Sunday, June 12, 2011

Gambar Mekah dan Ka'bah







Straatscène in Mekka, 1886. Lithografie naar een foto door al-Sayyid Abd al-Ghaffar, de Mekkaanse arts.
Mekka in 1889

Gambar pertama Kabah di Eropa (1717
)

Situasi Kawasan Ka'bah







(sumber: http://www.quranforkids.com/)

ASAL MULA POHON NATAL

Sekarang dari manakah kita mendapatkan kebiasaan memasang pohon Natal itu? Di antara para penganut agama Pagan kuno, pohon itu disebut "Mistletoe" yang dipakai pada saat perayaan musim panas, karena mereka harus memberikan persembahan suci kepada matahari, yang telah memberikan mukjizat penyembuhan. Kebiasaan berciuman di bawah pohon itu merupakan awal acara di malam hari, yang dilanjutkan dengan pesta makan dan minum sepuas-puasnya, sebagai perayaan yang diselenggarakan untuk memperingati kematian "Matahari Tua" dan kelahiran "Matahari Baru" di musim panas.
Rangkaian bunga suci yang disebut "Holly Berries" juga dipersembahkan kepada dewa Matahari. Sedangkan batang pohon Yule dianggap sebagai wujud dari dewa matahari. Begitu pula menyalakan lilin yang terdapat dalam upayara Kristen hanyalah kelanjutan dari kebiasaan kafir, sebagai tanda penghormatan terhadap dewa matahari yang bergeser menempati angkasa sebelah selatan.
Encyclopedia Americana menjelaskan sebagai berikut:
"The Holly, the Mistletoe, the Yule log …are relics of pre-Christian times." "Rangkaian bunga Holly, pohon Mistletoe dan batang pohon Yule…yang dipakai sebagai penghias malam Natal adalah warisan dari zaman sebelum Kristen."
Sedangkan buku Answer to Question yang ditulis oleh Frederick J. Haskins menyebutkan bahwa:
"The use of Christmas wreath is believed by authorities to be traceable to the pagan customs of decorating buildings and places of worship at the feast which took place at the same time as Christmas. The Christmas tree is from Egypt, and its origin date from a period long anterior to the Christian Era." "Hiasan yang dipakai pada upacara Natal adalah warisan dari adat agama penyembah berhala (paganisme), yang menghiasi rumah dan tempat peribadatan mereka yang waktunya bertepatan dengan malam Natal sekarang. Sedangkan pohon Natal berasal dari kebiasaan Mesir Kuno, yang masanya lama sekali sebelum lahirnya agama Kristen."

SEJARAH NATAL

SEJARAH NATAL

Kata Christmas (Natal) yang artinya Mass of Christ atau disingkat Christ-Mass, diartikan sebagai hari untuk merayakan kelahiran "Yesus". Perayaan yang diselenggarakan oleh non-Kristen dan semua orang Kristen ini berasal dari ajaran Gereja Kristen Katolik Roma. Tetapi, dari manakah mereka mendapatkan ajaran itu? Sebab Natal itu bukan ajaran Bible (Alkitab), dan Yesus pun tidak pernah memerintah para muridnya untuk menyelenggarakannya. Perayaan yang masuk dalam ajaran Kristen Katolik Roma pada abad ke empat ini adalah berasal dari upacara adat masyarakat penyembah berhala.

Karena perayaan Natal yang diselenggarakan di seluruh dunia ini berasal dari Katolik Roma, dan tidak memiliki dasar dari kitab suci, maka marilah kita dengarkan penjelasan dari Katolik Roma dalam Catholic Encyclopedia, edisi 1911, dengan judul "Christmas", anda akan menemukan kalimat yang berbunyi sebagai berikut:

"Christmas was not among the earliest festivals of Church … the first evidence of the feast is from Egypt. Pagan customs centering around the January calends gravitated to christmas."

"Natal bukanlah diantara upacara-upacara awal Gereja … bukti awal menunjukkan bahwa pesta tersebut berasal dari Mesir. Perayaan ini diselenggarakan oleh para penyembah berhala dan jatuh pada bulan Januari ini, kemudian dijadikan hari kelahiran Yesus."

Dalam Ensiklopedi itu pula, dengan judul "Natal Day," Bapak Katolik pertama, mengakui bahwa:

"In the Scriptures, no one is recorded to have kept a feast or held a great banquet on his birthday. It is only sinners (like Paraoh and Herod) who make great rejoicings over the day in which they were born into this world."

"Di dalam kitab suci, tidak seorang pun yang mengadakan upacara atau menyelenggarakan perayaan untuk merayakan hari kelahiran Yesus. Hanyalah orang-orang kafir saja (seperti Firaun dan Herodes) yang berpesta pora merayakan hari kelahirannya ke dunia ini."

Encyclopedia Britannica, yang terbit tahun 1946, menjelaskan sebagai berikut:

"Christmas was not among the earliest festivals of the church… It was not instituted by Christ or the apostles, or by Bible authority. It was picked up of afterward from paganism."

"Natal bukanlah upacar - upacara awal gereja. Yesus Kristus atau para muridnya tidak pernah menyelenggarakannya, dan Bible (Alkitab) juga tidak pernah menganjurkannya. Upacara ini diambil oleh gereja dari kepercayaan kafir penyembah berhala."

Encyclopedia Americana terbitan tahun 1944 juga menyatakan sebagai berikut:

"Christmas…It was, according to many authorities, not celebrated in the first centuries of the Christian church, as the Christian usage in general was to celebrate the death of remarkable persons rather than their birth…" (The "Communion," which is instituted by New Testament Bible authority, is a memorial of the death of Christ.) "…A feast was established in memory of this event (Christ's birth) in the fourth century. In the fifth century the Western Church ordered it to be celebrated forever on the day of the old Roman feast of the birth of Sol, as no certain knowledge of the day of Christ's birth existed."

