Wednesday, February 15, 2012

Iman Hijrah dan Jihad : Riwayat permulaan adzan dan iqamat

Sebelum Nabi Muhammad s.a.w. berhijrah ke Madinah, ALLAH telah memerintahkan kepada beliaudan umatnya supaya mengerjakan shalat pada tiap-tiap sehari semalam lima kali, dalam lima waktu yang telah di tetapkan. Maka shalat itu selain untuk menuntut kaum Muslimin selalu pada setiap saat ingat akan kebesaran ALLAH dan kekuasaanya, dengan tujuan supaya mereka menjadi manusia yang utama, juga untuk membimbing kaum Muslimin supaya menjadi umat yang bersatu, seia dan sekata. Maka oleh sebab itu Nabi Muhammad memberikan pimpinan kepada para pengikutnya supaya mereka mengerjakan shalat itu bersama-sama (berjama'ah), dengan demikian itu supaya persatuan dan rasa persaudaraan kaum Muslimin makin meresap dan mendalam, satu sama lain dapat mengetahui hajat mereka masing-masing, dan berkeyakinan bahwa yang mereka tuju itu tunggal, tidak ada perbedaan di antara si kaya dan si miskin, si kuat dan si lemah, si hitam dengan si putih dan seterusnya, dan masing-masing mengaku menjadi hamba ALLAH Yang Maha Esa.

Pada waktu itu berhubung jumlah Muslimin sudah banyak adalah sukar dan susah bagi Nabi hendak mengumpulkan mereka pada tiap-tiap datang waktu shalat. Oleh karena itu Nabi lalu bermusywarah dengan sahabat-sahabat beliau yang terpandang untuk merundingkan bagaimana cara yang termudah dan teringan untuk mengumpulkan kaum Muslimin di masjid pada tiap-tiap datang waktu shalat. Waktu itu ada seorang di antara mereka mengemukakan pendapatnya, ialah bahwa untuk tanda telah tiba waktu shalat cukup dengan menaikkan dan mengibarkan bendera. Seorang lainnya berpendapat dengan menyalakan api. Seorang lainnya berpendapat dengan meniup terompet. Ada pula yang berpendapat dengan memukul genta (lonceng). Kemudian ada pula yang berpendapat bahwa untyk memanggil shalat cukup dengan menetapkan seorang untuk berseru-seru : ''As-Shalat!'' Nabi menyetujui yang terakhir ini. Adapun nama sahabat yang berpendapat itu ialah 'Umar bin Khaththab r.a. Ketika itu Nabi bersabda kepada sahabat Bilal :
''Ya Bilaal, qum fanaadi bishshalah.''
''Hai Bilal, bangunlah, maka panggilah dengan Ash-Shalah!''

Oleh sebab tiba waktu shalat, sahabat Bilal berseru-seru :
''Ash-Shalatu Jaamiah! Ash-Salatu Jaamiah!''
''Shalat bersama-sama! Shalat bersama-sama!''

Kemudian pada suatu malam sahabat 'Abdullah bin Zaid di antara tidur dan jaga, tiba-tiba terlihatlah olehnya ada seorang laki-laki memakai dua pakaian yang serba hijau sambil berkeliling di kanan kirinya dan tangannya membawa sebuah genta. Sahabat 'Abdullah bertanya kepada orang itu :

''Hai hamba ALLAH ! Apakah engkau hendak menjual genta itu ?''

Orang itu menyahut : ''Apakah yang akan kau perbuat dengannya ?''

Sahabat 'Abdullah menjawab : ''Akan kaami pergunakan untuk memanggil shalat.''

Orang itu berkata : ''Maukah engkau saya perlihatkan kepada yang lebih baik dari pada itu?''

Sahabat 'Abdullah menjawab : ''Baiklah. Coba tunjukkan!''

