, January 5, 2012

Iman Hijrah dan Jihad : Berbagai-bagai Usul dalam Rapat itu.

Rapat itu dibuka oleh Abu Jahal dengan pembukaan, dalam mana menguraikannya tentang diri Nabi s.a.w. daan pergerakan yang di kobar-kobarkan olehnya dan menerangkan adanya berbagai-bagai rintangan yang telah diperbuat oleh kepala-kepala kaum Quraisy atas diri Nabi s.a.w dan para pengikutnya. Dan akhirnya antara lain Abu Jahal berkata : '' Hari ini para pemuka dan ketua dari Qabilah-qabilah Arab dan pemimpin-pemimpin Quraisy serta pembesar-pembesar dari tiap-tiap suku bangsa Quraisy harus mengambil keputusan yang sesungguhnya : Cara apa yang hendak kita jalankan untuk memusnahkan pergerakkan Muhammad yang sedang mulai bernyala-nyala di segenap penjuru daerah Hijaz ini? Rapat ini adalah rapat kita yang terakhir untuk memecahkan soal ini. Marilah soal ini kita perbincangkan bersama-sama sebelum kita mengambil suatu keputusan yang pasti!'' demikianlah rapat ini telah dibuka.


Setelah rapat itu mulai membicarakan usul-usul dari pada hadlirin, ada yang mengemukakan usul : ''Bahwa sebaiknya Muhammad itu di jaga saja di rumahnya. Dimuka, di belakang dikiri dikanan rumah itu diadakan penjagaan yang kuat, agar ia tidak berani keluar dari rumahnya. Adapun jika ia sampai berani keluar sewaktu-waktu, ditangkap saja dan terus dimasukkan ke dalam penjara, biar dia mati dengan sendirinya.


Ada pula yang mengusulkan : ''Lebih baik Muhammad itu dipenjarakan dalam surau rumah dengan di ikat kokoh-kokoh dan jendela rumah itu jangan di buka-buka. Makanan cukup dilemparkan dari luar, dan lain-lainnya hingga ia binasa.''


Segera bersuaralah orang tua penasehat tersebut : ''Oh, janganlah dia diperlakukan seperti itu! Saya tidaklah mufakat, Demi ALLAH! Jika sekiranya tuan-tuan berbuat demikian kepadanya tentulah sia-sia belaka. Sebab tuan-tuan telah tahu bahwa Muhammad itu adalah seorang yang cerdik dan licin. Karena jika dia diperlakukan semacam itu tentulah perintah-perintahnya dapat menembus melalui pintu keluar rumah kepada sahabat-sahabatnya, selanjutnya dapat juga pengikut-pengikutnya menolong dia, dengan jalan melompat dari luar pagar, dan akhirnya melepaskan dia dari ikatan tuan-tuan, bukan?'' Demikianlah nasehat orang tua itu.


Dengaan serentak hadlirin menyahut : ''Betul katamu, hai orang tua! Memang sungguh betul begitu!''

Kemudian ada seorang yang berpendapat : ''Sebaiknya Muhammad itu ditangkap saja lalu di jirat dan di masukkan ke dalam peti mati dan ditutup rapat-rapat sampai ia binasa, habis perkara.''


Seorang lainnya berpendapat : ''Sebaiknya Muhammad itu kita serbu bersama-sama di rumahnya, lalu kita tangkap dan kita jirat, kemudian kita bawa dan pertontonkan di muka khalayak ramai. Akhirnya kita lihat saja nantinya bagaimana halnya, apakah ia mau merubah pikirannya atau tidak.''