"Menurut para ahli, pada abad-abad permulaan, Natal tidak pernah dirayakan oleh umat Kristen. Pada umumnya, umat Kristen hanya merayakan hari kematian orang-orang terkemuka saja, dan tidak pernah merayakan hari kelahiran orang tersebut.." ("Perjamuan Suci" yang termaktub dalam Kitab Perjanjian Baru, hanyalah untuk mengenang kematian Yesus Kristus.) "…Perayaan Natal yang dianggap sebagai hari kelahiran Yesus, mulai diresmikan pada abad keempat Masehi. Pada abad kelima, Gereja Barat memerintahkan kepada umat Kristen untuk merayakan hari kelahiran Yesus, yang diambil dari hari pesta bangsa Roma yang merayakan hari "Kelahiran Dewa Matahari." Sebab tidak seorang pun yang mengetahui hari kelahiran Yesus."

Sekarang perhatikan! Fakta sejarah telah membeberkan kepada kita bahwa mulai lahirnya gereja Kristen pertama sampai dua ratus atau tiga ratus tahun kemudian - jarak waktu yang lebih lama dari umur negara Amerika Serikat - upacara Natal tidak pernah dilakukan oleh umat Kristen. Baru setelah abad keempat, perayaan ini mulai diselenggarakan oleh orang-orang Barat, Roma dan Gereja. Menjelang abad kelima, Gereja Roma memerintahkan untuk merayakannya sebagai hari raya umat Kristen yang resmi.



THE PLAIN TRUTH ABOUT CHRISTMAS
By Herbert W. Armstrong
Terjemahan dalam bahasa Indonesia oleh Masyhud SM. dalam buku Misteri Natal.
Sumbangan A.C. Zulvan (zac@agro.lyman.co.id)

Dominggus Akui Pembantaian Santri Pesantren Walisongo Ulah Pasukan Merah


Dominggus Akui Pembantaian Santri Pesantren Walisongo
Ulah Pasukan Merah

Rabu, 02 Agustus 2000, @08:08 WIB
 
Palu -- Ini dia 'orang yang paling dicari' setelah Tibo. Usai
menyerahkan diri ke Polsek Beteleme, Senin (31/7) sore, dengan
kawalan ketat Resimen I Brimob, Bogor, Selasa (1/8) siang,
Dominggus tiba di Mapolda Sulteng, Palu. Melihat sosoknya dari
dekat, gambaran seorang pembunuh segera membayang. Bagaimana
tidak, kulitnya legam, bicaranya tegas namun singkat,
tatapannya dingin. Dan, yang paling seram, pembawaannya cuek,
bahkan sedikit terkesan angkuh. Dijumpai di ruang kerja
Wakapolda Sulteng, sosok kekar dengan wajah sangar itu,
bertutur tentang siapa ia sesungguhnya. Berikut kutipannya:
 
Bagaimana Anda bisa ditangkap?
Menurut saya, ini bukan penangkapan. Tapi, saya datang
menyerahkan diri untuk cari jalan yang bagus. Jadi, apa yang
bengkok, harus diluruskan kembali.
 
Soal pembunuhan sejumlah orang, apa saudara yang lakukan?
Itu bukan pembunuhan, itu korban peperangan Pak!
 
Terus siapa yang lakukan?
Oh, itu banyak. Itu massa.
 
Massa dari mana?
Ya, antara Kelompok Merah dan Putih. Istilahnya korban perang.
 
Apa yang mendorong Anda ikut kasus ini?
Oh, itu spontanitas.
 
Apakah ada orang yang diajak?
Tidak ada.
 
Anda dibayar?
Tidak ada. Sama sekali tidak. Ini spontanitas.
 
Siapa yang ajak Anda untuk berperang?
Tidak ada yang ajak.
 
Ada kerjasama dengan Tibo?
Tidak ada.
 
Selama ini tidak ada komunikasi dengan Tibo?
Sering komunikasi. Tapi, sekali-sekali di lapangan saja.
 
Sebelum menyerahkan diri, tinggal di mana?
Saya tinggal di sekitar Desa Jamur Jaya.
 
Apakah Anda pindah-pindah?
Tidak. Saya tinggal di satu tempat saja.
 
Nama lengkapnya?
Dominggus
 
Nama lain?
Cuma itu saja, Dominggus.
 
Berapa umurnya?
33 tahun.
 
Lahir di mana?
Timor. Di Maumere.
 
Pekerjaannya?
Mekanik.
 
Di mana?
PT. Inco International. Di Sulawesi Selatan.
 
Sejak kapan di Desa Jamur Jaya?
Sejak tahun 1991.
 
Sudah kawin?
Belum. Masih bujangan.
 
Berapa orang yang Anda bunuh atau yang berduel dengan Anda?
Oh, kalau jumlah orang saya tidak tahu.
 
Kalau yang berhadapan dengan Anda dan jatuh jadi korban, berapa?
Tidak ada.
 
Kalau mayat-mayat yang ada di Pesantren Wali Songo itu, Anda tahu?
Iya, saya tahu.
 
Yang membunuh mereka?
Ya, massa.
 
Kelompok Putih atau Merah?
Merah.
 
Apakah di atas Anda, ada pimpinan yang lain?
Tidak ada.
 
Kapan Anda menyerahkan diri?
Kemarin. (Senin, 31/7-red)
 
Jam berapa?
Lima sore.
 
Apa ini karena Anda mendengarkan anjuran Tibo untuk menyerahkan diri?
Iya. Itu juga karena jalan yang terbaik.
 
Sebelum kerusuhan, apakah Anda sering berhubungan dengan Tibo?
Tidak ada.
 
Ketemunya waktu kerusuhan.
Iya.
 
