Friday, May 25, 2012

KEBANGKITAN ISLAM : DINASTI UTSMANI : 1300-1922 M



Dinasti Utsmaniyah adalah Khilafah Islam yang berpusat di Turki. Merupakan satu di antara tiga kekhilafahan besar. Dalam sejarah Islam, Dinasti Utsmaniyah merupakan rentetan khilafah besar setelah Dinasti Umayyah dan Abbasiyah. Terdiri dari 39 sultan yangmemerintah selama hampir 7 abad. Kaum Utsmaniyah adalah orang-orang Turki Oghuz yang berasal dari Asia Tengah dan menciptakan negara luas, yang akhirnya mencakup seluruh Eropa Tenggara sampai perbatasan utara Hongaria, Anatolia, Timur Tengah hingga perbatasan Iran, pantai Mediterania di Afrika Utara hingga hampir ke Samudra Atlantik.



Pemerintahan Sultan Sulayman menandai puncak kekuasaan dan kemakmuran Utsmaniyah serta perkembangan tertinggi dalam sistempemerintahan, sosial, dan ekonomi. Sultan Sulayman bergelar Sulayman Agung, karena pada masanya wilayahUtsmaniyah meliputi: Aljazair, Mesir, Hejaz, Armenia, Irak, Asia Kecil, Balkan, Bulgaria, Bosnia, Yunani, Hongaria, Rumania dan tiga laut yaitulaut Merah, Laut Tengah, dan Laut Hitam. Karena keluasan wilayahnya Utsmaniyah menjadi adikuasa ketika itu. Dan setelah wafatnya Sultan Sulayman, Dinasti Utsmaniyah mulai melemah, sultan-sultan penggantinyaumumnya lemah dan tak berwibawa, dan disebabkan juga oleh sikap hidupmewah yang berlebihan di kalangan pembesar istana, hingga banyak terjadi penyimpangan-penyimpangan.



Pada saat situasi dalam negeri semakin memburuk, negara-negara Eropa melancarkan serangan ke wilayah-wilayah yang dikuasai DinastiUtsmaniyah. Berbagai wilayah Utsmaniyah di Eropa membebaskan diri dari kekuasaan Ustmaniyah, dan pada puncaknya adalah tatkala Napoleon I, jendral dan kaisar Perancis, menguasai Mesir pada 1798. Sejak itu, Utsmaniyah dijuluki The Sick Man of Europe (orang sakit dari Eropa) karena pemerintahannya dari ke hari semakin melemah. Dulu penguasa Utsmani dapat mengalahkan tentara-tentara Eropa, tetapi kini mereka membiarkan wilayahnya dirampas oleh orang-orang Eropa. Perancis merebut Al-Jazair (1830) dan Tunisia (1881). Italia menduduki wilayah Utsmaniyah di Afrika Utara (1911). Inggris menguasal Mesir (1882) dan Irak (1917). Kesempatan ini juga dipergunakan oleh wilayah lain untukmelepaskan diri dari kekuasaan Utsmaniyah, misalnya Rumania, Yunani, Bulgaria, Cyprus, Albania, dan Macedonia.



Dalam perkembangan selanjutnya Turki Utsmani terseret pada kancah Perang Dunia I dengan berpihak padaJerman, Perang Dunia I berakhir dengan kekalahan dipihak Jerman dan Turki. Dalam suasana seperti inilah tampil Musthafa Kamal yang berusaha berjuang menyelamatkan Kerajaan Utsmani dari kehancuran total dan ekspansi Eropa. Musthafa Kamal berusaha membentuk Majlis Agung (1920) dan ia terpilih sebagai ketuanya. Sebagai panglima pasukan Turki bagian selatan dan ketua Majlis Agung, Musthafa Kamal membuat pemerintahan tandingan dan akhirnya pada 1922, Majlis Agung dibawah pimpinan Mustafa Kamal Mema’zulkan jabatan Sultan. Ia kemudian memproklamirkan Republik Turki pada 29 Oktober 1923.Pada 1924 jabatan Khalifah juga dihapuskan dan Khalifah terakhir Abdul Majid II, diusir dari Turki, dan tammatlah Khilafah Islamiyah sejak saat itu. Turki pun menjadi Republik yang sekuler sampai hari ini.



Saturday, May 19, 2012

KEBANGKITAN ISLAM : Dunia Islam Setelah Wafat Rasulullah



Khilafah Adalah lembaga pemerintahan dalam Islam. Adalah istilah yang muncul dalam sejarah pemerintahan Islam sebagai institusi politik Islam, yang bersinonim dengan kata imamah yang berarti pemerintahan. Menurut Ibnu Khaldun, khilafah adalah tanggung jawab umum yang sesuai dengan tujuan syara’ (hukum Islam) yang bertujuan untuk mewujudkan kemaslahatan dunia dan akhirat bagi ummat. Pada hakekatnya khilafah adalah pengganti fungsi pembuat syara’, yakni Rasulullah, dalam urusan agama dan urusan politik keduniaan. Selanjutnya khilafah yang sinonim istilah imamah, yakni kepemimpinan menyeluruh yang berkaitan dengan urusan agama dan urusan dunia sebagai pengganti fungsi Rasulullah. Seseorang yang melaksanakan fungsi khilafah disebut khalifah (bentuk jama’-nya khulafa’).



Prosedur pengangkatan khilafah / khalifah dalam memimpin ummat Islam, sementara baik al-Qur’an maupun Rasulullah sendiri tidak memberi penjelasan tentang hal tersebut. Abu Bakar (memerintah pada 632 – 634 M) terpilih secara aklamasi setelah terjadi diskusi dan perdebatan antara kaum Anshar dan Muhajirin dalam pertemuan (sekalipun secara ad hoc). Untuk periode berikutnya, Umar bin Khattab (memerintah 634 – 644 M) dicalonkan oleh Abu Bakar setelah ia mengadakan musyawarah dan konsultasi dengan beberapa sahabat utama dan menyampaikannya kepada ummat Islam yang berkumpul di masjid Nabawi. Pencalonan tersebut mendapat persetujuan dari kaum muslimin. Kemudian persetujuan tersebut dibuat dalam bentuk tertulis, yang ditulis oleh Utsman bin Affan. Berdasar surat pengangkatan itu, setelah AbuBakar wafat, Umar dibai’at oleh kaum muslimin sebagai pengganti Abu Bakar di masjid Nabawi. Sedangkan Utsman bin Affan (memerintah 644 – 656 M) dipilih oleh “Dewan Syura” atau formatur yang dibentuk oleh Umar yang beranggotakan enam orang sahabat utama, yang bertugas memilih salah seorang di antara mereka. Sedangkan Ali bin Abi Thalib (656 – 661 M) dipilih menggantikan Utsman bin Affan, pengangkatannya tidak seperti pendahulunya, melainkan pada saat terjadinya pemberontakan yang ditujukan kepada Khalifah Utsman bin Affan dan menewaskannya (pembunuhnya adalah pasukan dari Mesir – al-Ghafiki -). Pada saat itulah para pemberontak mengusulkan kepada penduduk Madinah untuk mengangkat Ali bin Abi Thalib sebagai khalifah, dalam suasana yang masih kacau, akhirnya Ali bin Abi Thalib dibai’at sebagai khalifah.



Keempat empat khalifah ini dalam pandangan kaum muslimin sunni sebagai empat penerus Rasulullah yangpertama, dengan gelar al-Khulafa’ al-Rasyidin (khalifah yang lurus). Pada masa al-Khulafa’ al-Rasyidin telah didirikan pemerintahan Muslim di atas tanah pusat Timur Tengah mencakup Mesir, Palistina, Suriyah, Irak, dan Iran. Dan jalan telah dipersiapkan untuk perluasan dalam abad berikutnya.



[color=red]b. Khilafah Berbasis Dinasti (Keturunan)



Tidak berlebihan jika empat Khalifah pengganti Rasulullah Muhammad s.a.w., mendapat gelaran al-Khulafa’ al-Rasyidin, “Khalifah yang mengikuti jalan yang lurus”. Dalam mendapatkan kekhilafahannya melalui musyawarah dan pemilihan, sehingga terhindar dari penetapan sebagai putra mahkota, sekalipun sejak zaman khilafah Umar bin al-Khattab hal itu dapat dilakukan atas kehendak para sahabat ketika itu. Sejak berakhirnya periode Khulafa’ al-Rasyidin, mulailah timbul fitnah (perang saudara, perselisihan sipil, dan pemberontakan terhadap otoritas yang syah).



Wafatnya Ali bin Abi Thalib, mendorong ummat Islam mengakui Mu’awiyah sebagai khalifah untuk seluruh wilayah kekuasaan Islam. Dalam sejarah Islam Mu’awiyah dikenal sebagai pendiri kekuasaan Bani Umayyah, yang memerintah dalam dua periode: Pertama , Periode Damaskus (sejak 661 – 750 M) selama 90 tahun terdiri dari 14 khalifah. Kedua , Periode Cordoba (sejak 756 – 1031 M) yang dimotori oleh Abdu Rahman (Al-Dakhil) selama 75 tahun terdiri dari 18 khalifah.



Di zaman Dinasti Bani Umayyah, Islam telah menguasai daerah-daerah Spanyol, Afrika Utara, Suriyah, Palestina, Semenanjung Arabia, Irak, sebagian Asia Kecil, Persia, Afghanistan, daerah yang sekarang disebut Pakistan, Turkmenia, Uzbekistan dan Kirgistan (di Asia Tengah). Ekspansi yang dilakukan oleh Bani Umayyah telah membuat Islam menjadi negara besar dan luas. Kemajuan yang dicapai oleh Bani Umayyah terpusat pada bidang ekspansi wilayah, bahasa dan sastra (Arab) serta pembangunan fisik. Di masa ini, gerakan-gerakan ilmiyah telah berkembang, seperti dalam bidang keagamaan, sejarah, filsafat, dan lain-lain.



Bersambung..



Sebelumnya :

KEBANGKITAN ISLAM : ABAD XV HIJRAH MERUPAKAN ABAD KEBANGKITAN ISLAM ?

Kebangkitan Islam : ABBASIYAH ( BANI ABBAS))



Perebutan kekuasaan lagi-lagi mewarnai perjalanan sejarah perpanjangan dinasti dalam khilafah Islam. Propaganda Abbasiyah dimulai sejak pemerintahan Khalifah Umar bin Abdul Aziz (Bani Umayyah, 717-720). Pusat gerakan Bani Abbas adalah kota Kuffah dan Khurrasan, di bawah pimpinan panglima perang yang tersohor bernama Abu Muslim al-Khurrasan. Dalam pertempuran perebutan kekuasaan, Bani Abbas mendapat kemenangan dan dapat menguasai Siria (Syam). Selanjutnya, kota demi kota dapat dikuasai.



Sejak tahun 132H/750M itulah Daulah Abbasiyah dinyatakan berdiri dengan khalifah pertamanya adalah Abu Abbas al-Saffah. Daulah ini berlangsung sampai tahun 656H /1258M. Masa yang panjang itu dilalui dengan pola pemerintahan yang berubah-ubah sesuai perubahan politik, sosial, budaya, dan penguasa. Dalam sejarah kekuasaan Bani Abbas (Abbasiyah), dinasti-dinasti bermunculan, seperti Dinasti Fatimiyah, Ayyubiyah. Dan pada masa Dinasti Fatimiyah inilah berdiri sebuah tempat pendidikan yang monumental, Al-Azhar (Jami’ah al-Azhar) sejak tahun 970M, yang sampai kini menjadi pusat perkembangan ilmu pengetahuan (khususnya keagamaan).



Adanya goodwill pemerintah Bani Abbas (yang melanjutkan pemerintahan Bani Umayyah), yang berpusat di Irak dan Baghdad sebagai ibukotanya, untuk membangun dan memajukan berbagai sistem, sarana prasarana bidang pemerintahan, ekonomi, politik, kebudayaan, ilmu pengetahuan dan pendidikan, filsafat, keagamaan dan lain-lainnya, dapat dinyatakan sebagai asas kehidupan modern untuk abad dan millenium kita sekarang ini.