Seorang lainnya lagi memaparkan pendapatnya : '' Oh, jangan begitu! Menurut hemat saya sebaiknya demikian : Kita, kepala-kepala dan ketua-ketua kaum Quraisy datang bersama-sama ke rumah Muhammad, lalu lebih dahulu kita bertanya kepadanya, apakah ia sanggup meghentikan kelakuannya yang sudah-sudah atau tidak. Jika Tidak, ia kita tangkap bersama-sama dan kita jirat lalu kita bawa kehadapan rapat ini. Kemudian terserah bagaimana sikap kita terhadap dirinya daan hukuman apa yang hendak kita jatuhkan atas dirinya. Biar dia mendengarnya sendiri disini.''


Oleh pimpinan rapat tentang usul-usul semacam itu dimintakan nasehat dari penasehat orang tua si iblis itu.


Pensehat itu memberikan nasehatnya kepada pimpinan rapat : ''Pendapat-pendapat itu kesemuanya belum dapat saya setujui. Maka itu carilah pendapat yang lain!''


Selanjutnya ada seorang lagi yang mengusulkan : ''Menurut hemat saya hal ini tidak usah saya bicarakan dengan panjang lebar. Sekarang sebaiknya kita memutuskan saja, untuk menyuruh dua orang gagah berani lagi perkasa buat menangkap Muhammad. Lalu ia di ikat dan di campakkan kedalam sumur, habis perkara. Sebab telah nyata-nyata bagi kita bahwa ia adalah seorang yang berani memecahkan persatuan dan kesatuan kita yang sudah kokoh dan melanggar serta menyalahi adat-istiadat kita yang telah beratus tahun di kerjakan oleh orang-orang tua kita.''


Ada pula seorang mengajukan usul demikian : ''Sekarang baiknya begini saja. Muhammad itu kita datangi bersama-sama dirumahnya lalu kita tanya dengan paksa, apakah ia mau tunduk dan mengikut kehendak kita atau tidak. Jika telah nyata bahwa ia tidak mau tunduk, sebiknya kita tangkap bersama-sama, kita bawa keluar rumahnya kemudian kita sakiti sedikit demi sedikit, agar ia jangan sampai mati. Sebab, kasian jika ia sampai mati. Maklumlah, karena ia itu adalah seorang anggauta kerabat kita, keturunan dari pahlawan-pahlawan kita dahulu. Bukankah kita sekalian masih mempunyai hubungan kekeluargaan dengan dia? Dengan cara demikian, barangkali saja kelak ia mau tunduk dan mau mengikuti kita.''

Ada lagi seorang berpendapat : ''Pendapat saya tidak begitu, sekalipun ia termasuk daripada kerabat kita, tetapi ia telah nyata-nyata memusuhi kita, maka dari itu lebih baik kita usir dari Mekah ketempat yang jauh benar-benar dari pergaulan kita untuk selama-lamanya. Sebab kalau kita aniaya di Mekah, sudah tentu pengikut-pengikutnya sama datang membelanya dengan sekuat-kuatnya, dan akibatnya disini tentulah terjadi pertumpahan darah antara sesama kita sendiri, bukan?''

Dengan suara perlahan-lahan orang tua penasehat itu memberikan nasehatnya : ''Menurut pertimbangan saya, tuan-tuan janganlah Muhammad diusir ke luar negeri, karena kalau ia diusir tentulah di tempat lain ia masih dapat menyiarkan pergerakannya.

Tentu hal ini telah tuan-tuan mengerti dan maklumi. Ia adalah seorang yang lidahnya licin, perkataanya lemah-lembut, suaranya manis dan ceriteranya menyenangkan. Sebab itu dimana saja ia tentu dapat memikat hati orang lain, bukan? Kita harus menginsyafi hal ini. Jadi kalu ia diusir keluar negeri tentulah ia akan memperoleh pengikut yang lebih banyak dan akhirnya dapat juga ia melawan dan mengalahkan tuan-tuan. Jadi saya tidak menyetujui usul pengusiran Muhammad.''


Nasehat itu disambut oleh hadlirin dengan serentak: ''Sungguh betul demi ALLAH, kata tuan yang terhormat itu. Kita mufakat bahwa jangan sampai ia diusir, sebab itu lebih berbahaya dan lebih menguatirkan!''