Tinggalnya sama dengan Tibo?
Iya. Satu desa. Tapi, tempat kerjanya lain-lain. Saya di Selatan
(Sulawesi-red), dia di Tengah. Saya di Soroako.
 
Di PT. Inco itu?
Iya.
 
Sebelumnya berdomisili di mana?
Di Soroako
 
Bukan di Beteleme?
Bukan. Cuma saya punya kebun di trans, di Desa Jamur Jaya.
 
Anda sekolah di mana?
Saya tidak ada sekolah.
 
Sejak kapan bekerja di PT. Inco?
Sejak tahun 1991.
 
Kalau di Sulawesi Selatan sejak kapan?
Sejak tahun 1985.
 
Ketemu Tibo kapan?
Sesudah dia kerja di Tamaco.
 
Kapan itu?
Lama sekali. Mungkin 10 tahun lalu.
 
Jika Anda dinyatakan bersalah, Anda siap dihukum?
Oh, itu tunggu dulu, Pak! Karena ini spontanitas.
 
Sejak kapan Anda terlibat di Poso?
Sejak hari Selasa (23/5), yang ada pembakaran gereja itu.
 
Konon Anda kebal senjata tajam?
Enggak. Manusia ndak kebal parang. Cuma kuasa Tuhan ada.
 
Anda memimpin satu kelompok?
Tidak. Ini spontanitas, tidak ada pemimpin.
 
Sejak kapan diangkat jadi panglima?
(Sayang, ketika Dominggus tengah berpikir untuk menjawab
pertanyaan ini, Wakapolda menghentikan wawancara). *** (far)
 

http://www.berpolitik.com/article.pl?sid=100/08/02/088258 Date: Wed, 2 Aug 2000 10:01:34 +0700 From: "Fami Fachrudin"

Pemimpin Kelompok "Merah" Dibekuk di Poso

Pemimpin Kelompok "Merah" Dibekuk di Poso

Reporter: Iwan Triono
detikcom - Jakarta, Pemimpin kelompok "Merah" otak dari pembantaian ratusan penduduk pada kerusuhan di Poso, Sulawesi Tengah, Fabianus Tibo (55) dibekuk dalam operasi intelejen pasukan Cinta Damai di desa Jamur Jaya kecamatan Lembo (Beteleme) Kabupaten Morowali, Selasa (25/7/2000). Seperti dikutip LKBN Antara, pimpinan Tim Satgas Operasi Cinta Damai Kapten Inf Agus Firman Yusmono didampingi Komandan Tim Penerangan Lettu Inf Agus Salim di Makorem 132 Tadulako, Rabu (26/7/2000), membenarkan tertangkapnya gembong kelompok Merah yang sangat ditakuti kelompok Putih.
Kapten Firman Yuswono menjelaskan, ikhwal tertangkapnya Fabianus Tibo -bukan Cornelis Tibo seperti yang diberitakan selama ini- berawal dari laporan intelejen yang melakukan penyamaran di kawasan itu sebanyak 17 orang.
Ia mengatakan, gerak-gerik Tibo mulai tercium oleh tim intelejen pada tanggal 23 Juli lalu dan setelah memastikan tempat persembunyian buronan tersebut, tim Satgas Cinta Damai melakukan penyergapan saat Tibo sedang tertidur lelap di salah satu rumah warga di desa Jamur Jaya tanpa perlawanan.
Ketika Tibo di bawah ke Poso, Kapten Firman Yuswono mengatakan, pihaknya sempat dihadang massa kelompok Merah berkekuatan dua truk, namun tidak terjadi kontak senjata. Selanjutnya aparat keamanan segera membawa Tibo ke Palu dengan pengawalan ketat, dan mengamankannya di Makorem 132 Tadulako.
Dari hasil pemeriksaan sementara di Makorem 132, Tadulako Tibo mengakui telah membantai sendiri 40 orang warga Poso yang tersebar ditiga desa yaitu desa Sepe Silanca Kecamatan Lage, serta Kelurahan Moengko dan Kelurahan Sayo Kecamatan Poso Kota.
"Benar, saya melakukan pembantaian terhadap 40 orang warga Poso di tiga desa itu pada saat berlangsung kerusuhan," kata Tibo.
Tibo juga mengakui, selain dirinya selaku komandan pasukan juga masih ada sekitar sepuluh pimpinan massa kelompok Merah yang selalu bertindak sebagai pimpinan di lapangan di antaranya Rimus dan Agustisasal Poso serta Dominggus Soares dari Flores.
Ia juga menyinggung keterlibatan oknum aparat keamanan yang memberikan dukungan di lapangan saat terjadinya kerusuhan tersebut.
Setelah menjalani pemeriksaaan di Makorem 132 Tadulako diserahkan ke Polda Sulteng. Kerusuhan Poso yang sudah berlangsung tiga babak itu menyebabkan 4000 rumah penduduk termasuk fasilitas umum hancur dirusak/dibakar massa dan ratusan jiwa melayang dikedua kubu yang bertikai yakni kelompok Merah dan kelompok Putih.