Puncak keemasan Bani Abbas tatkala di bawah pemerintahan Khalifah Harun al-Rasyid dan Khalifah al-Ma’mun di awwal paro pertama abad ke-9 M. Kekayaan kebudayaan dan peradaban Islam sangat mengharumkan dunia dan terus dikenang sampai kini. Dari Baghdad ibukota pemerintahan Bani Abbas, memancar sinar kebudayaan Islam ke berbagai penjuru dunia.



Dalam bidang pemerintahan, seluruh suku, baik Arab maupun non Arab mendapatkan kesempatan yang sama untuk mendukung jabatan politik, sesuai dengan kemampuan yang dimiliki. Dalam bidang ilmu pengetahuan dan pendidikan, digalakkan pengembangan pendidikan dari tingkat dasar sampai tingkat tinggi, dengan memberikan kebebasan berfikir dan menyatakan pendapat. Ulama (cendekia) didorong untuk mendiskusikan berbagai masalah keagamaan, filsasafat, dan ilmu pengetahuan. Mendorong gerakan terjemah karya-karya ilmiyah dari berbagai bahasa (Yunani, Persia, Suria, India, Koptik, dll) ke dalam bahasaArab (sebagai lingua franca Islam ketika itu). Ribuan judul buku diambil dari perpustakaan-perpustkaan lamadiboyong dan diterjemahkan. Gerakan penerjemahan ini berjalan tidak kurang dari 100 tahun dengan fasilitasyang sangat cukup.



Pendidikan dilaksanakan di mesjid atau di rumah-rumah. Mesjid-mesjid dilengkapi dengan ruang baca dan perpustakaan. Pendidikan dasar dan menengah dinamakan Kuttab, pendidikan tinggi dimulai di Baitulhikmah (lembaga ilmu pengetahuan yang menjadi tanda kekuatan penuh kebangkitan Timur Islam).



Pendekatan pendidikan dan pengajaran dengan kurikulum yang tidak mengenal dikotomi ilmu (antara agama dan umum). Para sarjana Islam mengkaji dan mengembangkan berbagai ilmu : kedokteran, kimia, fisika, farmakologi, astronomi, astrologi, matematika, geografi, historiografi, filsafat, kesusastraan, seni musik, tafsir, ilmu hadits, fikih, teologi, bahasa dan tasawuf. Mereka bukan hanya pakar dalam satu bidang ilmu, namun dalam berbagai bidang akibat dari pendekatan ilmu non-dikotomis. Pengembangan ilmu pengetahuan dan peradaban Islam yang pesat ini bukan hanya berpusat di ibukota negara, melainkan berpengaruh dan menyebar di berbagai kota propinsi wilayah kekuasaan Bani Abbas yang tersebar di berbagai tempat.



Kemajuan ilmu pengetahuan dan peradaban ummat manusia yang menjadi simbol kemajuan ummat Islam dan ummat manusia secara universal yang berpusat di Baghdad dan di berbagai wilayah kekuasaan Bani Abbas yang memerintah selama lebih dari lima abad (750M-1258M), yang terdiri dari 37 khalifah peneraju pemerintahan, Tiba-tiba sejarah menulis dengan tangannya sendiri. Dan mengakhiri kekuasaan Khilafah Bani Abbas dari panggung sejarah Islam. Tragedi sejarah peradaban ummat manusia yang sangat tragis menimpa peradaban universal. Pada akhir kekuasaan Bani Abbas tepatnya pada kekuasaan Khalifah Al Musta’sim (1242-1258M) tragedi tragis itu terjadi. Di saat faktor-faktor kelemahan mulai mengkristal, seperti:



1. Adanya persaingan yang tidak sihat antara beberapa bangsa yang terhimpun dalam Daulah Abbasiyah, terutama Arab, Turki dan Persia.



2. Adanya konflik aliran pemikiran dalam Islam yang sering menyebabkan timbulnya konflik berdarah



3. Munculnya dinasti-dinasti kecil yang memerdekakan diri dari kekuasaan pusat di Baghdad, dan



4. Kemerosotan ekonomi akibat kelemahan dan kemunduran politik.



Sebuah kerajaan negara tetangga Mongolia dengan rajanya yang bergelar Jengiz Khan (raja yang kuat) mengadakan serangan strategis dimulai dari Bukhara (tempat kelahiran Imam Bukhari), Uzbekhistan (1220), mereka dalam sejarah menghancurkan seluruh bangunan : mesjid-mesjid, sekolah-sekolah, perpustakaan, dan seluruh kitab dan buku-buku, membumihanguskan Bukhara menjadi rata dengan tanah seakan belum pernah ada sebelumnya.



Pembumihangusan (total destruction) dilanjutkan ke Samarkan (kota besar setelah Bukhara), Uzbekistan. Serangan haus darah ini menurut catatan sejarah yang ditulis oleh Amir Ali (The Spirit of Islam), menyatakan tidak kurang dari 1.747.000 jiwa terbunuh di Nisabor dan 1.600.000 jiwa terbunuh di Herat.



Kemudian serangan dan penghancuran diteruskan ke Baghdad. Hulagu Khan keturunan dari Jengiz Khan, yangmewarisi kekuasaan Persia, Suriah dan Asia Kecil meneruskan serangan bumi-hangus yang diarahkan ke Baghdad, tercatat dalam sejarah pada tahun 1258, Baghdad dapat dikuasai oleh Hulagu, selama satu pekan Hulagu dengan leluasa menghancurkan Baghdadbeserta rakyat dan seluruh yang ada di dalam Kota Baghdad. Dunia patut menangisi peristiwa ini, sebab seluruh khazanah ilmu pengetahuan berupa kitab dan buku-buku yang memuat ilmu pengetahuan dan peradaban kemajuan umat manusia hancur luluh dimakan api bersama rakyat yang terbunuh, tidak kurang 1.800.000 jiwa manusia tewas. Tammat riwayat Dinasti Abbasiyah dalam pemerintahan Daulah Islamiyah, ditandai dengan hancurnya Baghdad dan terbunuhnya Khalifah terakhir Al-Musta’sim dalam peperangan tragis itu.



Khilafah Islam di Timur (Asia) yang diwakili oleh Bani Abbas, hancur oleh serangan dari sayap Timur (Mongol), sedangkan Khilafah Islam di Barat diwakili oleh Dinasti Umayah yang berpusat di Spanyol (Cordoba), mendapat serangan dahsyat dari pasukan salib (perang salib), yang kisahnya pun cukup menegangkan bulu roma bila dibaca masa kini. Dinasti Umayyah di Spanyol tammat riwayatnya, ketika disintegrasi ummat Islam di Spanyol meningkat, sementara kerajaan-kerajaan Nasrani bersatu pada titik waktu 1230M, mereka dengan cepat dapat menguasai Toledo (ibukota pertama Bani Umayyah di Andalusia). Cordoba (sebagai pusat Islam di Barat) pun jatuh ke tangan orang Nasrani pada tahun 1236. Dan pada tahun 1609, Philip III mengeluarkan undang-undang yang berisi pengusiran semua Muslim dari Spanyol secara paksa. Dengan demikian, pada saat itu secara resmi Islam pupus secara paksa dari bumi Andalusia (yang sejak abad ke-9 s.d. 11 merupakan salah satu pusat kebudayaan dan ilmu pengetahuan dunia di Barat yang mempunyai kedudukan sama dengan Baghdad di Timur), dan Cordoba pun menjadi pudar tinggal kenangan. Dunia Islam mulai menjadi daerah yang dibagi-bagi oleh Barat sebagai daerah jajahan, sebagai kelanjutan perang salib dan eksploitasisumber daya yang dimilikinya.



Dua dinasti besar (Umayyah dan Abbasiyah) telah berkuasa, masing-masing telah menorehkan sejarah kegemilangan dan kesuraman silih berganti hingga memasuki paroh abad ke-13. Dinamika dunia Islam dan kekhilafahannya terus bergerak. Sebelum memasuki babak baru kekhilafahan Islam berikutnya, sejarah mencatat, bahwa satu dinasti yang terkenal dengan Dinasti Mamluk. Nama pemerintahan di dunia Islam yang diberikan oleh kaum Mamluk, yang kekuasaannya berpusat di India (1206-1290) dan di Mesir (1250 – 1517). Dinasti Mamluk lahir melalui perebutan kekuasaan, dinasti yang diawwali oleh basis kepemimpinan militer dan lebih sentralistik dibanding dengan dinasti sebelumnya. Perkembangan Dinasti Mamluk sebagal kekuatan militer tetap diakui dan berpengaruh di dunia Muslim (hingga pertengahan abad ke-19). Dinasti Mamluk berhasil memantapkan tatanan politik wilayahnya yang terus bergejolak selama masa kekuasaannya (267 tahun).



Dinasti yang dikenal sebagai kerajaan Islam (sunni) terbesar karena kekuasaannya meliputi empat kota “suci” (Makkah, Madinah, Jerussalem dan Hebron). Tidak ada kekuatan asing di Eropa atau Asia Barat Daya yang menjadi ancaman nyata bagi kekuasaan Dinasti Mamluk hingga datangnya dekade akhir abad ke-15, ketika keseimbangan kekuasaan internasional berubah secara radikal (ketika dunia Barat mulai memasuki dunia Timur, dan setelah Barat menimba berbagai pengalaman dan ilmu pengetahuan dari Timur Islam).



Invasi Mongol dapat dihancurkan oleh Dinasti Mamluk dan menghentikan impian mereka untuk menguasai Mesir, dua tahun setelah kejatuhan Baghdad (September 1260), pasukan Mamluk dapat menghancurkan tentara Mongol. Kaum Muslimin menyambut hangat pasukan Mamluk. Dan pada perjalanan selanjutnya Suria yang telah dikuasai oleh Mongol, dapat direbut kembali oleh pasukan Mamluk (1303). Di antara 47 Sultan Mamluk yang termasyhur dan membangun Kesultanan dengan baik adalah SultanBaybars (1260-1277). Pemerintahan dibangun dengan baik sehingga kesultanan menjadi kuat. Di bidang politik, diadakan pendekatan terhadap segala lapisan kekuatan yang ada di dalam kesultanannya. Di bidang militer adalah penaklukan dan penguasaan kembali daerah-daerah yang pernah dikuasai oleh Mongol (Suriah) menyerang pasukan salib di sepanjang pantai Laut Tengah dan kapal-kapal Mongol di Asia Kecil (Anatolia), bidang diplomatik dibangun hubungan dengan pihak-pihak yang bersahabat yang tidak membahayakan kekuasaannya. Di bidang perekonomian dan perdagangan dibangun ke arah yang dapat membawa kemakmuran, dibuka jalur-jalur perdagangan dengan berbagai negara Eropa. Ilmu pengetahuan mengalami kemajuan pesat. Dan tatkala Kesultanan Mamluk mulai lemah dengan beralihnya Mamluk Bahri ke tapuk pimpinan Mamluk Burji yang tidak memiliki kepiawaian mengatur pemerintahan, kecuali militer, maka kesultanan Mamluk direbut oleh Kesultanan Dinasti Usmani di Turki, Mesir di ambil alih dari Mamluk, dan peta kekuasaan Kesultanan/ Khilafah Daulah Islamiyah menjadi berubah.



Bersambung...



Friday, May 18, 2012

KEBANGKITAN ISLAM : ABAD XV HIJRAH MERUPAKAN ABAD KEBANGKITAN ISLAM ?

imanhijrahdanjihad.jpeg





Pendahuluan

Pada hari ini 01 Muharram 1423 H bersamaan dengan 14 Maret 2002 M, kita telah memasuki tahun ke-23 abad ke XV Hijriyah. Dalam Islam, hijrah menunjuk pada migrasi Nabi Muhammad dan kaum muhajirin (para sahabatnya) dari Makkah ke Madinah. Nabi Muhammad berangkat dari Makkah pada Khamis, 1 Rabi’ al-Awwal / 13 September 622 M, tiba di Madinah, tepatnya di Qubba, pada Senin, 12 Rabi’ al-Awwal / 24 September 622 M. Kemudian tahun hijrah diperingati dan dilembagakan sebagai tahun kalender Islam, setelah 15 tahun berjalan, tepatnya pada tahun 937 M oleh khalifah kedua, Umar Ibnu al-Khattab (memerintah pada 634 – 644 M). Peristiwa hijrah yang menjadi kalender Islam ini diperlakukan sebagai motif dalam ungkapan politis, kultural, sastra, dan estetis di Dunia Islam.