Demikianlah dalam Gedung Darun Nadwah itu terdengar suara gemuruh, sehingga penasehat itu berkata lagi : '' Tuan-tuan hadlirin yang terhormat! Dalam memperbincangkan tentang diri Muhammad janganlah terdengar suara yang riuh dan ramai, dan kita yang berapat ini orang-orang yang terpilih, bukan? Sebagai bukti, tatkala tadi saya mau masuk ikut berapat ini terus saja ditegur dengan keras oleh tuan-tuan pengurus rapat. Oleh sebab itu saya peringatkan sekali lagi, janganlah kita berunding dengan beramai-ramai sehingga suara kita terdengar dari luar. Sekarang marilah kita berunding dengan suara perlahan-lahan saja, karena saya khwatir, kalau-kalau rapat ini didengar oleh Muhammad. Kecuali itu saya peringatkan pula bahwa permusywaratan ini janganlah terhenti pada permusyawaratan saja, dengan tidak dapat mengambil keputusan, tetapi hendaklah dengan segera di perbincangkan dan diambil suatu keputusan. Karena seandainya hari ini rapat ini, tidak dapat mengambil suatu keputusan yang jitu, saya khawatir kalau-kalau rapat ini terdengar oleh Muhammad. Perlu saya terangkan bahwa Muhammad itu bukan orang sembarangan, ia adalah seorang yang mempunyai mata-mata dari orang halus .... Jadi andaikata rapat hari ini tidak segera mengambil keputusan yang pasti, niscaya tentara Muhammad orang-orang halus itu akan mengetahuinya dan mengabarkan kepadanya. Jika terjadi begitu, sudah barang tentu ia akan lekas melarikan diri dari sini, bukan?''

Peringatan penasehat itu diterima oleh rapat pimpinan dengan senang hati. Lalu oleh pimpinan rapat penasehat itu dimintai pertimbangannya yang tepat dan jitu.


Penasehat yang ''mulia'' itu menjawab :''Apakah dalam rapat ini tidak ada lagi yang mempunyai pendapat yang lain dari pendapat-pendapat yang sudah-sudah tadi? Karena saya berpendapat bahwa saya belum atau tidak menyetujui semua usul tadi itu. Maka dari itu cobalah sekali lagi kita masing-masing mengemukakan pendapat lain lagi dan pimpinan rapat hendaknya menawarkan hal ini kepada hadlirin.''


Nasehat-masehat itu diterima bulat-bulat oleh pimpinan rapat, dan kemudian ditawarkan keapda hadlirin. Pada waktu itu rapat menjadi sejuk, tidak ada lagi dari hadlirin yang mengemukakan usulnya kepada rapat. Pimpinan rapat menunggu beberapa menit supaya ada dari antara hadlirin yang mengemukakan pendapatnya, tetapi suasana rapat terus dingin.


Kemudian pimpinan rapat berkata:''Oleh karena sudah tidak ada lagi yang memaparkan pendapatnya, maka perlulah rasanya saya mengajukan usul saya sendiri kepada rapat. Dan karena usul yang hendak saya kemukakan itu agak panjang, maka sebaiknya pimpinan rapat ini saya serahkan kepada Abu Lahab. Apakah Hadlirin setuju?''

Dengan segera hadlirin menyahut: ''Setuju!''

Wednesday, January 4, 2012

Iman Hijrah dan Jihad : Rapat tertutup kepala-kepala kaum Quraisy

Sesudah kepala-kepala dan ketua-ketua kaum Musyrikin Quraisy kehabisan jalan untuk menewaskan jiwa Nabi s.a.w., dan fikiran mereka siang dan malam terus-menerus pusing, maka mereka lalu mengadakan suatu rapat tertutup yang luar biasa. Yang di undang untuk menghadiri rapat itu ialah para kepala dan ketua suku-suku dan qabilah-qabilah dari bangsa Quraisy, serta orang-orang terpandang. Tidak seorangpun di perkenankan turut menghadirinya melainkan orang-orang yang di undang. Jika diantara yang di undang itu tidak dapat datang karena berhalangan, maka ia harus mengirimkan wakilnya yang sangat boleh di percaya. Rapat itu bertempat di ''Darun-Nadwah'' seperti biasanya ; sebab mereka tidak akan memecahkan suatu perkara yang sulit atau merundingkan suatu hal yang penting melainkan di didalam gedung tersebut.