Jejak Kelalawar Hitam, Pembantai Muslim Poso

Ratusan Muslim Poso dibantai, pelakunya adalah kelompok orang terlatih bernama Kelalawar Hitam. Investigasi Sahid di lapangan menunjukkan selain dipicu persoalan politik lokal ada keterlibatan tokoh-tokoh di Jakarta.
Puluhan warga Pesantren Walisongo itu dibariskan menghadap Sungai Poso. Mereka dihimpun dalam beberapa kelompok yang saling terikat. Ada yang tiga orang, lima, enam atau delapan orang. Para pemuda digabungkan dengan pemuda dalam satu kelompok. Tangan mereka semua terikat ke belakang dengan kabel, ijuk, atau tali rafiah yang satu dengan lainnya saling ditautkan.
Sebuah aba-aba memerintahkan agar mereka membungkuk. Secepat kilat pedang yang dipegang para algojo haus darah itu memenggal tengkuk mereka. Bersamaan dengan itu, terdengar teriakan takbir. Ada yang kepalanya langsung terlepas, ada pula yang setengah terlepas. Ada yang anggota badannya terpotong, ada pula badannya terbelah. Darah segarpun muncrat. Seketika itu pula tubuh-tubuh yang tidak berdosa itu berjatuhan ke sungai.
Bersamaan dengan terceburnya orang-orang yang dibantai itu, air sungai Poso yang sebelumnya bening berubah warna menjadi merah darah. Sesaat tubuh orang-orang yang dibantai itu menggelepar meregang nyawa sambil mengikuti aliran sungai. Tidak semuanya meninggal seketika, masih ada yang bertahan hidup dan berusaha menyelamatkan diri. Namun regu tembak siap menghabisi nyawa korban sebelum mendapatkan ranting, dahan, batang pisang, atau apapun untuk menyelamatkan diri.
Itulah salah satu babak dalam tragedi pembantaian ummat Islam di Poso, Sulawesi Tengah beberapa waktu lalu. Warga Pesantren Walisongo merupakan salah satu sasaran yang dibantai. Di komplek pesantren yang terletak di Desa Sintuwulemba, Kecamatan Lage, Poso ini tidak kurang 300-an orang yang tinggal. Mulai dari ustadz , santri, pembina, dan istri pengajar serta anak-anaknya.
Tidak satupun orang yang tersisa di komplek pesantren itu. Sebagian besar dibantai, sebagian lainnya lari ke hutan menyelamatkan diri. Bangunan yang ada dibakar dan diratakan dengan tanah. Pesantren Poso hanya tinggal puing-puing belaka.
Ilham (27) satu-satunya ustadz Pesantren Walisongo yang turut dibantai namun selamat setelah mengapung beberapa kilometer mengikuti aliran sungai Poso, menuturkan kepada Sahid, sebelum dibantai mereka mengalami penyiksaan terlebih dahulu. Mereka dikumpulkan di dalam masjid Al Hirah. Di sanalah warga pesantren Walisongo yang sudah menyerah itu dibantai. Ada yang ditebas lehernya, dipotong anggota badannya, sebelum akhirnya diangkut truk ke pinggir Sungai Poso.
Sungai Poso menjadi saksi bisu pembantaian ummat Islam, khususnya warga Pesantren Walisongo. Mayat-mayat mereka hanyut di Sungai Poso dan terbawa entah sampai ke mana. Belum ada angka yang pasti jumlah korban dalam pembantaian itu.
Seorang warga Kelurahan Kayamanya, Kecamatan Poso Kota, Syahrul Maliki, yang daerahnya dilewati aliran sungai Poso dan terletak sembilan kilometer dari ladang pembantaian, menuturkan kepada Sahid, Dari pagi hingga siang saja, saya menghitung ada 70-an mayat yang hanyut terbawa arus, berikutnya saya tidak menghitung lagi, katanya. Sementara Pos Keadilan Peduli Ummat (PKPU) melaporkan jumlah mayat yang ditemukan di Sungai Poso tidak kurang dari 165 orang.
Tidak hanya lak-laki dewasa, banyak pula yang perempuan, orang tua, dan anak-anak. Biasanya mayat wanita disatukan dengan anak-anak. Ada yang cukup diikat, ada pula yang dimasukkan karung, kata Syahrul. Sebagian besar mayat sudah rusak akibat siksaan.
Menurut Ilham, sebelum diserang, warga pesantren diteror oleh Pasukan Merah ini. Komplek Pesantren Walisongo sering dipanah. Hingga saat ini bekas panah tersebut masih terlihat jelas.
Pembantainya sudah sangat jelas. Mereka adalah orang-orang Kristen yang dikenal sebagai Pasukan Kelalawar Hitam. Dalam aksinya mereka mengenakan pakaian serba hitam. Salib di dada dan ikat kepala merah. Karena itu pula mereka sering disebut pula sebagai Pasukan Merah. Pembataian itu puncak dari hubungan ummat Islam dan Kristen yang kurang harmonis di kawasan itu.

Tercatat sekitar 200 - 400-an orang yang tewas terbantai.