Secara religius, hijrah bermakna suatu perjalanan dengan niat religius. Dilakukan untuk membuka era baru, hijrah merupakan penolakan simbolis terhadap rasa keputus-asaan dalam menghadapi penindasan. Moral hijrah ialah bahwa penindasan merupakan pelanggaran kebebasan beragama sehingga meninggalkan lingkungan yang menindas menuju lingkungan yang lebih baik merupakan pilihan yang tepat. Hijrah dilaksanakan kaum Muslim secara individual atau kelompok guna merespon ancaman terhadap kelangsungan hidup dan keamanan sosial (Q.S. al-Baqarah, II:218, Al-Nisa’ IV:97).



a218.png


Dengarkan

inna al la dz iina aa manuu wa a lla dz iina h aa jaruu waj aa haduu fii sabiili al l aa hi ul aa -ika yarjuuna ra h mata al l aa hi wa al l aa hu ghafuurun ra h iim un



Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

(QS. Al-Baqarah : 218 )



a097.png


Dengarkan



inna al la dz iina tawaff aa humu almal aa -ikatu zhaa limii anfusihim q aa luu fiima kuntum q aa luu kunn aa musta dh 'afiina fii al-ar dh i q aa luu alam takun ar dh u al l aa hi w aa si'atan fatuh aa jiruu fiih aa faul aa -ikama/w aa hum jahannamu was aa -at ma sh iir aa n


Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan malaikat dalam keadaan menganiaya diri sendiri, (kepada mereka) malaikat bertanya: “Dalam keadaan bagaimana kamu ini?”. Mereka menjawab: “Adalah kami orang-orang yang tertindas di negeri (Mekah)”. Para malaikat berkata: “Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah di bumi itu?”. Orang-orang itu tempatnya neraka Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.

(QS. Al-Nisa : 97)



Hijrah merupakan bersaksi setia kepada Islam, yang menunjukkan kemauan menanggung segala penderitaan akibat gerakan menuju tempat lain demi melindungi jiwa, keimanan, dan kebebasan beragama



(Q.S. Ali Imran III:195, Q.S. al-Nisa IV:100, Q.S. al-Taubah IX:20, Q.S. al-Nahl XVI:41, Q.S. al-Hajj XXII:58, dan Q.S. al-‘Ankabut XXIX:56).



a195.png


Dengarkan



fa i staj aa ba lahum rabbuhum annii l aa u dh ii'u 'amala ' aa milin minkum min dz akarin aw unts aa ba' dh ukum min ba' dh in fa a lla dz iina h aa jaruu waukhrijuu min diy aa rihim wauu dz uu fii sabiilii waq aa taluu waqutiluu laukaffiranna 'anhum sayyi- aa tihim walaudkhilannahum jann aa tin tajriimin ta h tih aa a l-anh aa ru tsaw aa ban min 'indi al l aa hi wa al l aa hu 'indahu h usnu al tstsaw aa b i


Maka Tuhan mereka memperkenankan permohonannya (dengan berfirman), “Sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan amal orang-orang yang beramal di antara kamu, baik laki-laki atau perempuan, (karena) sebagian kamuadalah turunan dari sebagian yang lain. Maka orang-orang yang berhijrah, yang diusir dari kampung halamannya, yang disakiti pada jalan-Ku, yang berperang dan yang dibunuh, pastilah akan Ku-hapuskan kesalahan-kesalahan mereka dan pastilah Aku masukkan mereka ke dalam surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya sebagai pahala di sisi Allah. Dan Allah pada sisi-Nya pahala yang baik.” (QS. Ali Imran : 195)



a100.png


Dengarkan



waman yuh aa jir fii sabiili al l aa hi yajid fii a l-ar dh i mur aa ghaman katsiiran wasa'atan waman yakhruj min baytihi muh aa jiran il aa al l aa hi warasuulihi tsumma yudrik-hu a lmawtu faqad waqa'a ajruhu 'al aa al l aa hi wak aa na al l aa hu ghafuuran ra h iim aa n



Barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezki yang banyak. Barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), maka sungguh telah tetap pahalanya di sisi Allah. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang . (QS. Al-Nisa : 100)



a020.png


Dengarkan



al la dz iina aa manuu wah aa jaruu waj aa haduu fii sabiili al l aa hi bi-amw aa lihim wa-anfusihim a' zh amu darajatan 'inda al l aa hi waul aa -ika humu a lf aa -izuun a



Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta benda dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah; dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan.

(QS. Al-Taubah : 20)



a041.png


Dengarkan



wa a lla dz iina h aa jaruu fii al l aa hi min ba'di m aa zh ulimuu lanubawwi-annahum fii al dduny aa h asanatan wala-ajru a l- aa khirati akbaru law k aa nuu ya'lamuun a



Dan orang-orang yang berhijrah karena Allah sesudah mereka dianiaya, pasti Kami akan memberikan tempat yang bagus kepada mereka di dunia. Dan sesungguhnya pahala di akhirat adalah lebih besar, kalau mereka mengetahui. (QS. Al-Nahl : 41)



a058.png


Dengarkan



wa a lla dz iina h aa jaruu fii sabiili al l aa hi tsumma qutiluu aw m aa tuu layarzuqannahumu al l aa hu rizqan h asanan wa-inna al l aa ha lahuwa khayru al rr aa ziqiin a



Dan orang-orang yang berhijrah di jalan Allah, kemudian mereka dibunuh atau mati, benar-benar Allah akan memberikan kepada mereka rezki yang baik (surga). Dan sesungguhnya Allah adalah sebaik-baik pemberi rezki. (QS. Al-Hajj : 58 )



a056.png


Dengarkan



y aa 'ib aa diya al la dz iina aa manuu inna ar dh ii w aa si'atun fa-iyy aa ya fa u 'buduun i

Hai hamba-hamba-Ku yang beriman, sesungguhnya bumi-Ku luas, maka sembahlah Aku saja. (QS. Al-‘Ankabut : 56)



Titik tolak – starting point – hijrah sudah barang tentu berawal dari apa yang telah dilaksanakan Rasulullah meninggalkan suatu negeri (Makkah) yang tidak aman menuju negeri lain (Madinah/Yatsrib) yang lebih aman. Kedatangan Rasulullah di kota Yatsrib ternyata membawa perubahan yang sangat besar artinya bagi perkembangan Islam. Hijrah mengandung makna pembebasan dari fitnah dan penindasan, dan juga mempunyai makna strategis dalam pengembangan Islam di luar tempat lahirnya. Penduduk Yatsrib bertempat tinggal di dataran yang subur tetapi dalam permusuhan yang berkepanjangan antara suku Aus dan Khazraj. Rasulullah merupakan juru damai yang dapat menyatu dan merekatkan kembali perselisihan dan permusuhan yang telah berlangsung lama itu.Dari itu pergerakan Rasulullah mencapai hasil yang memuaskan di kota tersebut.



Berangkat dari suasana demikian, Rasulullah berhasil meletakkan beberapa hal penting di Yatsrib : Pertama, memperkokoh hubungan kaum muslimin dengan Tuhannya. Kedua, memperkokoh hubungan intern ummat Islam. Ketiga, mengatur hubungan ummat Islam dengan penduduk non muslim. Dalam kaitan hal pertama, Rasulullah membangun masjid, tempat kaum muslimin menghubungkan dirinya dengan Yang Maha Kuasa. Dalam kaitan kedua, Rasulullah mempersaudara­kan antara kaum Muhajirin yang datang dari Makkah dan kaum Anshar di Yatsrib. Dalam hal ini Rasulullah telah meletakkan dasar persaudaraan yang sempurna, sehingga membangkitkan jiwa pengurbanan yang tiada taranya. Dalam hal ketiga, Rasulullah menetapkan aturan-aturan (undang-undang) yang sangat toleran, dan beliau mengikat suatu perjanjian persaudaraan dengan orang-orang bukan Islam (Yahudi), sehingga antara dua pemeluk agama itu dapat hidup damai secara berdampingan.



Bertolak dari hal-hal di atas, Rasulullah berhasil membangun suatu masyarakat ideal, yang terwujud dalam suatu negara, yang beliau beri nama Madinah, artinya “kota”, atau “tempat berlakunya tuntunan agama” atau “tempat peradaban”. Di dalam masyarakat seperti itulah Rasulullah secara berangsur-angsur menerapkan suatu sistem hukum yang dapat melindungi mereka dalam kehidupan yang damai dan makmur. Dapat digambarkan kota Madinah dan sekelilingnya menjadi kota terhormat, menjadi satu kota yang segenap penduduknya bertanggung jawab dan memikul kewajiban guna menyelenggarakan keamanan, untuk menjamin keselamatan dan membela atau menangkis setiap serangan musuh yang datang dari mana pun juga. Dan dengan perjanjian persahabatan itu pula segenap penduduk Madinah dan sekelilingnya bertolong-menolong, bantu-membantu, dan hormat-menghormati antara seorang dengan lainnya dan antara segolongan dengan golongan lainnya, terutama dalam memelihara hak-hak mereka masing-masing.



Selama di Makkah Rasulullah hanya bertindak sebagai pemimpin “agama”, beliau belum mempunyai kekuatan dan kesatuan politik yang menguasai suatu wilayah, karena pada periode itu ummat Islam dalam posisi lemah dan tertindas. Sementara di Madinah, ummat Islam mempunyai kedudukan yang baik dan merupakan ummat yang kuat serta dapat berdiri sendiri (mandiri). Di Madinah, Muhammad Rasulullah tidak hanya menjadi pemimpin agama, tetapi juga sekaligus sebagai pemimpin negara. Dalam posisi sebagai pemimpin negara seperti itulah beliau menyusun suatu piagam yang sangat bersejarah yang terkenal dengan Piagam Madinah atau Konstitusi Madinah, yang di dalam fikih siyasilebih dikenal dengan sebutan Mitsaq al-Madinah.



Prinsip-prinsip umum Piagam Madinah, para ahli fikih siyasi (politik) menyimpulkan beberapa prinsip umum kenegaraan dari Piagam Madinah, di antaranya seperti berikut:



1. Monoteisme, yaitu pengakuan hanya terhadap Satu Tuhan.

1. Persatuan dan kesatuan.

2. Persamaan dan keadilan.

3. Kebebasan beragama.

4. Pembelaan terhadap negara.

5. Pengakuan dan pelestarian adat kebiasaan yang baik.

6. Supremasi syareat Islam.

7. Politik damai dan proteksi internal.



Dengan lahirnya Piagam Madinah ini Muhammad Rasulullah telah melakukan sesuatu yang paling revolusioner, khususnya yang berkenaan dengan pasal-pasal yang mengandung prinsip-prinsip persamaan dan keadilan. Pasal-pasal tersebut telah merombak total sikap ashabiyah (fanatisme suku) yang telah mendarah daging di kalangan masyarakat. Piagam Madinah itu menganut prinsip-prinsip al-Qur’an yang berkaitan dengan pembinaan kehidupan bermasyarakat, sekaligus sebagai potensi-potensi politik dari ide-ide al-Qur’an. Keagungan dan kehebatan kandungan Piagam Madinah dilontarkan oleh berbagai cendekia bahwa Piagam Madinah itu sangat menarik. Piagam (konstitusi) itu merupakan pokok-pokok pikiran yang dari sudut tinjauan moderen pun mengagumkan. Dalam konstitusi itulah, untuk pertama kalinya dirumuskan ide-ide yang kini menjadi pandangan hidup modern di dunia, di antaranya prinsip-prinsip hidup berdampingan dengan damai, stabilitas sosial, politik, dan ekonomi, persamaan di depan hukum, dan prinsip keadilan yang menghilangkan berbagai kepentingan pribadi dan kelompok.



Di zaman Rasululllah Madinah juga dapat digambarkan sebagai pusat kegiatan ilmiyah terpenting yang menjadi tujuan para penuntut ilmu. Kebanyakan mereka dimotivasi oleh semangat keagamaan untuk tinggal di dekat Rasulullah guna menuntut ilmu darinya, beribadah bersamanya, mendengarkan sabda-sabdanya dan turut berharakah bersamanya. Setelah wafatnya Rasulullah, Madinah tetap menjadi pusat kekhalifahan dan pusat domisili para pemuka sahabat karena Umar bin Al-Khattabmelarang mereka untuk meninggalkan Madinah, kecuali untuk kepentingan mendesak. Dan Madinah tetap menjadi Pusat Ilmu Pengetahuan dan Pendidikan.