Rapat itu dilangsungkan pada hari Sabtu akhir bulan Shofar tahun ke 13 dari ke-Nabian Nabi s.a.w., dan di kunjungi oleh lebih kurang 100 orang, yang terdiri dari kepala-kepala dari qabilah-qabilah di kota Mekah dan sekelilingnya, dan masing-masing telah berusia lebih dari empat puluh tahun, dan tiada seorangpun yang diundang tak datang melainkan mengutus orang yang dia percaya untuk mewakilinya. Dengan tegas : Tidak ada satupun qabilah atau suku yang di undang tidak di wakili dalam rapat itu, karena mereka telah mengerti bahwa yang akan di perbincangkan dalam rapat itu adalah suatu hal yang amat penting. Dari kepala-kepala suku Quraisy tidak ada yang tidak datang, dan diantaranya ialah dari suku Bani 'Abdi Syamsin, 'Atbah bin Rabiah, dan Syaibah bin Rabiah dari suku Bani Naufal, Harst bin Amir dari suku Bani 'Ady, Thu'aimah bin Muth'im dari suku Bani Abdu-Dar, Nadhar bin Harist dari suku Bani Asad, Abul Bukhtary bin Hisyam dan Zam'ah bin Al-Aswad dari suku Bani Makhzum, Abu Jahal bin Hisyam dari suku Bani Sahmin, Nabih bin Hujjaj dari suku Bani Jumah, Ummayyah bin Khallaf dari suku Bani Umayyah, Abu Sofyan bin Harb dan lain-lainnya, yang kiranya kurang perlu sebut satu persatu. Adapun suku Bani Hasyim dan Bani Muththalib sengaja tidak diundang, karena mereka menyangka atau merasa bahwa Bani Hasyim Dan Bani Muththalib itu tidak akan dapat di ajak bersama-sama memusywaratkan hal-hal yang akan diperbincangkan dalam rapat itu. Kecuali Abu Lahab dari Bani Hasyim, tetapi ia di undang secara perorangan dan bukan atas Nama Bani Hasyim. Adapun yang hendak di perbincangkan dalam rapat ini tidak lain dan tidak bukan ialah bagaimana caranya memusnahkan pergerakan Muhammad dan semangat Islam yang tengah mulai berkobar di seluruh daerah hijaz itu terutama yang telah menyala-nyala di kota Yatsrib (Madinah) itu. Lain tidak.


Sebelum rapat di buka, dengan sekonyong-konyong datanglah seorang orang tua yang nampaknya dari bangsa Najdi di depan pintu gerbang gedung Darun-Nadwah. Oleh karena kelihatan bahwa ia sekali-kali bukan termasuk orang yang di undang, maka segera ia ditegur oleh pemuka-pemuka kaum Quraisy yang sedang duduk-duduk bersama-sama dalam gedung tersebut : ''Siapakah engkau hai orang tua? Siapakah yang menyuruhmu datang masuk kehalaman gedung ini, apdahal tidak dengan idzin kami?''