Dalam laporannya, pihak gereja melalui 'Crisis Center GKST untuk Kerusuhan Poso' mengakui dikalangan mereka ada kelompok terlatih yang berpakaian ala ninja ini. Mereka menyebutnya sebagai 'Pejuang Pemulihan Keamanan Poso'.
Ada ciri-ciri yang sama ketika kelompok merah menyerang. Mereka selalu mengenakan pakaian ala ninja yang serba hitam, semua tertutup kecuali mata. Mereka juga mengenakan atribut salib di dada dan ikat kepala merah. Mayat-mayat juga ditemukan selalu dalam kondisi rusak akibat siksaan atau sengaja dicincang hingga tidak dikenal identitasnya. Dalam berbagai penyerangan pasukan merah selalu di atas angin. Karena itu sebagian besar korbannya adalah orang-orang muslim.
Selain di Pesantren Walisongo penyerangan dan pembantaian juga dilakukan di sejumlah tempat. Tercatat 16 desa yang penduduknya mayoritas Muslim kampungnya hancur dan terbakar. Dari arah selatan Poso, kerusakan hingga mencapai Tentena. Dari arah Timur hingga Malei. Dari arah barat hingga Tamborana.
Temuan Komite Penanggulangan Krisis (Kompak) Ujungpandang yang melakukan investigasi di Poso menunjukkan adanya keterlibatan gereja dalam beberapa kerusuhan. Buktinya Sebelum mereka melakukan penyerangan, mereka menerima pemberkatan dari gereja, kata Agus Dwikarna, ketua Kompak Ujungpandang.
Misalnya pemberkatan yang dilakukan Pendeta Leniy di gereja Silanca (8/6/00) dan Pendeta Rinaldy Damanik di halaman Puskesmas depan Gereja Sinode Tentena. Selain kepada pasukan Kelelawar Hitam, pemberkatan juga diberikan kepada para perusuh. Pemberkatan ini memberikan semangat dan kebencian yang tinggi masyarakat Kristen kepada ummat Islam.
Yang menarik menurut Agus, meskipun mereka mengakui telah membumi hanguskan seluruh perkampungan ummat Islam dan membantai masyarakatnya, Pendeta R Damanik dan Advent Lateka mengadukan ummat Islam sebagai provokator.
Kini kabupaten yang dikenal sebagai penghasil kakau terbesar ini nyaris seperti kota mati karena ditinggal penduduknya mengungsi, bangunan yang ditinggalkan hanya tersisa puing-puing yang beserakan.
Penyerangan terhadap ummat Islam yang berlangsung sejak tanggal 23 Mei lalu, merupakan pertikaian ketiga antara Islam Kristen di Poso. Pertikaian pertama berlangsung pada Desember 1998. Enam belas bulan kemudian, 15 April 2000 pertikaian meledak lagi, yang dipicu perkelaian pemuda Kelurahan Kamayanya (muslim) dengan Lambogia (Kristen).
Dalam penyerangan kali ini kelompok merah yang bergabung dalam pasukan Kelelawar Hitam dipimpin oleh Cornelis Tibo asal Flores menyerang kampung Muslim Kayamanya. Mereka memukul-mukul tiang listrik hingga memancing kemarahan ummat Islam. Selanjutnya mereka mengaiaya ummat Islam di situ dan membunuh Serma Komarudin.
Ummat Islam yang marah mengejar Pasukan Kelelawar Hitam yang lari ke Gereja Katolik Maengkolama. Karena bersembunyi di gereja itu ummat Islam yang marah membakar gereja yang dijadikan tempat persembunyian itu.
Salah satu yang dianggap menjadi penyebab pertikaian adalah konflik politik lokal. Perebutan jabatan Bupati Poso pada Desember 1998 merupakan salah satunya. Herman Parino, tokoh Kristen, gagal merebut jabatan. Namun Herman Parino dan para pendukungnya menuduh Arif Patangga, bupati yang hendak digantikannya, muslim, merekayasa gagalnya Parino.
Karena jengkel, Parino menggalang massa untuk menyerang rumah Patangga. Namun rencana itu sudah tercium sebelumnya, para pendukung Patangga tidak diam dan bersiap menyambut. Bentrokan tidak terelakkan lagi. Dua hari kemudian giliran pendukung Patangga menyerang rumah Parino di desa Tentena. Dalam kerusahan itu polisi langsung menangkap tokoh dari kedua belah pilah, Herman Parino dan Agfar Patangga, adik kandung Arif Patangga yang dianggap memprovokasi massa.
Nampaknya penangkapan Herman Parino yang merupakan tokoh Kristen yang dihormati membuat pendukungnya kecewa. Apalagi Herman lantas dijatuhi hukuman, meskipun Agfar juga dijatuhi hukuman oleh pengadilan negeri Poso. Kasus inilah yang menjadi api dalam sekam. Maka ketika terjadi perkelaian pemuda Islam dan Kristen yang mabuk pada pertengahan April 2000 lalu, kerusuhan pun tidak dapat terhindarkan.
Dipicu kerusuhan pada bulan April, tanggal 23 Mei 2000 pasukan merah melakukan penyerangan ke beberapa perkampungan muslim. Pertikaian tidak hanya sebatas para pendukung Herman Parino dan Arif Patangga. Perkampungan Muslim yang tidak ada kaitannya dengan kerusuhan sebelumnya ikut dihancurkan, warganya dibantai, perempuannya diperkosa.
Selain konflik lokal, sumber intelejen menyatakan bahwa kerusuhan di Poso juga terkait dengan tokoh-tokoh di Jakarta. Salah satu kekuatan yang bermain itu adalah kelompok Soeharto. Indikasinya jika proses hukum Soeharto meningkat, tingkat kerusuhan meningkat. Temuan di lapangan menunjukkan keterlibatan sekitar 70-an purnawirawan TNI dalam melatih pasukan merah. Karena itulah pasukan merah sangat mahir dalam menggunakan berbagai senjata api maupun tangan kosong.
Pihak intelejen menyebutkan, kelompok yang berkepentingan terhadap kerusuhan di Poso ini juga didukung sumber dana yang kuat. Kasus beredarnya milyaran uang palsu dan hilangnya dua kontainer kertas uang yang hingga kini belum ditemukan juga sangat terkait dengan berlangsungnya kerusuhan di Poso ini.
Informasi sumber intelejen tersebut juga dibenarkan oleh Wakapolda Sulawesi Tengah, Kolonel Zaenal Abidin Ishak, yang menyatakan keterlibatan 15 anggota Polres Poso dan enam anggota TNI AD dalam kerusuhan itu. Mereka kini sedang ditahan untuk pemeriksaan lebih lanjut.
Agus Dwikarna tidak percaya bahwa kerusuhan di Poso hanya persoalan gagalnya Herman Parino menjadi bupati. Kalau hanya karena perebutan kursi bupati kenapa ummat Islam yang dibantai, tanya Agus. Ia yakin ada upaya melenyapkan ummat Islam dari bumi Poso.
Apapun penyebabnya, kerusuhan Poso menyebabkan trauma yang mendalam di kalangan orang-orang Muslim di Poso. Sejak kerusuhan itu ribuan ummat Islam menjadi pengungsi di negerinya sendiri.
Haryono, laporan Munanshar dan Pambudi (Poso)

Kisah Pengasuh Ponpes Wali Songo Poso Yang Selamat Diikat dan Disiksa, Lolos Lewat Sungai