Tuesday, May 15, 2012

Memahami Makna Iman kepada Kitab-kitab Ilahi



Setiap agama samawi telah memiliki kitab masing-masing. Mereka menyakini kitab itu sepenuh hatinya, termasuk ajaran di dalamnya. Mereka menyakini tidak sebatas percaya namun juga di buktikan dengn pengorbanan jiwa raga. Implikasi kefanatikan ini melahirkan sikap apriori terhadap kitab lain. Haruskah demikian ?



Rukun iman kita di antaranya adalah meyakini kitab-kitab Tuhan. Ini berarti bahwa muslim mengakui bahwa kitab-kitab Tuhan itu lebih dari satu. Konsekuensi dari keimanan itu tentu saja muslim tidak harus apriori terhadap kitab-kitab selain Al Qur'an. Umat selain Islam pun seharusnya bersikap demikian. Namun, realitas kehidupan menunjukkan lain. Sering terjadi perseteruan hebat antar umat beragama. Pertentangan akidah antara benar-salah, surga-neraka, islam-kafir tak kunjung berhenti.



Sementara itu Tuhan Yang Maha Penyayang menurunkan beberapa kitab kepada umat-Nya melalui utusan atau wakil terpilih yaitu, para nabi atau rasul, kitab itu juga kitab sebut sebagai wahyu karena mengandung sebuah keajaiban yang luar biasa di dalamnya. Kitab-kitab yang kita pahami itu antara lain, Zabur, Taurat, Injil dan Al Qur'an. Kitab Zabur diturunkan kepada Nabi Daud, kitab Taurat di turunkan kepada Nabi Musa, Injil kepada Nabi Musa dan Al Qur'an kepada Nabi Muhammad. Kitab-kitab tersebut diturunkan untuk dijadikan pedoman bagi manusia yang bersangkutan menjalani kehidupan yang penuh dengan permasalahan dan tantangan hidup dalam koridor kebenaran hakiki. Meskipun nama-nama kitab itu berbeda-beda pada setiap kurun zaman, naum syariat Ilahi sejak Nabi Nuh hingga Muhammad pada hakikatnya satu, yang membedakan adalah bobot syariat yang tertulis didalamnya (QS. 42:13).



Tuhan tidak begitu saja menurunkan kitab, melainkan untuk memberi tunjuk ajar bagaimana manusia harus berbuat dan bertindak selaras dengan nilai-nilai kebenaran Ilahi. Kemajuan dan perkembangan zaman menuntut banyak aspek yang perlu ditata sehingga kelestarian hidup manusia dimuka bumi dapat bertahan sampai akhir zaman.



Manakala dunia terus berubah, permasalahan pun bertambah, semakin hari semakin rumit maka yang dibutuhkan adalah aturan yang memadai sehingga mampu menjamin keberlangsungan hidup manusia susuai koridor hukum Ilahi, dalam hal imi manusia sebagai subjek, ciptaan Tuhan yang paling sempurna, sudah semestinya mewujudkan sifat-sifat Ilahiyah di muka bumi.



Tuhan menurunkan kitab menyesuaikan situasi dan kondisi masing-masing zamannya. Pada masa Musa mungkin cukup dengan Taurat tetapi pada masa Isa mungkin harus ada pengembangan aturan karena bertambahnya umat dan wawasan berfikir yang semakin luas, maka di turunkan Injil. Dengan demikian, setiap kurun zaman yang berbeda selalu diturunkan kitab yang secara kebetulan berbeda sebutan sehingga beragam jenis kitab yang hakikatnya satu, karena diturunkan oleh Tuhan yang sama yaitu Tuhan Yang Maha Esa, Sang Pencipta Alam dan seisinya. Beragam kitab-kitab yang Tuhan turunkan tentu saja buka sebagai tandingan antara kitab-kitab yang satu dengan yang lainnya, melainkan harus di pahami sebagai proses penyempurnaan. Hal ini terbukti Tuhan tidak pernah menurunkan dua kitab yang bertentangan pada satu orde kenabian atau kerasulan.



Realisasi ajaran Ilahi mengalami pasang surut. Perjalanan kehidupan manusia yang tiada berhenti, setiap detik individu terus menerus menurunkan keturunan yang beraneka ragam adat dan kebiasaan, kemajuan berfikir dan dan tantangan hidup, namun perubahan ini bila tidak diimbangi dengan kemampuan mewariskan ajaran Ilahi, secara perlahana namun pasti, ajaran Ilahi pun semakin redup. Meredupnya ajaran Ilahi ini bukan karena konten ajarannya semakin tidak populer tetapi lebih banyak disebabkan ketidakekonsistenan melaksanakan tugas dan kewajiban para pemeluknya dalam praktek keseharian. Banyak ajaran baik yang ditinggalkan bahkan bahkan diubah dengan pemikirannya sendiri.



Walhasil, ajran Ilahi yang dibawa oleh para Nabi semakin tidak dipahami bahkan dilupakan sama sekali, akhirnya ajaran itu pun hilang dari permukaan bumi, tinggalah berkas-berkas ajaran Ilahi yang masih hidup di hati sebagian kecil individu, yang memungkinkan hanya di pahami secara sepotong-potong, tidak utuh, bahkan banyak yang diputarbalikkan dan diubah ayat-ayatnya, disesuaikan dengan kemauan nafsu diri sendiri, biasanya ini dilakukan juga untuk melindungi hak dan kepentingan pribadi. Duniapun dikuasai oleh nafsu dan bukan wahyu. Akhirnya dunia mengalami kerusakan yang mengarah pada kebinasaan abadi (kiamat). Tuhan pun segera turun tangan kembali dengan memilih rasul-Nya dengan membekali kitab untuk mencegah kebinasaan. Revitalisasi system pada segala aspek kehidupan sebagai jalan yang mesti ditempuh oleh para Rasul sebagai realisasi amanat Tuhan.



Tugas para nabi dan Rasul Tuhan, sejak Adam hingga Muhammad tidak lain menjaga kelestarian alam dari kebinasaan abadi dengan menata segala aspek kehidupan secara menyeluruh yang meliputi, idiologi, politik, sosbud dan hankam (memahayu hayuning bawana). Mereka selalu menyerukan kepada kaumnya kepada jalan keselamatan, kebaikan dan bukan jalan kehancuran (amal ma'ruf nahi munkar). Namun, di sayangkan pada realitas yang ada hingga kini, setiap periode, ide pembaharuan system oleh rasul-rasul Tuhan tidak diterima dan ditanggap sinis oleh kaum yang bersangkutan, mereka menganggap sebagai ajaran sesat. Mereka mulai merasa tidak nyaman bila ada seorang yang ingin meluruskan dan mengembalikan sistem (din) yang telah sesat jauh kepada sistem yang benar yaitu sistem Ilahi.



Orang-orang yang telah tertutup hatinya dengan kebodohan, mereka kebanyakan menolak dan tidak percaya. Kebodohan telah merasuki jiwa mereka. Mereka menentang Ajaran Ilahi dengan kebodohan dan kesombongannya. Hati mereka keras membatu. Nafsu pun lalu berkuasa, akal sehat di kesampingkan, mereka beramai-ramai memberangus ajaran Ilahi. Maka ujung dari penentangan selalu diiringi dengan kekerasan, penganiayaan, pengusiran bahkan pembunuhan bagi siapapun yang berani mengubah atau mengganti sistem suatu kaum yang notabene telah mengikuti suatu ajaran nenwk moyang tertentu (QS. 14:13)



Manusia pun akhirnya terpecah menjadi bergolong-golongan atau berkelompok-kelompok. Masing-masing golongan merasa benar dengan apa yang telah di yakini sebagai aturan hidup dari nenek moyang. Mereka selalu mengatakan, ''Ini ajaran Mbah-mbahmu(kakek) sejak dulu. Mbah-mbahmu selau melakukan ajaran ini.'' Mereka mengatakan demikian karena tidak sadar bahwa Mbah-mbah dahulu melakukannya tanpa ilmu dan hanya berdasar angan-angan belaka (ra'yu) (QS. 2:170)



Hanya sebagian kecil golongan diantara mereka, yang kebanyakan dari orang-orang lemah lagi papa, namin ada berkas cahaya di dadanya, mereka membenarkan (mengimani) pembaharuan ajaran Ilahi itu. Meraka berkeyakinan kepada Nabi dan Rasul sang pembaharu bukan karena kemiskinan yang melilit, lalu beriman supaya menjadi kaya sebagaimana disangkakan oleh para pendurhaka (orang kafir), melainkan hati mereka yang terbuka, yang berkeinginan kuat, untuk dapat memaknai hidupnya sesuai dengan ajaran Ilahi.



Hati mereka yang selalu merindukan kebenaran. Kebenaran yang selalu di gelorakan oleh para Nabi dan Rasul, yang tidak pernah berlawanan sejak dahulu hingga sekarang. Orang-orang ini mengimani sepenuhnya risalah para Nabi/Rasul dalam arti menerima dengan lapang dada bahwasanya apa yang diajarkan adalah sama. Menyakini pula bahwa semua Nabi/Rasul adalah manusia besar, luhur dan agung dan tidak hanya seorang saja (Muhammad) yang dianggap besar. Inilah mukmin yang sungguh ma'rifat kepada Tuhannya. (QS. 2:177)



Artikel Post terkait :

Sembahlah ALLAH

Kebangkitan Islam yang ALLAH janjikan kepada Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam



Walhamdulillahi Rabbil'alamin

Wednesday, May 2, 2012

Iman Hijrah dan Jihad Blogspot.com : Perang Badar Al-Kubra : Persiapan Tentara Quraisy dan Tentara Islam di Badar.


Sesudah tentara Islam mendapat tempat yang teduh, dan keadaan air rasanya tidak akan kekurangan serta berbenteng di gunung-gunung yang begitu kokoh seakan-akan sebagai benteng dari baja, lagi pula tempat bagi Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam telah selesai diperbuat, dan keadaan kemah-kemah yang dipergunakan tempat beristirahat oleh masing-masing tentarapun telah selesai diperbuat juga, maka datanglah ketika itu pasukan tentara Musyrikin Quraisy dengan sombong dan congkaknya ke Badar juga.


Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam setelah melihat kedatangan tentara Quraisy yang begitu sombong dan congkak, lalu menghadapkan hati sanubarinya kepada TUHAN sambil memohon :

''Ya ALLAH ! Itulah kaum Quraisy telah datang dengan sombong dan congkaknya. Ia memusuhi kepada Engkau, menyalahi perintah-pwrintah Engkau dan mendustakan Rasul Engkau. Ya ALLAH ! Maka pertolongan yang telah Engkau janjikan kepada hamba itulah yang hamba mohon.''

''Ya ALLAH ! Binasakanlah mereka itu besok pagi hari.

''Ya ALLAH ! Janganlah Engkau meninggalkan hamba, Ya ALLAH ! Hamba memohon pada Engkau barang apa yang telah Engkau janjikan pada hamba.''

''Ya ALLAH ! Hamba memohon kepada Engkau akan janji dan perjanjian Engkau. Ya ALLAH ! Jika Engkau berkehendak (mengalahkan pada hamba), tidak akan Engkau disembah.''


Diriwayatkan waktu itu Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam berulang-ulang memohon kepada ALLAH, sehingga Abu Bakar r.a. ketika itu memegang kepada selendang dan bahu Nabi seraya berkata :

''Ya Nabi ALLAH ! Cukup bagi engkau permohonan pada Tuhan engkau. Karena sesungguhnya Tuhan akan meluluskan pada engkau segala apa yang Dia telah berjanji pada engkau.''


Waktu itu Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam lalu keluar dari arasy seraya berkata :

''Akan dikalahkan pasukan itu dan mereka itu akan membalik kebelakang.''


Yakni : Pasukan tentara Quraisy akan kalah dan akan bubar kembali dengan membawa kerugian yang amat besar.