Orang tua itu menjawab, ''Saya seorang kepala dari Qabilah Najdi dan saya ketua bangsa Najdi. Saya tela mendapati bahwa wajah tuan-tuan adalah sangat manis, dan nama-nama tuan adalah sangat harum semerbak. Saya datang kemari ini adlah hendak mendengarkan permusywaratan tuan-tuan yang mulia dan hebat ini ; sekalipun saya tidak mendapat undangan dari tuan-tuan tetapi saya mengerti maksud tuan-tuan. Maka dari itu, jika tuan-tuan memperkenankan saya masuk, saya hendak masuk dan hendak turut merundingkan segala apa yang hendak tuan-tuan perbincangkan ; dan jika tuan-tuan tidak memperkenankannya, ya, saya, akan pergi dari sini dan kembali. Akan tetapi saya mohon dengan hormat sudilah kiranya tuan-tuan mengidzinkan saya masuk dan turut menghadiri rapat tuan-tuan yang mulia ini. Janganlah tuan-tuan menolak kedatangan saya ini, karena barangkali saja nanti pendapat saya yang saya kemukakan dalam rapat tuan-tuan ini dapat tuan-tuan pakai, bukan?''

Lalu para kepala kaum Quraisy itu berunding sebentar, dalam mana di antaranya ada yang berpendapat : ''Baiklah ia kita terima karena ia bukan orang Yatsrib(Madinah) tetapi dari Najdi. Kalau ia dari Yatsrib(Madinah) lebih baik kita tolak, habis perkara, sebab ia ini sudah pasti seorang pembantu dan penyokong Muhammad.'' dan ada yang berpendapat : ''Orang tua itu agaknya memang betul-betul orang dari najdi, bukan dari Mekah dan bukan pula dari Yatsrib, maka dari itu lebih baik kita terima saja dia.'' sedang Abu Jahal berpendapat : ''Rupa-rupanya orang itu musuh Muhammad, maka baiknya kita terima dan dan jika ia sekiranya dapat kita jadikan sebagai penasehat dalam rapat ini, bolehlah kita tetapkan.'' Akhirnya dengan suara bulat di putuskan bahwa orang tua itu diterima masuk dalam rapat tertutup itu, untuk duduk bersama-sama dengan kepala-kepala Quraisy, serta dijadikan sebagai penasehat. Sesungguhnya orang tua itu ialah Iblis, yang waktu itu merupakan dirinya sebagai seorang manusia. Dengan ini nyatalah bahwa tiap-tiap perbuatan jahat itu pasti di bantu dan di sokong oleh iblis, la'natullahi. Kemudian rapat itu di buka dan di pimpin oleh Abu Jahal. Memang ia adalah seorang yang terkenal mahir berbicara, dan pada saat itu ia seorang yang paling muda, serta ia terkenal seorang yang amat memusuhi Nabi dan Pergerakannya, lagi pula ia keturunan dari seorang kepala Quraisy.

Tuesday, January 3, 2012

Iman Hijrah dan Jihad : Kekacauan kaum Musyrikin Quraisy

Setelah kepala-kepala dan ketua kaum Musyrikin Quraisy mengetahui bahwa sebagian dari kaum Muslimin telah berpindah dari Mekkah ke Madinah dengan diam-diam, dengan melihat bahwa tiba-tiba saja telah banyak rumah-rumah kaum Muslimin yang sudah kosong, lambat laun mereka mendengar bahwa kaum Muslimin di Madinah telah berjanji dengan sekokoh-kokohnya kepada Nabi Muhammad s.a.w., bahwa mereka sanggup menolong dan membantu dan menyokong dengan sekuat-kuatnyaa akaan segala hal apa yang sedang di usahakan dan diperjuangkan oleh Nabi Muhammad s.a.w. Oleh sebab itu mereka merasa dan menginsyafi bahwa semua perbuatan mereka yang pernah di lakukan terhadap diri Nabi dan pengikut-pengikut beliau akan mendapat pembalasan yang sangat hebat dari kaum pengikut beliau dari luar negeri. Dan dalam pada itu mereka lalu mencari-cari jalan untuk berdaya-upaya mencegah adanya pembalasan itu kelak. Dimana-mana, baik di rumah-rumah, atau pun di jalan-jalan dan lain-lainnya, yang mereka perbincangkan tidak lain adalah kekuatiran akan peristiwa-peristiwa yang akan terjadi kelak dari pada pembalasan pengikut-pengikutnya Nabi Muhammad s.a.w.