Kasus pertikaian di Poso tidak hanya membawa korban dan kerugian materil, tapi juga menjadi beban masyarakat lain yang tidak berdosa. Berikut cerita yang disajikan dalam gaya bertutur dari dua pengasuh Pondok Pesantren Wali Songo, Ilham (23) yang selamat dari penyanderaan, setelah Pondok Pesantren (Ponpes) Wali Songo dibumihanguskan.
PADA saat itu hari Kamis (1/6) kami masih berada di hutan bersama adik-adik (santri, red) yang lain. Setelah ditangkap, mereka memisahkan kami. Perempuan jalan terus, sedangkan kami disuruh tetap tinggal di hutan.
Setelah adik-adik santri dan ibu-ibu pergi, kami semua disuruh buka baju. Tangan kami diikat satu per satu. Jumlah kami saat itu ada 28 orang, menurut hitungan mereka (penyandera, red). Terdiri dari enam orang dari pesantren dan penduduk biasa.
Setelah diikat dengan tali nilon, kabel atau sabut kelapa, kami digandeng tiap lima orang. Saya sendiri diikat tiga ikatan. Kami digiring jalan melewati hutan, tembus di suatu desa Lembomao. Di sana kami berhenti sebentar. Mereka kayaknya memanggil pemimpinnya. Saat itu juga pemimpinnya keluar dan memerintahkan anggotanya untuk membawa.
Kami digiring lagi berjalan melewati jembatan gantung tembus di desa Ranononcu, terus dibawa ke Baruga. Di sana kami disiksa dalam keadaan berdiri, berbanjar membuat dua barisan. Setelah itu tangan kami ditambah ikatannya. Saya sendiri diikat dengan tali sabut kelapa kemudian ditambah dengan tali nilon warna biru, kemudian diikat dengan kabel.
Setelah itu kami disiksa dengan begitu sadis. Badan kami diiris-iris, ditendang, dipukul, pokoknya sudah segala macam penyiksaan, ada yang dipukul dengan gagang pedang, ada yang dengan popor senjata. Saya sudah tidak tahu lagi dengan alat apa semua yang mereka gunakan memukul kami.
Setelah disiksa mereka mengeluarkan pertanyaan kepada kami. pertanyaan pertama. Siapa yang tahu mengaji? Pertanyaan kedua siapa guru mengaji? Dan yang ketiga, siapa yang pernah naik mimbar, dan pertanyaan keempat, siapa yang imam. Pada saat itu, kami tidak ada yang mengaku.
Setelah disiksa, badan-badan kami diiris dan setelah ditaruh tanah, disiram air panas. Sekitar kurang lebih dua jam kami disiksa di tempat itu, kami dinaikkan ke mobil. Mereka tujukan ke arah atas. Menurut pengamatan kami saat itu ke arah Desa Togolu. Sampai di situ mereka giring ke pinggir kuala Poso.
Sampai di pinggiran kuala kami disuruh turun. Saya sendiri loncat dari mobil tersebut. Saya melihat teman saya sudah dibacok satu orang. Dan saat itu, saya langsung mengambil keputusan, berlari menuju kuala tersebut yang jaraknya kurang lebih 10 meter.
Sebelum kami turun dari mobil, mereka sudah berdiri untuk menjaga kami di pinggir kuala tersebut. Yang anehnya bagi saya. Mungkin sudah gerakan Allah, pada saat saya lari di antara mereka tidak ada yang bergerak.
Sekitar satu meter lagi dari pinggiran kuala, saya sudah terjun. Dan tiba-tiba ikatan yang mengikat tangan saya terlepas. Setelah saya terjun ke kuala baru mereka mengambil gerakan. Ada yang menembak, tapi alhamdulillah -saya berenang, muncul lagi untuk mengambil nafas sedikit, mereka menembak lagi. Menyelam lagi saya, sampai waktunya sekitar satu menit, baru saya sampai ke seberang kuala, dalam kondisi badan saya yang sudah teriris-iris.
Setelah saya sampai, saya langsung naik ke daratan. Lari ke hutan. Saya perkirakan dan melihat mereka tidak kelihatan lagi, saya balik ke kuala . Saya masuk melebur kembali mencari tempat yang aman - mendapatkan pinggir kuala, ada rumput yang menutup. Saya masuk di semak-semak rumput tersebut. Badan saya setengah dalam air, setengah di atas.
Dan saat itu mereka mengadakan pencarian pada saya. Mereka lewat, saya lihat mereka. Tetapi mereka tidak melihat saya. Pada saat itu waktunya, saya perkirakan jam 04.00 sore. Sekitar dua jam saya merendam di kuala, untuk menunggu waktu malam.
Setelah malam, saya naik ke darat untuk mengambil alat renang. Saya cabut pohon pisang. Setelah saya cabut, saya langsung buang ke kuala, saya gunakan untuk membantu berenang.
Baru sekitar 10 meter saya berenang, mereka sudah hadang di depan dengan senternya yang begitu terang. Saya melihat senter mereka itu seperti senter mobil. Jadi tidak mungkin pakai baterei, mungkin sudah memakai accu (aki, red) atau alat canggih lain.
Pada saat itu saya lepaskan pohon pisang yang saya pakai. Saya menyeberang kembali, mendekati kembali pinggiran kuala tersebut. Setelah itu tiba-tiba saya lihat ada tiga orang yang lewat kuala. Mungkin teman-teman saya, yang masih ada di hutan, yang belum tertangkap pada saat itu. Dan alhamdulillah, tiga orang lewat itu lolos.
Kemudian lewat lagi tiga orang naik perahu, dan ini kelihatan oleh pengejar. Mereka langsung mengejar dengan perahu pula. Dua yang lolos pada saat itu. Satu orang tertangkap. Dia berteriak-teriak "Saya tidak salah". Kedengarannya mereka menyiksa. Dan pada saat itu tiba-tiba terdengar suara letusan. Dan teriakan itu langsung lenyap.