Kepala tentara Qurasiy waktu itu menyuruh seseorang yang bernama Umair bin Wahab Al-Jamhy supaya ke tempat tentara Islam untuk menghitung banyaknya tentara Islam. Umair lalu datang ketempat tentara Islam lalu menghitung banyaknya, lantas kembali menerangkan kepada kepala tentara Qurasiy, bahwa tentara Muhammad 300 orang lebih sedikit.


Umair berkata juga : ''Sekalipun begitu, cobalah kita tilik dulu dari jauh dan dari atas gunung, apakah memang hanya itu belaka adanya tentara Muhammad, ataukah ada lagi yang tersembunyi ? Sebab saya khawatir, kalau Muhammad ada menyembunyikan tentaranya dari belakang gunung ini atau itu.''


Perkataan Umair yang sedemikian itu diterima baik oleh pimpinan pasukan Quraisy, dan mereka lalu berangkat bersama Umair naik ke atas gunung dekat lembah Badar. Mereka masing-masing setelah sampai diatas gunung, lalu melihat kesebelah bawah kekanan dan kekiri, kedepan dan kebelakang, tetapi mereka tidak melihat sesuatu apapun. Memang sungguh sungguh tentara Muhammad hanya itulah adanya. Kemudian daripada itu, ketika itu dalam pasukan Quraisy timbul pula suatu kekacauan yang hebat kekacauan yang ditimbulkan oeh seorang dari antara kepala pasukan sendiri, ialah Utbah bin Rabi'ah.


Utbah waktu itu dengan mendadak berpendapat, bahwa berperang dengan Muhammad jangan dilanjutkan, karena buka semestinya kalau tentara Quraisy berperang dengan Muhammad dan tentaranya, karena sebagian dari tentaranya dari pada famili kaum Quraisy sendiri.


Oleh sebab itu timbulnya pendapat Utbah ini, lalu timbul perdebatan dan pertengkaran mulut dengan Abu Jahal, sehingga ketika itu Abu Jahal mengatakan, bahwa Utbah penakut, pengecut dan sebagainya.


Dan ketika timbul perdebatan tadi, Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam mengetahui dari jauh dan ketika itu juga pandangan tentara Islam ketika melihat tentara Quraisy tidak merasa takut dan gentar atau khawatir sedikitpun.


Pendapat Utbah tadi setelah diperbincangkan oleh kepala-kepala pasukan, maka akhirnya Utbah kalah suara dan diputuskan oleh kepala-kepala pasukan Quraisy, bahwa peperangan di lanjutkan.


Bagi tentara Quraisy biar merasa bangga dan sombong melihat tentara Islam, maka ketika itu datanglah Iblis dengan diiringkan tentara berpuluh-puluh banyaknya. Iblis menyerupai akan rupanya kepala qabilah Bani Mudlij (Suraqah bin Malik) bersama kaum qabilahnya. Iblis berkata kepada kepala-kepala pasukan tentara Quraisy : ''Kamu jangan takut memerangi Muhammad dan tentaranya, kalau kamu akan kalah, kita dari belakang membela kepadamu. Pendek kata, kamu tidak akan kalah.''


Dalam pada itu, tiba-tiba seketika itu datanglah malaikat Jibril mengejar kepada Iblis. Maka seketika iyu juga, Iblis dan pengiringnya melarikan diri. Dan ketika Iblis melarikan diri, oleh seorang pahlawan Quraisy ditanya : ''Hendak kemana engkau hai Suraqah ? Engkau sudah sanggup hendak membela kita, tetapi mengapa engkau sekarang hendak pergi dari sini ?''''


Iblis menjawab : ''Sudahlah, saya melihat barang apa yang kamu tidak melihat.''


Kemudian waktu itu ada seorang pahlawan Quraisy yang dengan sombong keluar lebih dulu dari barisan tentaranya. Pahlawan tersebut bernama Aswad bin Abdul-Asad al Makhzumy. Ia keluar terus berjalan menuju ke kolam-kolam yang telah penuh air bagi tentara Islam, sambil berkata : ''Saya bersumpah dengan nama ALLAH. Saya akan merusak kolam-kolam mereka jika tidak dapat lebih baik saya mati.''


Oleh sebab itu, seketika itu terdengarlah oleh sahabat Hamzah, lali oleh beliau dikejarlah Aswad. Kemudian setelah ternyata ia hendak merusak kolam kepunyaan tentara Islam, lalu didahului dengan pukulan yang sekeras-kerasnya oleh sahabat Hamzah, maka seketika itu juga jatuhlah Aswad seraya mengucurkan darah yang tidak sedikit, karena dari pukulan Hamzah yang begitu hebatnya, dan seketika itu juga mampuslah Aswad dengan mandi darah.


Selanjutnya sebagai biasa bagi bangsa Arab seumumnya terutama bagi bangsa Quraisy, apabila hendak berperang, maka dari antara pahlawan-pahlawan lebih dulu harus bertanding dan beradu kekuatan dengan pahlawan-pahlawan musuhnya seorang lawan seorang. Maka dari itu waktu sebelum terjadi pertempuran dan peperangan, kepala tentara Quraisy minta dan menantang dengan secara sombong kepada Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam supaya mengeluarkan tiga orang dari pahlawan tentaranya untuk bertanding dan beradu kekuatan dengan pahlawan-pahlawan Quraisy. Akhirnya dari tentara Islam mengeluarkan tiga orang pahlawan juga.


Maka sesudah tentara Quraisy mengeluarkan 3 orang pahlawannya yang gagah berani di tengah medan perang yang akan dipergunakan berperang. Maka Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam lalu bersabda kepada 3 orang pahlawan tentaranya dari golongan Anshar. Adapun 3 orang pahlawan tentara Quraisy tadi ialah :

1. Utbah bin Rabi'ah,

2. Syaibah bin Rabi'ah,

3. Walid bin Utbah


Adapun dari pahlawan tentara Islam yang disuruh keluar oleh Nabi, ialah :

1. Auf bin Al-harits,

2. Mu'adz bin Harts, dan

3. Abdullah bin Ruwahah,

Masing-masing dari sahabat Anshar.


Sesudah tentara Islam ini setelah keluar dan berada di tengah medan peperangan, lalu ditanya oleh masing-masing yang akan bertanding : ''Siapakah engkau ? Dan dari keturunan siapakah engkau itu ?'' Beliau-beliau itu sudah tentu menjawab : ''Dari golongan Anshar, dan dari Madinah.''


Waktu itu oleh pahlawan Quraisy tadi di tolak dengan ejekan : ''Ah, bukan sepatutnya kalau kita bertanding dengan kamu, karena kamu bukan dari bangsa kita, Percuma kalau kamu bertanding dengan kita.'' Mereka lalu berteriak meminta Muhammad kepada Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam.


''Ya Muhammad ! Keluarkanlah 3 orang dari golongan kita (Quraisy) dan yang dari keturunan Hasyim.'' oleh sebab itu Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam lalu menyuruh 3 orang Anshar tadi supaya mengundrkan diri, dan menyuruh juga kepada 3 orang pahlawannya yang dari golongan bangsa Quraisy dan dari Bani Hasyim. Ialah :

1. Hamzah bin Abdul Muththalib,

2. Ali bin Abi Thalib, dan,

3. Ubaidah bin Al-Harits.


Sahabat Hamzah, sahabat Ali dan sahabat Ubadah seketika itu juga berdiri dengan tegak, terus keluar dari tempatnya masing-masing dan menuju ke tengah medan pertempuran, lalu mendekati mereka masing-masing yang sombong itu. Kemudian setelah masing-masing berdekatan dan berhadapan muka, lalu mereka berkata dengan cara yang sangat sombong : ''Siapakah kamu sekalian ?''


Sahabat Ubaidah menjawab : ''Saya Ubaidah bin Al-Harits.''

Sahabat Hamzah menjawab : ''Saya Hamzah bin Abdul Muththalib.''

Sahabat Ali menjawab : ''Saya Ali bin Abi Thalin.''


Mereka berkata : ''Ya sudah sepatutnya kalau kami bertanding dengan kamu. Kita dari Quraisy, dan kamu dari Quraisy.''


Kemudian pertandingan beradu kekuatan dimulai seorang dengan seorang, sahabat Ubaidah dengan Utbah, sahabat Hamzah dengan Syaibah, dan sahabat Ali dengan Walid. Maka setelah bertemu satu persatu saling memukul dan beradu kekuatan. Sahabat Hamzah tidak berhenti-hentinya memberi pukulan kepada Syaibah hingga mati, sahabat Ali tidak berhenti-henti memberi pukulan kepada Walid sampai tewas jiwanya, dan sahabat Ubaidah diberi pukulan yang sekeras-kerasnya oleh Utbah yang yang berakhir sahabat Ubaidah dapat terpukul dengan senjata tajam oleh Utbah disebelah lututnya sehingga lututnya dengan kakinya hampir putus. Sebab itu sahabat Ubaidah lalu jatuh, dan segera lalu diangkat oleh Sahabat Hamzah dan sahabat Ali dan dibawa kehadapan Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam.

Kemudian sahabat Hamzah dan sahabat Ali kembali kemedan pertandingan lalu bertanding dengan Utbah, dan dalam sekejap saja, Utbah dapat terpukul oleh sahabat Ali sampai menghembuskan nafasnya dengan sengsara.


Keadaan sahabat Ubaidah setelah di hadapan Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam lalu diperintah oleh beliau supaya berbaring diatas tikar beliau, maka setelah terlentang di atas tikar, sahabat Ubaidah lalu berkata :

''Tidakkah ini (mati) syahid, Ya Rasulullah ?''''


Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam berkata : ''Sesungguhnya saya menyaksikan, bahwa engkau itu mati syahid.''


Maka seketika itu juga, wafatlah sahabat Ubaidah dengan membawa perasaan sangat gembira.

''INNAA LILLAHI WA INNAA ILAIHI RAAJIUUN''


Dan dengan sebab adanya pertandingan tadi, ketika itu ALLAH menurunkan wahyu kepada Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam yang bunyinya :

''Kedua golongan ini saling berbantahan, mereka berbantahan tentang TUHAN mereka.''


Jadi dalam pertandingan tadi tentara Quraisy kehilangan tiga orang pahlawan, dan tentara Islam kehilangan seorang pahlawannya, dan dengan kejadian ini menjadi suatu tanda (baca : alamat), bahwa dalam peperangan nanti akan di dapat oleh kaum Muslimin.


Monday, April 30, 2012

Iman Hijrah dan Jihad Blogspot.com : Perang Badar Al-Kubra : Permohonan Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam kepada TUHAN


Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersama tentara Islam setelah mendengar kabar dari budak kaum Quraisy yang tersebut diatas, dan setelah dapat mengira sendiri kekuatan, bahwa tentara Quraisy lebih kurang ada 1000 orang, dan sudah barang tentu dengan bersenjata lengkap serta persediaan cukup, maka waktu itu Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam mengingat bahwa tentaranya hanya 300 lebih sedikit, jadi sepertiganya tentara kaum Quraisy, dengan senjata kurang lengkap, dan persediaan perang serba kurang. Oleh sebab itu guna menebalkan iman tentaranya, dan guna meneguhkan semangat barisannya, maka Nabi lalu menghadapkan akan mukanya kepada sekalian tentaranya sambil memohon kepada ALLAH:

''''Ya, ALLAH ! Sesungguhnya mereka (tentara Islam) ini sama kosong (tidak membawa apa-apa), maka dari itu berilah mereka itu pikulan. Ya ALLAH ! Sesungguhnya mereka itu telanjang, maka dari itu, berilah mereka itu pakaian Ya ALLAH ! Sesungguhnya mereka itu lapar, maka dari itu berilah mereka itu kenyang, Ya ALLAH ! Sesungguhnya mereka sengsara, maka dari itu berilah mereka itu kekayaan.''