Orang itu berkata : ''Berserulah engkau dengan ucapan :

''Allahu Akbar Allahu Akbar Allahu Akbar Allahu Akbar.
Asyhadu alla-ilaha illallah, Asyhadu alla-illaha illallah.
Asyhadu anna Muhammadar-rasulullah, Asyhadu anna Muhammadar-rasulullah. Hayya 'alash-shalah Hayya 'alash-shalah, Hayya 'alal-falah Hayya 'alal-falah. Allahu Akbar Allahu Akbar. La ilaha illallah.''

Kemudian orang itu mengundurkan diri ke tempat yang tidak seberapa jauh dari tempat semula, lalu ia berkata kepada 'Abdullah bin Zaid : Bila engkau hendak berdiri shalat, maka ucapkanlah :

''Allahu Akbar Allahu Akbar. Asyhadu alla-ilaha illallah. Asyhadu anna Muhammadar-rasulullah. Hayya 'alash-shalah. Hayya 'alal-falah. Qad qamatish-shalah Qad qamatish-shalah. Allahu Akbar Allahu Akbar. La ilaha illallah.''

Keesokkan harinya sahabat 'Abdullah bin Zaid menghadap kepada Nabi Muhmmad s.a.w. dan mengabarkan kepada beliau tentang mimpinya itu. Setelah Nabi Muhammad s.a.w. mendengar segala apa yang di katakan oleh 'Abdullah bin Zaid kepada beliau, beliaupun bersabda :

''Inna hadzihi ru'ya haq.''
''Bahwasanya mimpi itu benar, Insya ALLAH.''

''Faqum ma'a bilal, fainnahu anda wa amaddu shatan minka falqi 'alaihi maqila laka walyunan di bidzalik.''
''Maka berdirilah (pergilah) engkau kepada Bilal, keran Bilal itu suaranya lebih tinggi dan lebih panjang, lalu ajarlah Bilal akan segala apa yang telah di ucapka orang itu kepadamu; dan hendaklah Bilal memanggil orang bershalat dengan sedemikian itu!''

Sahabat 'Abdullah lalu mendapatkan sahabat Bilal dan mengajarkannya kepada Bilal adzan dan iqamat tersebut.

Kemudian setelah datang waktu shalat, sahabat Bilal memanggil orang bershalat dengan mengucapkan adzan dan qamat tersebut. Mendengar suara adzan sahabat Bilal itu, 'Umat bin Kaththab r.a. Datang dengan sangat tegopoh-gopoh sambil menguraikan kainnya mendapatkan Nabi Muhammad s.a.w. lalu berkata :
''Ya Rasulullah walladzi ba'atsaka bilhaq, laqad ra aitu mitslal-ladzi qala.''
''Ya Rasulullah demi Dzat yang telah mengutus engkau dengan benar, sungguh semalam saya telah bermimpi sebagaimana yang di ucapkan Bilal.''

Nabi bersabda :
''Falillahil-hamdu fadzalika atsbat.''
''Maka semua puji bagi ALLAH, maka yang sedemikian itulah yang lebih tetap.''

Demikianlah singkatnya riwayat asal mula adzan dan qamat di dalam Islam, yang hingga kini masih dikerjakan oleh seluruh umat Islam di seluruh dunia.

Kemudian diriwayatkan dalam kitab tarikh dan kitan hadits bahwa setelah berlaku tiap-tiap waktu shalat sahabat Bilal berdiri mengucapkan adzan dan qamat beberapa hari kemudian pada adzan di waktu subuh sahabat Bilal menambahkan pada adzan itu ucapan :
''Ashalatu khairu minan-naum ashalatu khairu minan-naum.''

Mendengar ucapan Bilal itu Nabi Muhammad lalu menetapkan kebaikkannya. Tetapi beliau tidak memperkenankan ucapan itu di ucapkan tiap-tiap adzan di waktu shalat yang selain shalat subuh. Hal inipun hingga kini masih tetap di kerjakan oleh kaum Muslim seumumnya.

Reaksi:

0 komentar:

Post a Comment

Berkomentarlah dengan santun