Setelah itu, saya berpikir, berarti saya ini akan tertangkap juga kalau saya teruskan untuk berenang. Saya ke darat dan duduk berdoa. Ya Allah turunkan lah hujan, ya Allah. Supaya mereka menghindar dari pinggiran kuala tersebut.
Dalam kurun waktu kurang lebih setengah jam, yang awalnya bintang-bintang lengkap di langit. Tiba-tiba gelap dan langsung turun hujan. Setelah hujan turun, saya berlari ke atas sekitar 20 meter. Kemudian saya masuk lagi ke dalam kuala, dan saya lanjutkan berenang.
Dalam jarak 10 meter lagi saya berenang ke bawah, ada lagi mereka yang menghadang di depan. Saya naik lagi ke daratan. Duduk saya di daratan berkisar kurang lebih satu jam. Badan saya kayaknya sudah tak mampu lagi digerakkan, dengan merasakan luka, kedinginan. Rasanya badan saya sudah tidak bisa lagi bergerak.
Pada saat itu, saya berpikir. Kalau siang di sini, saya sembunyi dimana lagi. Setelah pemikiran itu muncul kepasrahan, saya berdoa: bismillahi tawaqqaltu alallahi la haula wala quwata illah billah. Saya berdiri, lalu mencari alat bantu renang lagi. Alhamdulillah, saya ketemukan satu biji kelapa kering. Saya bawa kembali ke kuala.
Setelah saya masuk, melebur kembali ke kuala, rasanya badan ini sudah kuat kembali. Tangan dan kaki saya, yang semula sudah tidak mampu digerakkan, setelah saya melebur ke kuala, badan saya terasa pulih kembali. Kayaknya tidak ada luka yang melekat.
Setelah itu saya berenang sampai melewati pinggir kuala tersebut. Setiap pinggiran kuala tetap juga mereka jaga. Tetapi sudah tidak terlalu ketat. Karena hujan turun terus.
Saya temukan jembatan yang saya lewati pertama pada saat kami menuju di desa Ranononcu itu. Mereka berjaga di jembatan itu, alhamdulillah saya masih sempat lolos. Kemudian terus lagi, menemukan lagi jembatan satu. Yang pertama jembatan gantung Ranononcu dan yang kedua jembatan gantung Lembomawo.
Setelah itu, saya terus lanjutkan berenang. Dan apabila mereka mencari, menyenter dari sebelah, saya menghindar, menyeberang ke sebelah. Jadi, saya memotong-motong kuala Poso itu, yang jaraknya, yang disebut orang sering ambil korban manusia, ada buaya kayaknya sudah tidak lagi saya pikirkan.
Setelah itu, saya tiba di jembatan II Poso, yang direncanakan untuk dijadikan "kriminal dua". Setelah mendekati jembatan tersebut, saya melihat pancaran cahaya. Lampu mereka begitu terang. Mereka memakai lampu sorot. Mereka pancarkan ke kuala tersebut. Kualanya terang sekali. Jadi apapun yang lewat, kayu sepenggal pun yang lewat, kelihatan dalam kuala tersebut. Tetap saya terus dan berhenti di jembatan tersebut.
Saya berhenti di bawah jembatan dan berdiri serta duduk bergantian sambil berpikir, bagaimana caranya bisa lolos. Sedangkan kuala ini terang sekali. Berpikir saya di situ sekitar satu jam. Bagaimana caranya, tidak ada hasil. Kayaknya, secara jernih saya tidak mampu lagi untuk berpikir, bagaimana caranya untuk lolos.
Setelah itu, saya terpikir dalam satu firman "Jangan takut Allah bersama kita". Saya membaca doa bismillahi tawaqqaltu alallahi la haula wala quwata illah billah. Segala daya dan kekuatan saya serahkan kepada Allah sepenuhnya. Muncul keyakinan saya pada saat itu, saya langsung meloncat berenang ke kuala.
Setelah saya mendekati lampu tersebut, tiba-tiba lampunya langsung mati. Saya berpikir jangan-jangan saya dijebak, dengan sengaja mematikan senter, agar saya terus berenang.
Dan setelah melewati tempat terang tersebut baru lampunya menyala. Tidak tahu mengapa lampu mereka mati. Berarti mereka sebenarnya bukan menjebak saya. Tetapi memang benar lampunya mati pada saat itu. Mungkin sudah digariskan oleh Allah. Sudah memberikan pertolongan pada saat itu kepada saya.
Sebagai manusia biasa, yang sudah luka parah, muka saya sudah hancur dipukul, mungkin tidak bisa melanjutkan perjalanan. Tapi kekuatan yang ada, saya melanjutkan berenang melewati jembatan dan tiba-tiba saya mendegar suara azan. Berarti menandakan waktu subuh atau pagi telah tiba. Saya makin cepat berenang sebelum terang, karena kalau sudah siang mereka akan temukan saya.
Sekitar pukul 6 pagi saya mendengar suara pengumuman yang menyebutkan nama kompi. Saya berpikir bahwa itu adalah asrama tentara dan langsung mendekati. Di dekat lokasi asrama saya melihat seorang pemuda dan saya tanyakan asalnya. Saya juga tanya mengapa ada disini dan pemuda itu mengatakan dirinya pengungsi. Saya tanya lagi agamamu apa, dan dia menjawab agama Islam. Disaat dia menjawab Islam, saya langsung mengatakan tolong, dan dia pun langsung menolong saya membawa ke asrama kompi dan dirawat.Pada saat disiksa, saya melihat seorang aparat tentara yang juga saya sudah pernah lihat sebelumnya. Waktu di kompi saya juga melihat tentara itu, kami sempat berpapasan mata kemudian tentara itu langsung pergi. Saya periksa di semua ruangan tentara itu tidak ada. Saya yakin dia adalah tentara yang saya lihat ketika saya disiksa. (ud/jpnn)
Source : Riau Pos Rabu, 14 Juni 2000
Date: Wed, 28 Jun 2000 12:43:30 +0200
From: fajar rahmat hidayat