Kemudian Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam dengan diiringkan oleh tentaranya terus berjalan sehingga sampai pada suatu lembah yang jauh dari tempat air, dan di tempat yang penuh pasir lagi kering. Adapun tentara Quraisypun melanjutkan perjalanannya sehingga sampai di suatu tempat (lembah) yang lapang, lagi dekat dengan mata air. Oleh sebab itu waktu itu kaum tentara Islam banyak yang semasa dahaga, dan kekurangan air yang akan dipergunakan buat menghilangkan hadats, istimewa pula pada malam harinya banyak yang berhajat hadats besar (junub). Dalam pada itu di antara Islam banyaklah yang tergoda oleh syaitan. Yakni Syaitan-syaitan yang mencampakkan tipu dayanya pada hati masing-masing tentara Islam yang kena digoda : ''Kamu menyangka bahwa kamu menjadi kekasih TUHAN, tetapi mengapa kamu dapat dikalahkan oleh kaum Musyrikin tentang urusan air ? Sekarang kamu merasakan dahaga, kamu mengerjakan shalat dengan berhadats besar, sedangkan musuh-musuhmu telah menunggu manakala kamu berkeputus-asaan air, tentulah lenyap kekuatan kamu, lalu mereka menghukum kamu menurut kehendak mereka, dan mungkin mereka akan membunuh kamu atau menangkap kamu, lalu kamu di bawa kembali ke Mekah.'' Demikian was-was yang diperbuat oleh syaitan dalam hati sanubari kebanyakan tentara Islam. Waktu itu oleh karena Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam mengerti bahwa daripada tentara banyak yang tergoda oleh syaitan, maka seketika itu beliau selalu memohon kepada ALLAH. Waktu tengah malam dengan sunyi senyap, sedangkan kebanyakan tentaranya tengah tidur nyenyak. Nabi selalu mengerjakan shalat dan membanyakkan permohonan kepada Tuhan. Hanya Tuhan sendirlah yang memberi pertolongan dengan sepenuh-penuhnya. Oleh sebab itu, waktu itu Tuhan lalu menurunkan air hujan dengan lebatnya, yang sebelumnya tidak seorangpun yang menyangka akan ada hujan dengan hebat.


Di waktu air hujan diturunkan dengan lebatnya, kebanyakan tentara Islam sedang tidur nyenyak, tetapi Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam terus memohon kepada ALLAH, dan berulang-ulang mengucapkan : ''Ya, Tuhan Yang Maha Hidup, ya Tuhan Yang Berdiri Sendiri !!!''


Demikian selanjutnya sampai datang waktu pagi.


Dengan, sebab air hujan yang sangat lebatnya, maka tentara Islam mendapat air yang sebanyak-banyaknya, lembah-lembah mengalirkan air, kolam-kolam penuh air, lalu masing-masing mandi, berwudlu dan lain-lain sebagainya, pasir yang ditempatinya menjadi lekat.


Dan diriwayatkan, bahwa sebelum Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam dan tentaranya mendapat air, maka beliau dengan diiringkan oleh tentaranya terburu-buru datang ke tempat sungai Badar. Setelah sampai di tempat itu, Nabi lalu berhenti dengan maksud, bahwa tempat itu akan dipergunakan menjadi tempat pertempuran dengan tentara Quraisy.


Ketika itu oleh seorang sahabat yang bernama Hubbab bin Al-Mundzir, Nabi ditanya : ''Ya Rasulullah, apakah pendapat tuan terhadap tempat pemberhentian ini ? Apakah tuan berhenti di tempat ini mengikuti wahyu Tuhan yang tiada akan kita berani mendahuluinya dan tiada pula kita berani membelakangkannya, ataukah menurut dari pendapat tuan sendiri dan daya upaya tuan sendiri ?''


Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda : ''Saya berhenti di tempat ini, hanya mengikuti kemauan saya sendiri dan daya upaya sendiri ?''


Sahabat Hubbab : ''Kalau begitu, Ya Rasulullah ! Saya usul, sudikah kiranya tuan pindah saja dari tempat ini. Karena sesungguhnya tempat ini bukan pemberhentian yang baik bagi kita. Maka sudikah kiranya tuan lekas pindah dari tempat ini bersama-sama ?''


Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam : ''Mengapa begitu, hai Hubbab ?''


Sahabat Hubbab : ''Ya, tiada lain seperti kata saya tadi.''


Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam : ''Ah, pendapat saya lebih baik kita berhenti di tempat ini daripada kita pindah lagi.''


Hubab : ''Ya Rasulullah jangan begitu ! Adapun jika tuan berhenti disini mengikut wahyu dari ALLAH, saya tidak akan usul begitu. Saya mengikut wahyu ALLAH.''


Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam : ''Kamu berkata begitu itupun dari pendapat kamu sendiri bukan ?''


Hubbab : ''Ya betul begitu, Ya Rasulullah ! Tetapi tuan harap mengerti, bahwa saya lebih tahu keadaan tempat ini dan keadaan tempat yang saya tunjukkan. Adapun tempat yang saya maksudkan, ialah tempat yang dekat mata air. Kalau kita disini tentu jauh dari tempat mata air, dan kaum Musyrikin yang dekat mata air nanti. Jika sekarang kita mendapat tempat yang dekat mata air, sudah barang tentu nanti kaum Quraisy berjauhan dari mata air, kita tidak akan kekurangan, dan mereka tantu kekuarangan air sebab mata air berdekatan dengan tempat kita di belakang lembah.... itu.''


Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam lalu berdiam dan seketika itu juga malaikat Jibril datang lalu mempermaklumkan kepada Nabi, bahwa pendapat yang benar adalah pendapat Hubbab. Oleh sebab itu, seketika itu juga Nabi bersama tentaranya lalu pindah dari tempat itu dan menuju ke tempat yang ditunjukkan oleh Hubbab. Kemudian dari pada itu, maka setelah sampai dan berhenti di tempat yang di tunjukkan oleh Hubbab, lalu disana tentara Islam membikin kolam-kolam dan diisi dengan air yang sebanyak-banyaknya.


Selanjutnya, ditempat tersebut sahabat Sa'ad bin Mu'adz mengemukakan pendapatnya di hadapan Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam ia berkata : ''Ya Rasulullah. Tidakkah lebih baik tuan kita bikinkan 'Arasy (tempat tinggal sementara untuk tempat tuan ? Dan kita menyediakan satu kendaraan buat tuan ? Maka jika nanti bertempur dengan musuh, tuan kita minta berada didalam arasy saja, dan kita bertempur dengan musuh kita. Jikalau Tuhan nanti memberi kemenangan kepada kita, dan kita dapat menghancurkan musuh kita itulah yang kita harapkan; dan jikalau kita kalah, tuan kita persilahkan kembali kepada orang-orang yang masih banyak ada di belakang kita, karena di belakang kita masih banyak orang yang terbelakang belum ikut berangkat kemari, Ya Rasulullah. Kecintaan kita kepada tuan tidak melebihi dari kecintaan mereka (orang-orang yang terbelakang) kepada tuan. Seumpama mereka menyangka, bahwa tuan akan berperang niscaya mereka tidak akan berpisah dari tuan. Tuhan menolong kepada tuan tentu dengan sebab mereka dan mereka sama berperang dengan musuh bersama-sama tuan.''


Demikianlah perkataan sahabat Sa'ad bin Muadz waktu itu, dan pendapat serta perkataan beliau yang sedemikian tadi oleh Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam diterima dengan girang lagi dipuji. Lalu seketika itu juga diperbuatlah suatu arasy dari pelepah pohon kurma di atas bukit yang tertampak dari medan peperangan. Maka setelah arasy dibuat dengan kuat dan kokoh, Nabi lalu dipersilahkan masuk kedalamnya, dan untanya diikat di belakang arasy, dan sahabat Abu Bakar sebagai kawan yang tercinta di ajak masuk bersama-sama oleh Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam


Iman Hijrah dan Jihad Blogspot.com : Perang Badar Al Kubra : Kekacauan Tentara Quraisy di tengah Jalan


Lebih jauh diriwayatkan : Bahwa di dalam perjalanan keadaan tentara Quraisy telah timbul kekacauan yang hebat, kekacauan itu dengan singkat riwayatnya sebagai berikut :


Bermula setelah angkatan perdagangan Quraisy yang dikepalai oleh Abu Sufyan telah dapat melepaskan diri pada kejaran tentara kaum Muslimin, maka ketika sampai di dusun Juhfah, lalu Abu Sufyan menyuruh seseorang supaya menyusul tentara Quraisy dan disuruh mengkabarkan kepada kepala-kepala tentara Quraisy, bahwa Abu Sufyan meminta supaya tentara Quraisy kembali saja, jangan sampai meneruskan perjalanannya, karena barang apa yang dijaganya telah dapat terlepas dari bahaya yang dikuatirkan. Tetapi permintaan Abu Sufyan yang seperti itu ditolak dengan kekerasan dan kesombongan oleh kepala pasukan tentara Quraisy, ialah Abu Jahal bin Hisyam sebagaiamana di atas telah kami riwayatkan.


Abu Sufyan telah menerima kabar penolakan Abu Jahal yang begitu sombong lagi congkak, lalu berkata :''Inilah orang yang melewati batas. Orang semacam itu, tentulah akan malang dan jatuh pada akhirnya.''. Demikian pendapat Abu Sufyan.


Kemudian daripada itu, perjalanan tentara Quraisy belum berapa jauh lagi, terjadi keonaran yang ramai.


Juhaim bin As Shalt, demikianlah nama seorang dari Bani Muthalib yang ikut menjadi tentara Quraisy, waktu tentara Quraisy masih berada di Juhfah. Maka ketika itu dengan sekonyong-konyong tertidurlah ia, dan tidak antara lama bangunlah ia dari tidurnya dengan terkejut, lalu berkata kepada kawannya : ''Saya baru bermimpi sebagaimana impian orang tidur. Saya sedang di antara tidur dan jaga, dalam mimpi itu saya dapat melihat seorang laki-laki yang berkendaraan kuda dan dia membawa seekor unta, lalu ia berhenti di muka saya. Apakah kamu melihat seperti apa yang telah saya lihat tadi ?''


Salah seorang teman Juhaim menjawab : ''Tidak.''


Juhaim lalu berkata dengan perlahan-lahan : ''Abu Jahal akan mati terbunuh, Utbah akan mati terbunuh, Syaibah akan mati terbunuh, Zam'ah akan mati terbunuh, dan ...... Fulan itu akan mati terbunuh, dan ...... Demikian seterusnya, mengatakan satu persatu kepala-kepala dan pemimpin-pemimpin Quraisy yang akan terbunuh.''


Kemudian ia mengatakan pula satu persatu orang dari tentara Quraisy yang akan tertawan, diantara lain yang dikatakan : ''Suhail bin Amr akan tertawan, Aqil Abi Thalib akan tertawan, Sa'id bin Ubaid akan tertawan.'' dan begitu seterusnya.


''Lalu orang tadi memukul untanya ke arah tengkuk lehernya sehingga mengeluarkan darah yang tidak sedikit, dan untanya lalu dilepaskan dari tangannya, dan dari sebab itu lalu berlari kesana kemari di tengah-tengah kepungan tentara Quraisy. Darah tadi mengenai kemah-kemah tentara Quraisy, sehingga tidak ada suatu kemah-kemah tentara Quraisy yang tidak terkena oleh darah.''


Kawan-kawan Juhaim yang mendengar perkataan Juhaim yang semacam itu lalu menyahut : ''Ah, itu omomg kosong. Semuanya itu pasti mimpi dari godaan syaitan semata-mata, lain tidak.''


Pendek kata waktu itu banyaklah kawan-kawan tentara Quraisy yang sangat mencela akan perkataan Juhaim tadi. Dan dari mulut satu ke mulut yang lain lalu sebentar saja apa yang dikatakan oleh Juhaim itu terdengar oleh Abu Jahal, Utbah dan lain-lainnya.


Abu Jahal setelah mendengar perkataan Juhaim seperti diatas tadi, lalu segera datang menemui Juhaim seraya berkata : ''Hai Juhaim, saya dengar katanya kamu mendatangkan kabar dusta kepada banyak orang. Hm.. Kamu akan tahu sendiri nanti, siapa yang akan mati terbunuh ? Siapa yang akan kucar-kacir ? Dan nanti pasti kamu akan melihat sendiri, siapa yang terbunuh, saya ataukah Muhammad.''


Selanjutnya Abu Jahal berkata kepada orang banyak : ''Ini Nabi baru ! Inilah Nabi lagi keluaran dari bani Muththalib.'' Demikianlah perkataan Abu Jahal dengan kesombongannya. Maka seketika itu dari sebab pengaruh Abu Jahal, pada waktu itu juga sebagian banyak dari tentara Quraisy lalu timbul kebenciannya kepada Juhaim bin As Shalt.