Makin lama mereka makin sakit hati dan perasaan mereka makin mendongkol melihat perbuatan-perbuatan Nabi Muhammad s.a.w. dan sekalian pengikut beliau, dan kian hari kemarahan mereka kian naik ke puncaknya serta akal fikiran mereka kian pusing dan kacau, apakah yang hendak mereka perbuat untuk memadamkan dan melenyapkan ruh dan semangaat pergerakan Muhammad. Jalan mana yang perlu ditempuh untuk memecahkan persatuan antara kaum Muslimin di Mekah dan kaum Muslimin di Madinah yang sudah begitu kokoh itu? Mereka dengan tak berhenti-henti terus berdaya-upaya memecahkan soal-soal tersebut.


Akhirnya terpikir oleh mereka itu bahwa tidak ada jalan lain melainkan lebih dulu membinasakan Nabi Muhammad s.a.w. mereka berpikir, bahwa apabila seorang pemimpin sudah musnah, apakah yang akan diperbuat oleh pengikut-pengikutnya.


Sejak itu diri Nabi Muhammad selalu mereka intai-intai siang dan malam, dengan maksud kalau mereka dapat menjumpai beliau di tempat sunyi maka Nabi hendak di bunuh.


Tetapi maksud mereka yang sekejam dan seganas itu tidaj juga tercapai, sehingga mereka tambah naik ke puncaknya. Sedang Nabi Muhammad s.a.w. sendiri waktu itu sama sekali memang belum merasa dan mendengar bahwa kepala-kepala kaum Quraisy hendak berbuat sejahat itu atas diri beliau. Sekalipun beliau telah mengetahuinya, beliau takkan merasa gentar sedikitpun menghadapinya.


Tatkala beliau bertabligh di Mina kepada orang-orang haji dari luar negeri, beliau di lempari-lempari batu dan pasir, di hina dan di caci maki sekeji-kejinya oleh kaum Musyrikin Quraisy, terutama oleh Abu Lahab. Pada saat itu ALLAH menurunkan wahyu kepada beliau yang berbunyi :

''Wallahu ya'simuka minannasi''

,,Demi ALLAH memelihara engkau (Muhammad) dari kejahatan manusia.'' (Al-Maidah ayat 67)


Oleh sebab itu, walaupun beliau menghadapi bahaya yang sangat menngancam keselamatan jiwa beliau, beliau tidaklah sekali-sekali merasa gentar atau takut. Karena beliau yakin bahwa soal hidup dan mati adalah di tangan kekuasaan ALLAH semata-mata.


Nabi dengan tak mundur setapakpun tetap mengerjakan perintah ALLAH, dan tetap pula menyiar-nyiarkannya kepada semua orang, baik yang sudah menjadi kawan maupun yang yang masih menjadi lawan. Dan beliau menyerahkan belaka semua tipu-muslihat musuh kepada ALLAH, karena ALLAH-lah yang Maha Menang.

Sunday, January 1, 2012

Iman Hijrah dan Jihad : Persiapan Kaum Muslimin di Madinah

Persiapan kaum Muslimin di Mekkah, terutama diri Nabi Muhammad s.a.w., bersama sahabat Abu Bakar r.a., berhijrah ke Madinah, maka kaum Muslimin di Madinah telah lebih dulu menyiapkan dan menyediakan dengan selengkap-lengkapnya persediaan dan perlengkapan segala apa yang menjadi keperluan atau hajat tiap-tiap orang di muka bumi, yang disiapkan dan disediakan untuk saudara-saudaranya kaum Muslimin yang berhijrah dari Mekah, seperti tempat kediaman(rumah), makanan dan lain-lainnya. Karena waktu itu mereka telah mengerti bahwa saudara-saudaranya yang berhijrah dari tanah airnya itu sudah barang tentu meninggalkan rumah tangganya, meninggalkan harta bendanya, dan akibatnya sudah barang tentu menderita berbagai-bagai kesulitan, kepayahan dan kesukaran. Untuk keterengan ini Allah telah menegaskankepada kita ummat Islam, sebagaimana tersebut dalam kitab suci Al Qur'an :