Poso Menangis, Ratusan Nyawa Melayang di Pesantren Wali Songo

Selasa, 13 Juni 2000, 17:15 WIB

Poso Menangis, Ratusan Nyawa Melayang di Pesantren Wali Songo

Jakarta, KCM
Kota Poso sedemikian mencekamnya. Kabar duka dari Desa Togolu, Kecamatan Lage, Poso, begitu menggetarkan hati semua warga. Ratusan nyawa telah melayang di pesantren Wali Songo yang terletak di wilayah itu, belum lagi mereka yang luka-luka dan melarikan diri penuh dengan ketakutan.
Begitulah kesaksian Nyonya Ani, istri komandan Kodim 1307 Poso saat dihubungi KCM per telepon di kediamannya di Poso. "Sejak meletus kerusuhan, saya tidak berani ke mana-mana," tuturnya.
Nyonya Ani lalu menuturkan, untuk belanja pun ia tak berani pergi ke pasar. "Biasanya saya beli bahan-bahan untuk dimasak kepada pengungsi yang banyak berlindung di kantor Kodim. Ayam, kambing. Harganya terserah kita," haru Nyonya Ani menuturkan, betapa kemanusiaan sudah sebegitu murahnya di tanah Poso.
Letkol Inf. Budiarjo, Komandan Kodim 1307 Poso sampai berita ini diturunkan belum berhasil dikonfirmasi mengenai perkembangan terakhir di wilayahnya.
"Mayat yang sudah teridentifikasi sekitar 200 orang," demikian Nyonya Ani menjelaskan.
Sementara, Kantor Berita Antara menuturkan, ratusan penghuni pesantren Wali Songo di Kilometer Sembilan (Desa Togolu) Kecamatan Lage Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah, "hilang" dan diduga kuat lari menyelamatkan diri saat Kelompok perusuh melakukan penyerangan tanggal 28 Mei 2000.
Sejumlah saksi mata yang ditemui Antara di Palu dan Poso--205km timur Palu Senin mengatakan, penyerangan kelompok perusuh hari Minggu itu di pondok pesantren tersebut mengakibatkan banyak korban tewas, namun beberapa di antaranya berhasil menyelamatkan diri lari ke hutan-hutan di sekitar pasantren itu.
Para saksi mata tidak merinci jumlah korban yang dibantai di tempat itu, namun mereka memperkirakan sebagian besar dari puluhan mayat yang hanyut di Sungai Poso adalah penghuni pondok pesantren Wali Songo.
Bahkan salah seorang aparat keamanan setempat mengatakan lima dari puluhan mayat penuh bacokan sekujur tubuhnya dan terikat menjadi satu yang ditemukan mengapung di Sungai Poso kemungkinan adalah penghuni pondok pesantren itu.
Komandan Kodim 1307 Poso Letkol Inf Budiardjo kepada Antara di Poso Senin, saat mendampingi Pangdam VII/Wirabuana Mayjen TNI Slamet Kirbiantoro mengatakan, belum dapat memastikan nasib ratusan penghuni pesantren itu.
Namun ia membenarkan bahwa jika mengacu kepada laporan stafnya di lapangan memang benar terjadi penyanderaan dan pembantaian di pesantren Wali Songo.
Pasukan TNI yang tergabung dalam "Operasi Cinta Damai' kini sibuk mengumpulkan bukti-bukti pembantaian di sekitar pesantren itu dan menurut Dandim Budihardjo akan segera ditindak-lanjuti setelah pihak TNI melakukan operasi pembersihan di kawasan itu.
Budiardjo mengatakan TNI-Polri juga masih melakukan penyelidikan intensif terhadap mayat-mayat yang belum diidentifikasi petugas sekalipun sebagian besar sudah dikuburkan di pemakaman Tegal Rejo.
Ketika ditanya jumlah mayat yang ditemukan petugas di Pesantren Wali Songo, Budiardjo mengatakan belum tahu pasti sebab setiap ada mayat yang ditemukan setelah dirawat seadanya langsung dimakamkan.
"Saya memperkirakan mayat-mayat yang ditemukan hanyut di Sungai Poso berasal dari sana (Pesantren Wali Songo) sebab lokasi pasantren tersebut berada di bagian hulu Sungai Poso," katanya.
Berdasarkan data sementara, jumlah mayat yang ditemukan Penduduk sudah mencapai 146 sosok dan 60 sosok di antaranya ditemukan penduduk mengambang di Sangai Poso, dan yang lainnya ditemukan penduduk di tiga titik bentrokan, yakni Kelurahan Sayo, Kelurahan Mo'engko dan Desa Malei di pinggiran selatan kota Poso.
Wartawan Antara melaporkan dari Poso bahwa hingga hari Senin di lokasi pasantren itu masih tercium bau bangkai. Bau sangat menyengat juga tercium di sepanjang poros jalan Poso-Parigi di Kecamatan Poso Pesisir terutama di daerah rawa yang ditumbuhi banyak pohon sagu.
Panglima Kodam VII Wirabuana, Mayjen TNI Slamet Kirbiantoro mengatakan bahwa pihaknya sudah memerintahkan Kodim Poso untuk mengusut tuntas kasus pembataian di pesantren Wali Songo itu.
"Saya telah memerintahkan Dandim 1307 Poso (Letkol Inf Budihardjo) untuk mengusut tuntas kasus ini," kata Jenderal berbintang dua itu.jy
Source : Kompas Cyber Media


Date: Tue, 13 Jun 2000 13:36:54 -0000
From: "Hasan Rasyidi"