Kemudian daripada itu ketika itu timbul pula suatu kejadian yang hebat di tengah perjalanan tentara Quraisy.


Diantara tentara Quraisy pada waktu itu ada segolongan pasukan yang orang-orangnya terdiri dari kaum Bani Zuhrah yang dikepalai oleh seorang yang bernama Akhnas bin Syraiq, banyaknya 100 orang tentara.


Ketika itu Akhnas berperasaan, bahwa jika kita mengikut kemauan Abu Jahal, kita akan mendapati kerugian yang tidak sedikit. Ah, sekarang buat apa kita mengikut kemauan orang sombong ! Maka dari itu Akhnas mengumpulkan tentara dari kaumnya disuatu tempat yang kurang lebih 100 orang, lalu Akhnas berkata : '' Hai Bani Zuhrah ! Kini, oleh karena Tuhan telah menyelamatkan harta benda kita dan pemuka kita dari kejaran Muhammad, angkatan perdagangan kita yang dipimpin oleh Abu Sufyan telah sampai di Mekah, padahal keluar kita dari Mekah ini sengaja hendak menjaga keamanan angkatan perdagangan kita dan memelihara diri Makhramah bin Naufal. Tetapi dari sebab sekarang telah selamat semuanya, maka lebih baik kita kembali (pulang) saja, sebab sudah tidak berguna lagi bagi kita meneruskan perjalanan ini, dan akan sia-sia jika kita sampai bertempur dengan Muhammad.''


Akhnas memang seorang pemimpin dari Bani Zuhrah, maka sudah barang tentu semua perkataannya diikuti oleh kaumnya. Abu Jahal setelah mendengar hasutan Akhnas kepada kaumnya tadi, lalu marah-marah dan murka kepada Akhnas. Lalu antara lain Abu Jahal berkata kepadanya : ''Mengapa kamu berani berkata kalau sampai kejadian bertempur dengan Muhammad, kamu anggap sia-sia?''


Akhnas menjawab : ''Ya, sudah barang tentu, kita masing-masing keluar dari Mekah ini tidak untuk bertempur dengan Muhammad dan kaumnya, bukan ? Tetapi hendak menjaga angkatan perdagangan kita, maka dari itu apa gunanya kita bertempur dengan Muhammad !''


Abu Jahal berkata : ''Meskipun begitu, apakah kamu tidak mengerti, bahwa Muhammad itu seorang pendusta besar, penyesat kepada orang banyak dan penipu yang licin ?''


Akhnas berkata : ''Saya mengerti. Tetapi pengertian saya tidak seperti pengertian kamu. Saya mengerti bahwa Muhammad itu seorang yang terpercaya. Dia dari sejak kecil sudah terkenal dengan nama ''Al Amin'' bukan ''Al Khain, bukan !''


Kemudian Abu Jahal dan Akhnas bertengkar mulut, dan makin lama makin ramai, lalu Akhnas mengundurkan diri. Dan akhirnya si Akhnas lalu menarik diri dari barisan Quraisy bersama kaumnya, kemudian terus berjalan kembali ke Mekah. Jadi dalam peperangan di Badar, tidak ada seorangpun dari Bani Zuhrah yang ikut serta berperang.


Demikian riwayat singkat kekacauan tentara Quraisy di tengah perjalanan ketika hendak berperang di Badar. Timbulnya kekacauan-kekacauan tadi sudah menjadi tanda-tanda akan jatuhnya dan kalahnya tentara Quraisy ketika hendak bertempur dengan tentara Islam.


Artikel Post terkait :

Perang Badar Al-Kubra : Awal Mula kejadian perang di Badar

Perang Badar Al-Kubra : Angkatan Perang Tentara Kaum Musyrikin

Perang Badar Al-Kubra : Keberangkatan Nabi Muhammad Shallallahu'Alaihi wa Sallam menuju ke Badar.


Walhamdulillahi Rabbil'alamin

Thursday, April 26, 2012

Iman Hijrah dan Jihad Blogspot.com : Perang Badar Al-Kubra : Keberangkatan Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam menuju ke Badar.

Fat1hah.gif


Perang Bada Al-Kubra : Keberangkatan Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam menuju ke Badar.


IMAN HIJRAH DAN JIHAD BLOGSPOT.COM


Kemudian dari pada itu, Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam lalu bersabda :

''Berjalanlah kamu dan bergiranglah, karena sesungguhnya ALLAH Yang Maha Tinggi telah memberikan janji kepadaku salah satu dari dua golongan (pasukan). Demi ALLAH, sungguh aku seakan-akan sekarang ini melihat kepada tempat kebinasaan (kekalahan kaum Quraisy).''


Yang dimaksud dengan kata ''dua pasukan'' dalam sabda Nabi itu ialah dua pasukan sebagai yang tersebut dalam surat Al Anfaal ayat 7. Yakni, pasukan Al-Ier dan pasukan An-Nafier. Pasukan Al-Ier ialah pasukan angkatan perdagangan Quraisy yang dikepalai oleh Abu Sufyan dan Pasukan An-Nafier ialah angkatan perang tentara Qurasiy yang dipimpin oleh Abu Jahal. Adapun yang dikehendaki Al Anfaal ayat 7 diatas dijelaskan oleh Nabi, ialah janji ALLAH yang diberkan kepada kaum Muslimin angkatan qafilah bersejata supaya diperangi, dan dengan demikian itu kaum Muslimin akan memperoleh kemenangan besar dan dapat menghancurbinasakan tentara kaum Kafirin Quraisy.


Berdasarkan perintah Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam yang sedemikian itu, segenap kaum Muslimin yang ikut serta di dalam perjalanan pada waktu itu dengan tulus ikhlas, berangkatlah menuju ke tempat yang dituju oleh Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam ; dan dalam pada itu mereka masing-masing selalu ta'at dan patuh kepada apa yang diperintahkan oleh Nabi, dengan melupakan segala sesuatu yang menjadi kepentingan mereka sendiri.


Segenap perhatian Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam dikala itu hanya ditujukan kepada fihak lawan yang akan dihadapinya, sambil berserah diri kepada ALLAH jua, mengingat bunyi wahyu yang baru diturunkanNya kepadanya, sebagai yang tersebut diatas.


Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam dan tentaranya lalu berangkat menuju ke Badar. Selanjutnya setelah perjalanan sampai disuatu tempat, ditengah jalan Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bertemu dengan seorang tua dari bangsa Arab dan ketika itu Nabi lalu bertanya, tentang halnya kaum Quraisy dan tentang halnya Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam dan tentaranya, dan kabar apa yang sampai kepadanya tentang halnya dua golongan tadi.


Seorang Arab tadi berkata : ''Saya tidak akan mengkabari kepadamu berdua (yang dituju ialah Nabi dan Abu Bakar), kecuali jika kamu berdua mengkabarkan kepadaku : ''Siapakah kamu berdua itu.''


Nabi Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam menjawab : ''Oh, jangan begitu ! Sebaiknya kamu memberi kabar lebih dulu kepada kami, nanti kami memberi kabar kepadamu.''


Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam menjawab : ''Ya, tentu begitulah sebaiknya.''


Orang Arab : ''Telah sampai kepadaku kabar, bahwasanya Muhammad dan tentaranya ke luar dari Madinah pada hari ini tanggal sekian; maka jika benar kabar itu, dari orang yang mengkabari kepadaku, maka mereka itu sudah pasti hari ini telah sampai di tempat ini dan ini (waktu yang dituju ialah tempat yang sedang Nabi berada). Dan telah sampai kepadaku suatu kabar, bahwasanya kaum Quraisy telah keluar dari Mekah pada hari ini dan tanggal sekian; maka jikalau benar kabar itu, tentu hari ini mereka telah sampai di tempat desa ini dan ini. Cwaktu itu yang ditunjuk ialah tempat yang sedang kaum Quraisy berada).


Maka setelah sampai selesai percakapan, Nabi dan Abu Bakar ditanya olehnya : [/color]''Nah sekarang dari manakah kamu berdua ?''[/color]


Nabi menjawab : ''Kita dari air.''


Nabi menjawab seperti ini sambil jari penunjuknya ditujukan ke suatu penjuru ke sebelah negeri Iraq. Maka orang Arab tadi lalu berkata : Apakah kamu berdua dari negeri Iraq ?''


Nabi hanya menjawab : ''Ya.''


Pada hal yang dimaksud oleh Nabi dengan perkataan air itu bukanlah air biasa; tetapi air asal kejadian manusia, ialah air nutfah. Akan tetapi orang Arab itu tua tadi tidak mengerti yang dimaksud oleh Nabi tadi; adapun nama orang tadi ialah Sufyan Adh-Dhamry.


Demikianlah sedikit dari pada kebijaksanaan Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam sehingga orang tadi menerima segala apa yang dikatakan oleh Nabi. Kemudian Nabi kembal kepada tentaranya; maka pada sore harinya beliau lalu menyuruh kepada sahabat-sahabat Ali bin Abi Thalib, Zubair bin Al Awwam, Sa'ad bin Abi Waqqash supaya pergi ke tempat yang berdekatan dengan sungai desa Badar, untuk mencari dan menyelidiki kabar-kabar kedatangan kaum Quraisy.


Beliay-beliau itu setelah sampai di tempat yang dituju, tiba-tiba bertemu dengan binatang-binatang kepunyaan kaum Quraisy yang sedang minum di tempat air tadi bersama penggembalanya tiga orang budak belian yaitu dari Bani Hajjaj yang bernama Aslam, dari Bani Ash yang bernama Yasar, dan dari bani Umayyah yang bernama Abu Rafi'. Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam ketika menyuruh tiga orang sahabat tadi sesungguhnya memang dengan di amat-amati sendiri dari belakang. Maka ketika sahabat tadi setelah bertemu dengan ketiga orang budak tersebut lalu bertanya : ''Heh, kamu menggembala dan memberi minum binatang-binatang itu disuruh oleh siapa ?''


Budak-budak tadi lalu menjawab : ''Kita disuruh oleh kaum Quraisy, dan kita tukang mengambil air buat minum mereka yang menyuruh kita. Mereka menyuruh kita disini, supaya kita mengambil air buat minum mereka dan binatang-binatang mereka.''


Tiga sahabat tadi setelah mendengar jawaban yang sedemikian itu, lalu tampak tidak senang, karena beliau-beliau berkehendak supaya mereka mengaku suruhan dari angkatan perdagangan yang dikepalai oleh Abu Sufyan yang sedang dicari oleh kaum Muslimin, sebab itu mereka lalu di labrak oleh tiga sahabat suruhan Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam tadi.


Diriwayatkan, bahwa ketika itu Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam sedang mengerjakan shalat, maka setelah ketiga budak tadi merasakan sakit, lalu masing-masing pura-pura mengaku menjadi suruhan Abu Sufyan, dengan sebab itu lalu masing-masing di lepaskan dan ditinggalkan. Kemudian setelah selesai Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam mengerjakan shalat, lalu memanggil tiga orang sahabat yang disuruh tadi. Maka sesudah masing-masing datang menghadap, lalu Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam berkata :

''Mengapa kamu mengerjakan begitu, mengapa kamu beri labrakan kepada mereka itu ? Mereka (budak-budak) ketika berkata benar, kamu pukul, dan ketika berdusta padamu, lalu kamu lepaskan dan kamu tinggalkan. Demi ALLAH sesungguhnya mereka itu adalah suruhan kaum Quraisy. Cobalah mereka itu kamu panggil sebentar, agar supaya mereka mengkabari kepadaku tentang halnya kaum Quraisy.''


Setelah mereka dipanggil dihadapan Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam lalu diatanya oleh Nabi tentang hal adanya kaum Quraisy. Mereka lalu menjawab : ''Demi ALLAH, keadaan kaum Quraisy ada di belakang jurang ini ...., dan disebelah itu dan ini.''


Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam lalu bertanya lagi : ''Berapa banyak jumlah kaum Quraisy yang datang ?''


Mereka menjawab : ''Banyak.''

Nabi : ''Berapa banyak bilangannya ?''

Mereka : ''Kita tidak tahu.''

Nabi : ''Berapa ekor kambing yang dipotong (disembelih) pada tiap-tiap hari oleh mereka ?''

Mereka : Tiap-tiap hari memotong kambing 9 ekor dan kadang-kadang 10 ekor.''