''lilfuqaraa-i almuhaajiriina alladziina ukhrijuu min diyaarihim wa-amwaalihim yabtaghuuna fadhlan mina allaahi waridhwaanan wayanshuruuna allaaha warasuulahu ulaa-ika humu alshshaadiquuna''

''(Juga) bagi orang fakir yang berhijrah [1467] yang diusir dari kampung halaman dan dari harta benda mereka (karena) mencari karunia dari Allah dan keridhaan-Nya dan mereka menolong Allah dan RasulNya. Mereka itulah orang-orang yang benar.''

[1467] Maksudnya: kerabat Nabi, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan ibnussabil yang kesemuanya orang fakir dan berhijrah










''waalladziina tabawwauu alddaara waal-iimaana min qablihim yuhibbuuna man haajara ilayhim walaashuduurihim haajatan mimmaa uutuu wayu/tsiruuna 'alaa anfusihim walaw kaana bihim khasasatun waman yuuqa syuhha nafsihi faulaa-ika humu almuflihuuna''

''Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshor) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka (Anshor) 'mencintai' orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin). Dan mereka (Anshor) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan. Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang orang yang beruntun.'' 

Al Qur'an surat Al Hasyr ayat 8-9

Ayat-ayat itu jelas menunjukkan bahwa sahabat-sahabat Nabi Muhammad s.a.w., yang berhijrah kemadinah itu adalah fakir-fakir, karena mereka meninggalkan rumah tangga dan harta benda mereka semuanya, yang sedemikian itu karena mereka bertujuan mencari karunia dan keridhaan Allah semata-mata, dan mereka itu lebih mementingkan pembelaan mereka akan agama ALLAH dan RasulNya, dari pada tanah air mereka, rumah tangga mereka, dan harta benda mereka yang mereka cintai. Oleh sebab itu saudara-saudara mereka yang ada di Madinah, telah menyediakan rumah-rumah di kampung-kampung guna tempat tinggal mereka masing-masing, dan pula telah menyiapkan dan menyediakan apa-apa yang menjadi hajat mereka sebagai manusia, seperti makanan, minimuan, pakaian, perkakas rumah tangga dan sebagainya. Sekalipun mereka sendiri berhajat pula atas barang-barang itu, tetapi mereka telah mengalah dengan ikhlas, dan sekali-kali tidaklah terdapat dalam dada masing-masing rasa dendam, sakit hati dan sebagainya terhadap saudara-saudara mereka yang datang dari Mekah.

Oleh sebab itu adanya sikap mereka yang mulia dan perbuatan mereka yang terpuji itu maka Nabi Muhammad s.a.w., mereka dinamakan kaum ''Anshar'' yang artinya ''Penolong, Penyokong dan Pembantu,'' dan mereka itulah yang hingga kini dikenal oleh manusia di segenap penjuru dunia terutama di dunia Islam seluruhnya dengan nama sahabat-sahabat Anshar. Adapun kaum Muslimin dari Mekah yang berhijrah ke Madinah, baik yang berangkat terlebih dulu dari Nabi maupun yang berangkat sesudahnya, mereka ini disebut sahabat Muhajirin. Sahabat Muhajirin inipun dalam Al Qur'an telah dinyatakan oleh ALLAH dengan nama penolong ALLAH dan RasulNya, sebagaimana tertera dalam ayat tersebut di atas. Karena mereka sampai berhijrah ke Madinah itu semata-mata untuk membela agama ALLAH dan RasulNya, lain tidak.