Nabi : Nah, kalau betul begitu, sudah barang tentu mereka ada di antara 900 dan 1000 orang banyaknya. Dan siapakah dari antara pemimpin-pemimpin dan ketua-ketua Quraisy yang ikut serta berangkat ?''


Mereka : ''Pemimpin-pemimpin dan ketua-ketua Quraisy yang berangkat mengepalai pasukan ialah : Utabah bin Rabi'ah, Abul Bakhtary bin Hisyam, Hakim bin Hizam, Naufal bin Khuwailid, Harts bin Amir, Thu'aimah bin Adi, Nadlar bin Harits, Zam'ah bin Aswad, Abu Jahal bin Hisyam, Umayyah bin Khalaf, Nabih bin Al Hajjaj, Suhail bin Amr, Munnabih bin Hajjaj dan Amr bin Abdu Wad.''


Kemudian mereka disuruh kembali oleh Nabi, dan Nabi kembali ke tempat tentaranya, lalu berdiri di muka tentaranya sambil bersabda :

''Inilah Mekah, sungguh telah bertemu kepadamu sekalian sepotong (dari) jantung hatinya.''


Sabda Nabi ini berarti : Bahwa di dalam perjalanan keadaan tentara Quraisy dari Mekah akan bertempur dengan kaum Muslimin


Artikel Post terkait :

Perang Badar Al-Kubra : Awal Mula kejadian perang di Badar

Perang Badar Al-Kubra : Angkatan Perang Tentara Kaum Musyrikin

Perang Badar Al-Kubra : Nabi Muhammad Shallallahu'Alaihi wa Sallam Mengadakan Permusyawaratan


Walhamdulillahi Rabbil'alamin

Iman Hijrah dan Jihad Blogspot.com : Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam Mengadakan Permusyawaratan.

Fat1hah.gif


Perang Badar Al-Kubra : Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam Mengadakan Permusyawaratan


DUA JALAN HIDUP ABADI[/align]


Setelah Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam menerima kabar, bahwa tentara Quraisy dari Mekah telah bersiap dan menantang kaum Muslimin dengan menunjukkan berbagai-bagai kesombongan dan kecongkakannya, maka Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam dengan segera lalu mengadakan permusyawaratan bersama pahlawan-pahlawan tentaranya. Karena waktu itu Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam merasa kawatir, kalau-kalau nanti setelah kejadian tentaranya bertempur dengan tentara Quraisy lalu tentaranya mengundurkan diri. Nabi mengingat, bahwa awal mulanya berangkat dari Madinah, hendak mengejar seperangkatan unta yang memuat perdagangan kaum Quraisy yang dikepalai oleh Abu Sufyan, sedangkan seperangkatan unta tadi telah berjalan, sebab itu dalam hati Nabi timbul perasaan kalau-kalau sebagian dari tentaranya tidak suka bertempur dengan tentara Quraisy. Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam juga tahu, bahasa diantara tentara Islam sudah tentu ada yang berperasaan :

1. Angkatan unta yang dikejar sudah lewat (berjalan);

2. Pasukan tentara Quraisy bergitu besar, boleh dikata tiga kali lipat dari tentara Islam, dan alat perangpun tentu lebih lengkap dari pada alat-alat tentara Islam, dan begitupun tentang kepandaian berperang, karena mereka itu sudah biasa berperang. Maka dari itu sebelum terjadi sesuatu apa di kalangan tentara Islam, dengan kebijaksanaan sebagai seorang Nabi dan pesuruh Tuhan, lalu Nabi ketika itu juga mengadakan permusyawaratan bersama pahlawan-pahlawan tentaranya. Permusyawaratan setelah dibuka dan bwrlangsung dipimpin oleh Nabi, lalu Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda :

''Sesungguhnya kaum Quraisy telah keluar dari Mekah dengan bersusah payah dan dengan secapat-cepatnya, maka dari itu apa katamu sekalian (sekarang)? Mana yang lebih kamu sukai, angkatan perdagangan Quuraisykah, atau pasukan tentara Quraisykah?''


Waktu itu sebagian pahlawan-pahlawan Islam kaum Muslimina berkata kepada Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam :

''Ya, angkatan perdagangan Quraisy yang lebih kita sukai dari pada bertempur dengan musuh.''


Ada pula yang berkata :

''Ya Rasulullah, lebih baik atas tuan (mengejar) perdagangan Quraisy saja, dan tinggalkanlah musuh.''


Dan ada pula yang berkata :

''Mengapa tuan menyebut akan perang kepada kita, sehingga kita takut kepadanya? Sesungguhnya kita keluar (Madinah ini) karena mengejar angkatan perdagangan, bukan karena perang.''


Dengan ini nyatalah perasaan Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam yang tersebuat diatas. Maka saat itu juga berubahlah rupa muka Nabi, dan tertampaklah kegundahan dan kesusahan Nabi itu.


Waktu itu lalu lalu sahabat Abu Bakar berkata :

''Ya Rasulullah, lebih baik bagi kita bertempur dengan musuh.''


Sahabat Umar setelah mendengar perkataan Abu Bakar lalu berkata :

''Ya Rasulullah memang lebih baik bagi kita bertempur dengan musuh.''


Sekalipun demikian, waktu itu ada pula seorang sahabat yang berkata :

''Tidak, demi ALLAH ! Bagi kita tidak ada kekuatan akan berperang kepada kaum (Quraisy). Tidak lain kita keluar ini melainkan karena angkatan perdagangan Quraisy.''


Pada waktu itu sahabat Migdad bin Al Aswad berdiri lalu berkata :

''Ya Rasulullah, teruskanlah pada barang apa yang ALLAH telah perintahkan pada tuan ! Maka kita beserta tuan. Demi ALLAH, kita tidak akan berkata kepada tuan seperti perkataan Bani Israil kepada Nabi Musa (pada zaman dahulu) : Pergilah engkau bersama Tuhanmu maka berperanglah engkau berdua, kita sesungguhnya akan duduk santai disini saja''. Akan tetapi, kita berkata kepada tuan (sekarang) : ''Pergilah tuan bersama TUHAN tuan ! Dan berperanglah tuan bersama TUHAN tuan ! Kita sesungguhnya beserta tuan dan TUHAN ! Kita ikut berperang ! Demi ALLAH, jikalau tuan berjalan dengan kita sampai ke desa Barkul Ghamad, niscaya kita berjuang bersama tuan daripada lainnya. Kita akan berperang dari sebelah kanan kiri tuan, dan di antara hadapan tuan dan belakang tuan.''


Waktu itu Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam lalu menengok dan melihat pada muka sahabat Sa'ad Mu'adz (seorang pimpinan dari sahabat Anshar) sebab itu dengan sekejap sahabat Sa'ad lalu berdiri dan berkata :

''Barangkali tuan berkehendak kita golongan Anshar, Ya Rasulullah ?''


Nabi bersabda : ''Ya, tentu !''


Sahabat Mu'adz berkata :

''Ya Rasulullah, sesungguhnya kita telah percaya kepada tuan dan kita telah membenarkan tuan, dan kita telah meyakinkan, bahwa sesungguhnya segala apa yang tuan datangkan itu benar, dan kita telah mengaturkan yang sedemikian itu dengan perjanjian kita dan sekokoh-kokoh perjanjian kita, ialah kita selalu mendengar dan mengikut. Barangkali tuan kawatir ya Rasulullah, jika kaum Anshar itu ada tuan pandang tidak akan menolong tuan, melainkan di negeri mereka sendiri, itu tidak ! Demi sesungguhnya saya berkata ini atas nama kaum Anshar dan aku menjawab dari atas (nama) mereka. Maka dari itu lanjutkanlah barang apa yang tuan kehendaki, dan selamatkanlah orang yang tuan kehendaki, dan sambunglah tali orang yang tuan kehendaki, dan musuhilah orang yang tuan kehendaki, dan ambillah harta benda kita mana yang tuan kehendaki, dan barang apa yang tuan ambil itu lebih kita sukai daripada barang yang tuan tinggalkan, dan barang apa yang telah tuan perintahkan dari suatu perkara, maka kita mengikut pada perintah tuan. Maka dari itu teruskanlah Ya Rasulullah, kepada segala apa yang tuan kehendaki, kita selalu bersama tuan !''


Di lain riwayat Sa'ad mengakhiri katanya di kala itu dengan kata-kata yang tegas yang berbunyi sebagai berikut :

''Demi dzat yang telah mengutus engkau, jika sekiranya tuan membawa kami ke laut, lalu tuan mengarunginya, niscaya kami ikut mengarunginya bersama tuan, dan tidak akan ada seorangpun daripada kami yang ketinggalan, dan kami tidak akan segan-segan bahwa tuan bertemu dengan musuh-musuh kami esok hari. Sesungguhnya kamilah orang-orang yang amat tahan dalam peperangan serta sangat setia dalam bertempur. Semoga ALLAH memperlihatkan kepada tuan apa-apa yang menyenangkan mata penglihatan tuan dari kami. Oleh sebab itu, maka marilah berjalan bersama dengan barakah ALLAH.''


Selanjutnya, setelah dari sahabat Muhajirin dan sahabat Anshar ada yang berkata demikian, maka waktu itu sebagian besar dari pahlawan-pahlawan tentara Islam lalu berkata :

''Ya Rasulullah kita tidak akan berkata kepada tuan seperti perkataan kaum Bani Israil, tetapi kita berkata :''Pergilah tuan bersama TUHAN tuan, maka berperanglah tuan berdua, sesungguhnya kita bersama tuan, selalu mengikut.''


Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam setelah mendengar suara dari perkataan pahlawan-pahlawan tentaranya seperti diatas, maka seketika itu juga bercahayalah wajah muka Nabi seraya tertampak kegirangannya, dan pada saat itu juga ALLAH menurunkan wahyu kepada Nabi yang bunyinya demikian :


a005.png


sp1.gifDENGARKAN


kam aa akhrajaka rabbuka min baytika bi a l h aqqi wa-inna fariiqan mina a lmu/miniina lak aa rihuun a


5. Sebagaimana Tuhanmu menyuruhmu pergi dan rumahmu dengan kebenaran, padahal sesungguhnya sebagian dari orang-orang yang beriman itu tidak menyukainya


[596]Maksudnya: Menurut Al Maraghi: Sebagaimana Allah menyuruhnya pergi dari rumah (di Madinah) untuk berperang ke Badar dengan kebenaran pula. Menurut Ath-Thabari: Keluar dari rumah dengan maksud berperang.


a006.png


sp1.gifDENGARKAN


yuj aa diluunaka fii a l h aqqi ba'da m aa tabayyana ka-annam aa yus aa quuna il aa a lmawti wahum yan zh uruun a


6. mereka membantahmu tentang kebenaran sesudah nyata (bahwa mereka pasti menang), seolah-olah mereka dihalau kepada kematian, sedang mereka melihat (sebab-sebab kematian itu).


a007.png


sp1.gifDENGARKAN


wa-i dz ya'idukumu al l aa hu i h d aa al ththaa -ifatayni annah aa lakum watawadduuna anna ghayra dzaa ti al sysyawkati takuunu lakum wayuriidu al l aa hu an yu h iqqa a l h aqqa bikalim aa tihi wayaq th a'a d aa bira a lk aa firiin a


7. Dan (ingatlah), ketika Allah menjanjikan kepadamu bahwa salah satu dari dua golongan (yang kamu hadapi) adalah untukmu, sedang kamu menginginkan bahwa yang tidak mempunyai kekekuatan senjatalah [597] yang untukmu, dan Allah menghendaki untuk membenarkan yang benar dengan ayat-ayat-Nya dan memusnahkan orang-orang kafir,


[597] Maksudnya kafilah Abu Sofyan yang membawa dagangan dari Siria. Sedangkan kelompok yang datang dari Mekkah di bawah pimpinan Utbah bin Rabi'ah bersama Abu Jahal.


Al Qur'an surat Al Anfal ayat 5-7


Demikianlah singkatnya riwayat permusyawaratan yang diadakan oleh Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam ketika hendak berperang di Badar.


[align=center]Artikel Post terkait :

Perang Badar Al-Kubra : Awal Mula kejadian perang di Badar

Perang Badar Al-Kubra : Angkatan Perang Tentara Kaum Musyrikin


Walhamdulillahi Rabbil'alamin